RADARBANYUWANGI.ID - Nama Pasar Kedonganan di Kabupaten Badung, Bali, cukup terkenal sebagai penghasil ikan segar dan kuliner seafood.
Tapi, siapa sangka, lebih dari 500 orang yang beraktivitas di sana adalah warga suku Oseng yang masih ber-KTP Banyuwangi.
Lampu-lampu dari pinggiran Pantai Kedonganan mulai menyala petang itu. Kerlip cahaya bohlam menjadi penanda aktivitas pasar ikan yang ramai di malam hari telah dimulai. Kotak-kotak ikan dipindahkan para pemanol dari perahu nelayan yang berada di tepian pantai.
Beberapa pedagang yang sudah siap langsung menggelar ikan-ikan segar di hadapan mereka.
”Ayo-ayo, ikan segar, tongkol murah! Sepuluh ribu sekilo!” teriak seorang pedagang perempuan.
Perlahan, pembeli mulai berdatangan. Tak cuma warga lokal, wisatawan asing juga ikut masuk.
Mereka tampak antusias memilih ikan-ikan segar. Di tengah kondisi hiruk-pikuk, terdengar bahasa yang familier bagi orang Banyuwangi, yaitu bahasa Oseng.
Beberapa pedagang terdengar menggunakan dialek Oseng untuk berkomunikasi.
Tak cuma antarpenjual ikan, mulai pemanol, penjual kopi, tukang bakar ikan, hingga nelayan, mereka menggunakan bahasa Oseng untuk berkoordinasi antara satu dan lainnya.
Rupanya, memang ada cukup banyak warga Banyuwangi, terutama suku Oseng, yang beraktivitas di sana.
”Jumlahnya ada lebih dari 500 orang di sini. Semua orang Banyuwangi, mulai dari Rogojampi, Genteng, Pakistaji, Muncar, Licin, Jelun, banyak,” ujar Nurahmat, 55, salah seorang warga Rogojampi yang tinggal di Kedonganan.
Rahmat boleh dibilang bukan orang biasa, terutama bagi warga di Pantai Kedonganan.
Pria yang dikenal dengan nama Haji Amat atau Haji Nur itu dikenal sebagai penggagas pasar ikan di Kedonganan. Dia tinggal di Kedonganan selama 38 tahun.
Diawali sejak dirinya merantau sebagai pekerja di pabrik tepung tak jauh dari Pantai Kedonganan dengan upah sekitar Rp 500 per jam.
Secara tidak sengaja, salah satu temannya mengajak Rahmat menguras kapal slerek ikan di Pantai Kedonganan. Di atas kapal ikan, Rahmat diberi upah sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta sehari.
”Ternyata mencari uang di atas kapal lebih mudah. Saya dibayar banyak, padahal waktu itu kos cuma Rp 50 ribu satu bulan. Akhirnya, saya banting setir kerja di laut,” ungkapnya.
Rahmat memulai pekerjaan di Pantai Kedonganan dengan menjadi belantik ikan. Dia mencari pembeli ikan, lalu berkomunikasi dengan nelayan-nelayan yang ada di lautan.
Kala itu, karena tidak ada pasar, perdagangan ikan dilakukan di tepi pantai. Jadi, semua pembeli ikan, termasuk turis, harus melakukan transaksi langsung ke nelayan.
”Setelah itu, saya mulai berjualan, modalnya nekat saja. Yang penting berani. Zaman itu jadi orang harus berani, kalau tidak berani tidak bisa bertahan,” kata pria asal Desa Karangbendo itu.
Di tepi Pantai Kedonganan, Rahmat yang awalnya hanya seorang belantik dan pengambak (pembeli ikan dari nelayan) akhirnya mulai jadi pengepul ikan.
Pelan-pelan ada pedagang ikan di luar Kedonganan yang membeli ikan kepadanya. Lambat laun, aktivitas perdagangan ikan di pantai yang terkenal dengan kuliner ikan bakar itu menggeliat.
Ada tempat pelelangan ikan, kemudian tumbuh juga warung-warung yang membuat pantai itu semakin ramai.
Kesuksesan Rahmat pun akhirnya mulai terdengar dari mulut ke mulut, terutama di Banyuwangi.
Akhirnya, mulailah satu per satu keluarganya ikut berangkat ke Bali. Banyak yang kemudian ikut berjualan ikan.
”Saya tidak pernah mengajak, tapi mungkin saudara-saudara melihat usaha saya berjalan. Jadi, banyak yang ke sini,” tuturnya.
Awalnya, pada tahun 1990-an, tak sampai 100 orang Banyuwangi di Kedonganan. Sekarang jumlahnya sudah berlipat menjadi sekitar 600 orang.
Rahmat mengatakan, seperempat dari mereka mengambil ikan darinya.
”Sekarang sehari saya hanya jual sekitar 3 ton ikan saja, itu yang dari nelayan saya. Tapi kalau yang ambil dari pengambak, ya, lebih banyak,” imbuhnya.
Masyarakat Oseng di Kedonganan pernah dikunjungi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat masih menjabat.
Saat itu, Anas ikut menikmati kuliner ikan bakar. Rahmat mengatakan, meski semuanya sudah bekerja di Bali, orang-orang Oseng tak meninggalkan identitas mereka. Semuanya masih tetap ber-KTP Banyuwangi.
”Semuanya mayoritas mengontrak di sini. Saya juga mengontrak tanah, tapi bangunannya saya bangun. Semuanya masih KTP Banyuwangi,” terang Rahmat.
Kini, Rahmat tinggal menikmati hasil jerih payahnya. Sistem jual beli ikan yang dirintisnya sudah berjalan. Ada ratusan orang yang bekerja sama dengannya. Rahmat tinggal memantau saja.
Sesekali, jika ada tamu dari Banyuwangi, Rahmat menjamu mereka untuk makan ikan bakar di warung miliknya.
”Saya pulang ke Banyuwangi saat musim angin barat, mulai Desember sampai Maret biasanya. Karena memang tidak ada ikan saat itu, tapi selebihnya selalu di sini,” kata Rahmat. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin