Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mbok Yem, Penjaga Warung Legendaris di Puncak Gunung Lawu Tutup Usia, Pecinta Alam se-Indonesia Ikut Berduka

Ali Sodiqin • Kamis, 24 April 2025 | 18:17 WIB
Warung Mbok Yem di Gunung Lawu menjadi warung tertinggi di Indonesia. Kini pemiliknya tinggal kenangan. (Radar Lawu)
Warung Mbok Yem di Gunung Lawu menjadi warung tertinggi di Indonesia. Kini pemiliknya tinggal kenangan. (Radar Lawu)

RADARBANYUWANGI.ID – Dunia pendakian tanah air berduka. Rabu, 23 April 2025, Wakiyem atau yang akrab disapa Mbok Yem, penjaga warung legendaris di Puncak Gunung Lawu, Jawa Timur, telah berpulang ke Rahmatullah.

Sosoknya yang melegenda di kalangan pendaki, terutama bagi mereka yang berhasil menaklukkan Puncak Hargo Dumilah Lawu (3.265 mdpl) melalui jalur pendakian Candi Cetho, kini tinggal kenangan.

Di ketinggian 3.150 mdpl, Mbok Yem dikenal sebagai penyedia berbagai hidangan yang mengobati lapar dan dahaga para pendaki.

Dari nasi pecel, pisang goreng, mie rebus, hingga nasi goreng dan aneka minuman, warungnya menjadi tempat singgah yang hangat di tengah dinginnya Gunung Lawu.

Bagi para pendaki, kehadiran Mbok Yem lebih dari sekadar penjaga warung; ia adalah sosok periang, ramah, dan tangguh yang kerap menolong pendaki yang tersesat di jalur pendakian.

Di tengah embusan angin dingin yang menusuk tulang, banyak pendaki memilih untuk melipir ke warung legendaris Mbok Yem, sekadar menghangatkan diri dengan secangkir teh hangat atau mencicipi pecel ikoniknya.

Namun, di balik sosok hangat yang setia hadir di tengah kabut dan dinginnya Gunung Lawu, terdapat kisah perjalanan hidup yang inspiratif.

Dulu, Mbok Yem adalah pedagang sembako di rumahnya yang terletak di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan.

Ia sering naik ke hutan untuk mencari bahan jamu herbal, yang kemudian membawanya pada keputusan besar untuk membuka warung di jalur pendakian Gunung Lawu pada tahun 1980-an.

Sejak saat itu, sebagian besar hidupnya dihabiskan di gunung, jauh dari rumah, namun dekat dengan para pendaki. Mbok Yem hanya turun gunung setahun sekali, yaitu saat Hari Raya Idul Fitri.

Namun, pada awal Maret 2025, Mbok Yem harus turun gunung dan ditandu karena sakit. Setelah hampir dua bulan dirawat, sosok yang begitu dicintai ribuan pendaki, terutama di Gunung Lawu, akhirnya berpulang untuk selamanya.

Baca Juga: Mendaki Gunung Raung Lebih Eksotis via Desa Jambewangi, Pendaki Disuguhi Lanskap Banyuwangi Secara Menyeluruh

Ucapan duka cita untuk Mbok Yem membanjiri laman media sosial Indonesia. Banyak pendaki yang mengenang momen saat singgah di warungnya.

Salah satunya adalah pemilik akun X @ultimates yang menuliskan, "Beristirahatlah dengan tenang Mbok Yem. Cerita Pendaki dan nasi pecelmu akan abadi," diakhiri dengan emoticon bunga mawar layu, simbol kesedihan dan kehilangan.

Pendaki lain, pemilik akun X @Dheny, juga mengenang kenangan bersama Mbok Yem di puncak Lawu.

"Mungkin makanan terenak setelah ibu saya adalah 'Pecel Mbok Yem'. Mbok Yem sekarang sudah tidak merasakan sakit-sakit lagi, surgo nggih Mbok Yem," tulisnya dalam unggahan yang penuh haru.

Kehilangan Mbok Yem adalah duka mendalam bagi komunitas pendaki, namun kenangan dan cerita tentangnya akan selalu hidup dalam hati setiap pendaki yang pernah merasakan kehangatan dan keramahan di warungnya. Selamat jalan, Mbok Yem. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#gunung lawu #pisang goreng #mbok yem #pendaki #nasi pecel #indonesia #Candi Cetho #meninggal dunia #pecinta alam #penjaga warung #Mie Rebus