Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Penjual Cilok di Banyuwangi Raup Omzet Setara Harga Yamaha NMAX, Ternyata Ini Rahasianya

Agung Sedana • Jumat, 2 Mei 2025 | 18:00 WIB
BERKAH RAMADAN: Rojali sedang melayani pembeli cilok dagangannya di kawasan Pasar Kampung Baru, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.
BERKAH RAMADAN: Rojali sedang melayani pembeli cilok dagangannya di kawasan Pasar Kampung Baru, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.

RADARBANYUWANGI.ID - Suhadi, 52, atau yang kondang disapa Rojali, adalah penjual cilok asal Dusun Parastembok, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, yang mampu meraup omzet fantastis.

Terlebih lagi di bulan Ramadan lalu, ia dapat meraup pendapatan kotor senilai harga sepeda motor Yamaha NMAX atau sekitar Rp 33 juta per bulan.

Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, Rojali sedang berjualan di Desa Jambewangi. Dia melayani sejumlah pembeli dari berbagai umur. Sejak awal puasa lalu, Rojali selalu mangkal di kawasan pasar setempat.

Mengenakan topi dan rompi, tangan cekatannya tampak sudah ahli menyendok bola-bola daging ayam seukuran kelereng ke dalam plastik.

Monggo mampir, Mas, cilok bunder atau tahu atau campur, monggo. Es juga ada,” sapa ramah Rojali kepada pembeli.

Memulai obrolan, Rojali bercerita awal mula ia berjualan cilok. Rupanya, sejak ia kecil sudah familier dengan kegiatan berdagang.

Sejak berusia 9 tahun, Rojali kerap membantu orang tuanya. Selanjutnya ia mulai berjualan mandiri di usia dewasa hingga mengawali pekerjaan permanen sebagai penjual cilok di tahun 2002 silam. 

Suka duka telah ia jalani sebagai penjual cilok. Mulai dari jualan sepi, tidak laku, hingga sampai terbelit utang.

Namun, berkat konsistensinya menjaga rasa dan kebersihan dagangan, lambat laun ia memiliki pelanggan tetap.

Bahkan sejak jualan hingga kini, Rojali tetap konsisten berjualan dengan gerobak motor berwarna pink. Tidak pernah berubah sekalipun.

Untuk hari-hari biasa, Rojali mengaku mampu menghabiskan minimal 5 kilogram ayam sebagai bahan dasar membuat cilok.

Produksinya terbilang meningkat selama Ramadan pada Maret lalu. Dalam satu pekan di awal puasa, Rojali mengaku mampu menghabiskan hingga 10 kilogram daging ayam setiap harinya.

Ditanya berapa omzet per hari, Rojali mengaku bisa meraup paling minim Rp 800 ribu dan maksimal hingga Rp1,3 juta.

Jumlah tersebut termasuk hasil berjualan es krim putar atau es tung-tung. Pada puasa hari pertama lalu, Rojali hanya produksi cilok dengan 5 kilogram daging ayam.

Ia bermaksud menyamakan dengan jualan pada hari normal. Namun, jualannya habis bahkan sebelum waktu azan berkumandang.

Selanjutnya hari kedua pun berlanjut persis seperti hari pertama. Cilok jualannya ludes terjual tak tersisa. Hal ini terus berlanjut hingga hari keempat dia berjualan.

Selanjutnya pada hari kelima, Rojali mulai memberanikan diri menambah jualan. Produksi cilok dengan 10 kilogram daging habis terjual.

Rojali hanya bisa berucap rasa syukur setiap harinya melihat omzet lebih dari Rp1 juta di hari itu.

”Alhamdulilah, selalu habis. Mulai jualan jam tiga sore, pulang setelah azan magrib atau setelah orang berbuka itu,” kata Rojali.

Jika dipikirkan secara logika, omzet jutaan rupiah per hari ini tidak masuk akal bagi Rojali. Kata dia, omzet itu mungkin saja terjadi jika berjualan di hari biasa.

Di mana ia berjualan keliling sejak pagi hingga sore hari. Namun faktanya, jualannya meningkat hampir 2 kali lipat dari biasanya pada bulan puasa lalu.

”Karena puasa jualan tidak sampai tiga jam, tapi kok malah cepat habis dan banyak. Alhamdulilah, rezeki dari Allah,” katanya.

Dengan mata berkaca-kaca, Rojali melanjutkan cerita. Ia berhasil mengantarkan anak perempuannya hingga meraih gelar sarjana berkat jualan cilok juga.

Termasuk membangun rumah dan menghidupi segala kebutuhan rumah tangga juga dari berjualan cilok.

Cilok Rojali sebenarnya terbilang sederhana. Bumbu saus yang digunakan juga sederhana, hanya saus tomat, kecap, kacang, dan cabai yang dicampur bersamaan.

Namun, konsistensi menjaga takaran adalah kuncinya. Bahkan meskipun harga cabai mahal, Rojali tetap menggunakannya tanpa mengganti dengan alternatif lainnya.

Ada kebiasaan Rojali yang patut dipuji. Tidak peduli jualan ramai atau sepi, ia selalu bersedekah. Rojali berkata, apabila ada anak yatim piatu yang datang dan meminta cilok akan ia berikan secara gratis.

Meskipun itu harus setiap hari. Terkadang apabila ada sisa jualan, Rojali tak segan untuk memberikannya kepada orang-orang yang lewat atau warga sekitar ia berjualan.

”Saya hanya berharap jualan dan hasilnya berkah. Tidak ada yang salah kita ber-sodaqoh meskipun hanya sedikit. Yang penting ikhlas,” katanya. (cw4/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#omzet #untung #yamaha nmax #pendapatan #RAHASIA SUKSES #banyuwangi #penjual cilok