RADARBANYUWANGI.ID - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tak bisa lepas dari peran guru yang mengabdikan diri di lingkungan sekolah.
Seperti yang dilakoni Agus Hermanto, guru honorer yang bertugas di SMPN 3 Wongsorejo. Sudah 16 tahun Agus mengabdi di sekolah yang terpencil dengan status sebagai guru honorer.
Mengenakan seragam PGRI warna putih, Agus berjalan kaki dari rumahnya menuju SMPN 3 Wongsorejo siang kemarin (2/5).
Jarak rumah dengan sekolah hanya 20 meter. Suasana sekolah sudah sepi karena jam tangan sudah menunjukkan pukul 13.25.
Sebanyak 50 siswa, dari kelas VII sampai IX, sudah pulang. Kedatangan Agus ke sekolah siang itu hanya untuk mengisi presensi.
Pagi harinya dia sudah masuk ke sekolah untuk memberikan pelajaran kepada anak didiknya.
”Beginilah suasana sehari-hari di sekolah, Mas. Saya mengabdi di SMPN 3 Wongsorejo sudah 16 tahun. Sampai sekarang status saya masih honorer daerah,’’ ujar Agus mengawali perbincangan dengan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Agus tercatat sebagai warga Pringgondani. Sejak kecil dia lahir dan tinggal di kawasan desa terpencil tersebut.
Lokasi rumah dan sekolahnya sekitar 4 kilometer (km) dari jalan utama Wongsorejo. Jika dihitung dari kota Banyuwangi, jaraknya bisa mencapai 35 km.
Putra dari Sumiati itu mengabdikan hidupnya sebagai guru honorer daerah di pinggiran hutan Pringgondani sejak tahun 2009. Pada awal pengabdiannya, Agus mengajar di SMP Satu Atap (Satap), yaitu gabungan SDN 2 Watukebo dan SMPN 3 Wongsorejo.
”Kebetulan dulu masih satu administrasi. Satu kepala sekolah memimpin dua sekolah. Saya dikasih beban mengajar kelas V dan menjadi guru olahraga di SMPN 3 Wongsorejo. Dulu namanya masih satu atap, jadi pegang dua sekolah,’’ kata pria yang sampai sekarang masih membujang tersebut.
Agus menyandang satatus honorer daerah sejak SD dan SMPN 3 Wongsorejo sudah tak lagi menjadi satu atap, yaitu tahun 2017.
Namun, profesi sebagai guru dimulai sejak dia lulus SMA Ibrahimy Wongsorejo. Kala itu Agus tidak langsung menempuh pendidikan di perguruan tinggi karena terkendala biaya.
Setahun setelah lulus sekolah, Agus memutuskan untuk kuliah di Universitas PGRI Banyuwangi. Dia mengambil jurusan matematika. Sembari kuliah, Agus juga melamar sebagai guru di SMP 3 Wongsorjo.
Tekad Agus untuk bisa kuliah benar-benar tak bisa dibendung. Dia sampai menjual sawah warisan sang nenek demi untuk mewujudkan cita-citanya sebagai guru dan perawat.
”Saya lulus SMA tahun 2008. Di situ saya tidak langsung kuliah karena tidak punya biaya. Akhirnya saya memutuskan kuliah tahun depannya,’’ kenangnya.
Awal pertama kali mengajar di SMPN 3 Wongsorejo, Agus dapat honor Rp 130.000 dari jasanya mengajar di SDN 2 Watyukebo.
Sedangakn di SMPN 3 Wongsorejo dapat honor Rp 240.000. ”Gaji awal saya pakai untuk tambahan biaya kuliah,’’ ujarnya.
Ada sedikit kendala selama dia mengajar di SMPN 3 Wongsorejo, yaitu masih minimnya kesadaran orang tua menyekolahkan anaknya di daerahnya sendiri. Mereka justru menyekolahkan anaknya ke Banyuputih atau Bajulmati.
Fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Agus dan rekan-rekannya. Untuk mencari murid jelang masa penerimaan peserta didik baru (PPDB), Agus harus bertamu dari rumah ke rumah.
”Saya door to door mencari siswa. Jalan kaki blusukan ke rumah warga dari pagi sampai malam, bahkan sampai turun gunung untuk mencari siswa,’’ katanya.
Kepada semua warga yang didatangi, Agus meyakinkan bahwa SMPN 3 Wongsorejo kualitasnya sama-sama bagus dengan sekolah lain. Dari hasil ”gerilya” tersebut, Agus bisa mendapatkan 15 calon siswa.
”Jika musim PPDB, saya masih tetap mencari murid dari ke rumah rumah warga. Saya dan teman-teman juga melakukan sosialisasi ke sejumlah SD terdekat. Itung-itung mempromosikan SMPN 3 Wongsorejo,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Dinas Pendidikan Larang Semua Sekolah di Banyuwangi Rekrut Guru Honorer
Agus berharap, pengabdiannya selama 16 tahun bisa diperhatikan oleh pemerintah. Dia berharap bisa segera diangkat menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
”Saya selalu berdoa semoga diangkat secepatnya menjadi PPPK, biar sama dengan yang lain,” harapnya.
Salah satu siswa SMPN 3 Wongsorejo, Bayu Eka Saputra, 15, melihat sosok Pak Agus sebagai guru yang baik hati, tegas, dan disiplin. Di mata siswa kelas IX itu, Agus selalu memperhatikan siswanya.
”Pak Agus orangnya disiplin, ramah kalau mengajar. Kalau ada siswa yang nggak masuk sekolah, selalu nyuruh siswa yang lain untuk menjemputnya biar tetap masuk sekolah,” kata Bayu. (HIDAYATUL FADLILLAH aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin