RADARBANYUWANGI.ID - Ritual bakar uang arwah rupanya masih cukup lestari di kalangan masyarakat keturunan Tionghoa di Banyuwangi.
Salah satunya keluarga besar Oei Penggi, 72, yang melakukan ritual tersebut tepat pada 49 sembilan hari setelah berpulangnya sang istri, Lioe Swan Ie.
Suasana tempat persemayaman Mitra Abadi, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, tampak ramai malam itu. Kursi-kursi putih berjajar rapi berisi beberapa orang mulai dari anak-anak sampai lansia.
Malam itu puluhan orang yang datang tak hadir untuk melakukan Mai Song atau penghormatan kepada jenazah seperti biasanya.
Malam itu mereka hadir untuk menyaksikan ritual pembakaran uang dan rumah kertas untuk arwah mendiang Lioe Swan Ie, salah satu umat Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hoo Tong Bio yang telah berpulang sekitar enam minggu lalu.
Sebuah rumah yang terbuat dari kertas tampak dipajang di depan para hadirin. Rumah tersebut dibuat mirip dengan hunian asli.
Di dalamnya tampak ada kamar-kamar. Beberapa perabotan seperti AC, mesin cuci, kasur, serta dua mobil yang berada di garasi rumah. Tak ketinggalan ada pembantu, tukang kebun, dan beberapa orang yang ada di sekitar rumah.
Rumah kertas itu juga diapit dua gunung yang berwarna emas dan perak. Lalu, di sampingnya, ada uang emas dan perak kertas yang dipajang memanjang.
Di sebelahnya lagi ada foto dari mendiang dengan sajian kue-kue basah dan buah-buahan.
”Ini semua dibuat sendiri oleh anak saya, proses pengerjaanya satu bulan. Mulai dari pembuatan bagian-bagian rumah, furnitur yang ada di dalamnya. Tukang sapu, sopir, rewang, dan dua mobil semua dibuat sendiri,” kata suami mendiang Lioe Swan Ie, Oei Penggi.
Ritual membakar uang kertas untuk arwah, menurut Penggi, merupakan warisan leluhur yang masih dijaganya.
Apalagi setelah istrinya berpulang, Penggi mengatakan dirinya ingin istrinya bisa tinggal dengan tenang di alam sana.
Biasanya, orang-orang membeli rumah-rumahan kertas untuk ritual ini. Tapi, Penggi dan anak-anaknya memilih membuat sendiri rumah beserta semua ornamenya.
”Biasanya harganya kalau seperti ini bisa habis Rp 50 juta, tapi ini anak kedua saya membuat sendiri. Jadi, habis cuma Rp 10 juta. Isinya juga disesuaikan dengan keinginan,” ujarnya.
Penggi percaya apa yang dikirim oleh keluarga melalui ritual ini akan sampai kepada mendiang istrinya. Karena itu, semua yang dibakar dalam ritual itu dibuat sedetail mungkin.
Mulai dari kenyamanan rumah, bentuk rumah, isi perabotanya, sampai adanya beberapa pekerja di rumah.
Kakek sebelas cucu itu bercerita, pernah ada salah satu saudaranya yang lupa membuatkan grendel di jendela rumah kertas. Malam harinya, mendiang yang dikirimi rumah kertas mendatangi saudaranya tersebut.
”Makanya ini dibuat detil sekali. Semua kebutuhan saya buat, kamar mandi juga dilengkapi, jadi yang di sana biar enak,” ungkapnya.
Selain perabotan dan detail rumah, Penggi juga membuat gunung emas dan perak kertas. Uang emas dan perak juga dibuatnya cukup banyak agar istrinya benar-benar sejahtera di alam sana.
”Selain uang kertas, ada juga gunung emas dan perak. Kita percaya yang di sana juga butuh makan, jadi banyak yang kita kirim. Ada juga saudara yang mengirim baju-baju, itu kita siapkan juga untuk bekal di sana,” kata Penggi.
Tepat pukul 22.00, sembahyang kembali dilakukan di depan altar mendiang. Kemudian rumah kertas dan uang kertas beserta beberapa perabotan lainya dibawa ke belakang tempat persemayaman.
Empat buah lilin merah besar kemudian dibawa ke tempat itu. Perlahan, satu per satu barang dimulai dari uang kertas dibakar oleh keluarga mendiang.
Api pun mulai menjilat rentengan uang kertas. Kemudian baru rumah kertas yang dibakar sebagai persembahan keluarga kepada mendiang di alam sana.
Di tengah kobaran api, Penggi menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya dengan mendiang Swan Ie. Usia pernikahanya dengan Swan Ie sudah memasuki masa usia pernikahan emas, yaitu 50 tahun.
Selama 50 tahun, istrinya selalu mendampinginya dalam suka maupun duka. Lima bulan lalu, seharusnya dirinya mengajak istrinya untuk merayakan masa pernikahan mereka.
Namun, istrinya mendadak sakit dan harus berulang kali berobat sehingga agenda itu pun urung dijalankan.
”Istri saya dan saya sama-sama berangkat dari bawah. Sejak menikah kami kerja ikut orang, tapi dia selalu mendampingi saya. Bagi dia yang penting keluarga bahagia, anak bahagia,” kenang Penggi. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin