RADARBANYUWANGI - Film horor Indonesia kembali menyapa penggemarnya lewat kisah yang tak hanya menyeramkan, tapi juga dekat dengan pengalaman banyak orang. Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu, film besutan Guntur Soeharjanto yang dirilis pada 15 Agustus 2024, menjadi salah satu karya yang mengangkat urban legend lokal dengan sentuhan sinematik yang menegangkan.
Diangkat dari kisah viral yang sempat ramai di forum-forum kampus dan media sosial pada 2016, film ini membungkus cerita mistis seorang dosen misterius dengan balutan horor kampus yang relatable.
Cerita dimulai dari empat mahasiswa. Amelia (Ersya Aurelia), Emir (Rayn Wijaya), Maya (Annette Edoarda), dan Fattah (Endy Arfian) yang harus mengikuti kelas pengganti akibat gagal dalam salah satu mata kuliah.
Kelas tersebut digelar pada malam hari, dipandu oleh seorang dosen senior bernama Pak Bakti (Egy Fedly). Dari sinilah suasana mencekam mulai terbangun. Tak hanya galak, Pak Bakti menunjukkan tanda-tanda ganjil.
Mulai dari cara berjalan, sikapnya yang aneh, hingga fakta bahwa dia tidak menapakkan kaki ke lantai. Teror pun semakin menjadi, menyelimuti kampus yang sebelumnya terasa akrab menjadi penuh aura mistis.
Meski awal penayangannya di bioskop tidak begitu gemilang dengan jumlah penonton tak sampai menembus 500 ribu dalam 25 hari, popularitas film ini justru melonjak drastis setelah dirilis di platform streaming Netflix pada Januari 2025. Di sinilah film ini menunjukkan taringnya.
Dengan cepat, Dosen Ghaib masuk dalam jajaran film horor terpopuler di kategori Indonesia, bahkan menarik perhatian penonton mancanegara yang menyukai film dengan nuansa horor lokal.
Peningkatan minat terhadap film ini juga terlihat dari lonjakan pencarian di Google dan media sosial. Kata kunci seperti “film Dosen Ghaib Netflix”, “kisah nyata dosen ghaib”, hingga “review Dosen Ghaib” banyak dicari pengguna internet.
Hal ini membuktikan bahwa adaptasi dari cerita viral masih memiliki daya tarik tinggi, asalkan dikemas dengan tepat dan dipasarkan secara cerdas melalui kanal digital seperti platform OTT.
Namun demikian, dari sisi kualitas, film ini mendapatkan respons yang cukup beragam. Di situs IMDb, Dosen Ghaib meraih skor 4,1 dari 10.
Banyak yang mengapresiasi atmosfer horor dan premis ceritanya yang unik, namun tak sedikit pula yang menyoroti kekurangan pada sisi pengembangan karakter dan logika cerita.
Terlepas dari itu, film ini tetap memiliki nilai lebih berkat keberaniannya mengangkat kisah lokal yang sudah lebih dulu melekat di benak publik.
Menariknya, latar dunia kampus yang digunakan dalam film ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Banyak mahasiswa atau alumni yang mengaku pernah mengalami atau mendengar cerita-cerita menyeramkan saat kuliah malam, membuat Dosen Ghaib terasa lebih nyata dan personal. Hal ini menjadi salah satu kekuatan film yang membuat penonton terhubung secara emosional, meski jalan ceritanya bersifat fiktif.
Secara keseluruhan, Dosen Ghaib adalah tontonan yang patut dicoba, terutama bagi penggemar horor Indonesia yang rindu akan cerita-cerita misteri lokal yang mengandung unsur nostalgia dan budaya kampus.
Film ini membuktikan bahwa kisah-kisah urban legend tak pernah kehilangan pesonanya, terlebih ketika disajikan dengan atmosfer mencekam dan latar yang begitu familiar.
Meski tidak sempurna, film ini menjadi bukti bahwa horor Indonesia terus berevolusi dan berani menggali cerita dari akar budaya serta pengalaman masyarakat.