Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pesan Menyentuh Mbok Yem Sebelum Meninggal Dunia, Penjaga Warung Legendaris di Puncak Gunung Lawu

Ali Sodiqin • Kamis, 24 April 2025 | 18:30 WIB

Pelayat mendatangi kediaman Mbok Yem di Desa Gonggang, Poncol, Magetan. (Aji Putra/Radar Madiun)
Pelayat mendatangi kediaman Mbok Yem di Desa Gonggang, Poncol, Magetan. (Aji Putra/Radar Madiun)

RADARBANYUWANGI.ID – Wakiyem, yang lebih dikenal sebagai Mbok Yem, penjaga warung legendaris di Puncak Gunung Lawu, telah meninggal dunia di kediamannya di Dusun Dagung, Gonggang, Poncol, Magetan.

Mbok Yem meninggal setelah menjalani perawatan akibat penyakit pneumonia yang dideritanya di RSU Aisyiyah Ponorogo selama dua bulan terakhir. Di usia 70 tahun, Mbok Yem akan dimakamkan di samping mendiang suaminya, Kamsir.

Mbok Yem mendirikan warung makan di kawasan Hargo Dumilah sejak tahun 1980-an. Awalnya, kedekatannya dengan Gunung Lawu adalah untuk mencari bahan-bahan herbal.

Namun, menyadari banyak pendaki yang membutuhkan asupan makanan, ia membuka warung di ketinggian 3.150 mdpl, hanya 115 meter dari Puncak Lawu. Warungnya terletak strategis di pertemuan tiga jalur pendakian: jalur Candi Cetho, Cemoro Kandang, dan Cemoro Sewu.

Menu yang disajikan di warungnya sederhana, seperti nasi pecel, nasi soto, mie rebus, nasi goreng, tempe goreng, dan es teh. Warung Mbok Yem menjadi tempat singgah bagi pendaki yang kelelahan dan tidak mendirikan tenda.

Ia sehari-hari berada di puncak Lawu, ditemani dua kerabat dan seekor monyet bernama Temon. Meskipun menghadapi badai dan kebakaran hutan, Mbok Yem tetap setia di gunung, hanya turun setahun sekali menjelang Lebaran.

Untuk memenuhi kebutuhan logistik warungnya, Mbok Yem dibantu oleh dua kerabat yang mendaki Puncak Lawu tiga kali dalam seminggu.

Sebelum meninggal, Mbok Yem meninggalkan pesan yang menyentuh hati. Ia mengungkapkan kerinduan pada keluarganya dan ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya.

"Inginnya di rumah menjaga cucunya, karena merasa cucunya tahu-tahu sudah besar," ungkap cucunya, Syaiful.

Mbok Yem berikrar untuk lebih banyak di rumah setelah sembuh dari sakit yang dideritanya. Namun, meski menyediakan kehangatan dan asupan bagi pendaki yang kelaparan, luka di kakinya disebabkan oleh kekurangan protein.

Tiga hari sebelum kepergiannya, Mbok Yem dalam kondisi lemah dan hanya bisa minum susu. Menjelang akhir hayatnya, ia meminta untuk dimandikan.

Baca Juga: Mendaki Gunung Raung Lebih Eksotis via Desa Jambewangi, Pendaki Disuguhi Lanskap Banyuwangi Secara Menyeluruh

Saat ini, warung Mbok Yem di Hargo Dumilah masih beroperasi, dikelola oleh dua orang yang selama ini membantunya, meneruskan warisan kebaikan Mbok Yem kepada semua orang yang menyapa Puncak Lawu.

Keluarga yang masih berduka belum membahas kelanjutan usaha yang telah dirintis Mbok Yem, namun kenangan dan pesan-pesannya akan selalu hidup dalam hati setiap pendaki yang pernah merasakannya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pesan terakhir #dimakamkan #nasi pecel #magetan #mbok yem meninggal #warung #meninggal dunia #ponorogo #Mbok Yem Gunung Lawu #puncak gunung lawu