RADARBANYUWANGI.ID - Pekerja manol punya komunitas. Setiap hari mereka menjual jasa angkut hasil padi.
Pekerjaan musiman ini dilakukan setiap panen padi tiba. Upah seorang manol biasanya dihitung berdasarkan jumlah karung yang diangkut.
Di suatu pagi yang masih malu-malu menampakkan mentari, geber-geber gas dari motor protolan terdengar menyusuri pematang sawah di Dusun Prejeng, Desa/Kecamatan Songgon, Jumat (11/4).
Penampilannya seadanya dengan pakaian yang tampak lusuh. Bagi para kuli pengangkut gabah alias manol, yang penting berangkat kerja dengan perut kenyang sudah lebih dari cukup.
Siang ini, para pekerja manol berteduh di teras rumah warga. Mereka duduk bergurau sembari menunggu waktu Duhur berlalu. Kopi pahit dan batang gulungan rokok menemani perbincangan.
”Istirahat dulu, sambil menunggu beduk berlalu,” ucap Supri van Houten, salah satu anggota Komunitas Manol Songgon kepada wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Di balik gurauan mereka, jelas sekali tampak tubuh-tubuh kekar hasil bentukan kerja kasar angkat karung gabah selama bertahun-tahun. Mereka adalah para manol yang menjadi jantung tak terlihat dari denyut pertanian desa.
Komunitas Manol Songgon bukan sekadar kumpulan kuli harian. Mereka adalah saksi setia perguliran musim, dari saat padi masih berupa benih hingga menjadi bulir yang siap digiling. Dalam terik, hujan, lumpur, dan debu, mereka tetap berjuang demi ketahanan pangan keluarga.
Karung demi karung, berisi ratusan kilogram hasil bumi, berpindah dari ladang ke jok motor dengan kekuatan bahu semata.
Meski profesi manol cukup berat, tak jarang dari mereka yang masih ambil double job—sebagai buruh panen padi.
”Ada yang manol saja, ada yang manol sekaligus manen padi. Itu ada hitungan rupiahnya sendiri. Kami lakukan agar kebutuhan rumah tercukupi,” kata Supri.
Baca Juga: Pierre Gasly Tahan Gempuran Verstappen, Alpine Cetak Poin Perdana di F1 2025
Komunitas Manol Songgon beranggotakan sekitar 100 orang dengan rentang usia 29–45 tahun. Siapa sangka, jaringan kerja komunitas ini mampu mencakup hampir seluruh kecamatan di Banyuwangi.
Upah seorang manol biasanya dihitung berdasarkan jumlah karung yang diangkut. Rata-rata mereka dibayar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu untuk sekali angkut dengan bobot karung maksimal 135 kilogram. Tergantung jarak tempuh dan kesulitan medan.
Dalam sehari panen raya, para pemanol mampu mengangkut bolak-balik hingga 1 ton lebih gabah basah. Tak jarang mereka juga berharap belas kasih dari pemilik sawah untuk sekadar menyediakan sesuap nasi dan secangkir kopi.
Namun, mereka tak selalu beruntung. Supri menyebut, di musim paceklik atau jika panen petani gagal, mereka pun kehilangan penghasilan.
”Kadang satu hari cuma dapat dua karung. Ya, cuma cukup buat beli beras. Tapi kadang juga nganggur tidak ada pekerjaan,” kata pria berusia 38 tahun itu.
Dalam kondisi nganggur yang berkepanjangan, banyak di antara pemanol terpaksa merantau. Di tanah rantau, mereka juga melakukan pekerjaan kasar seperti kuli bangunan.
Demi saling menstabilkan pekerjaan, komunitas ini kemudian dibentuk pada tahun 2019 lalu. Selanjutnya, terbentuk beberapa grup kecil di masing-masing desa dan ada grup besar di tingkat kecamatan.
Melalui grup percakapan WhatsApp inilah, para anggota komunitas saling berbagi informasi. Di mana ada pekerjaan, kapan waktunya, dan giliran siapa, semuanya diatur dan bergiliran.
”Lewat grup ini kami saling informasi, di mana ada pekerjaan. Sehingga, potensi nganggur di rumah jadi minim. Kami juga biasa dipanggil di kecamatan-kecamatan lain untuk manol,” jelas Supri.
Supri bercerita, profesi manol ini memiliki risiko. Medan yang sulit tak jarang membuat pemanol mengalami kecelakaan. Contohnya pada dua masa panen lalu, ia sempat jatuh ke jurang sedalam 15 meter.
”Jalan licin dan sempit, tanjakan pula. Saya terpeleset dan jatuh bersama motor dan sekarung gabah,” jelasnya.
Manol bukan profesi yang terpampang di buku pelajaran. Tak ada penghargaan, tak ada gaji tetap. Tapi, dari tangan merekalah hasil bumi itu sampai ke pasar. Dari peluh merekalah petani tersenyum karena gabahnya tak membusuk di sawah.
Baca Juga: Jangan Lupa, CJH Banyuwangi Sudah Bisa Ambil Koper Haji di KUA, Cek Syaratnya di Sini
Mereka juga saling menjaga. Komunitas ini, walau tak terdaftar resmi, punya ikatan kuat. Jika ada anggota sakit, yang lain ikut iuran.
Jika ada kecelakaan saat mengangkut, mereka gotong royong membantu keluarga yang ditinggalkan.
”Kami membangun ikatan sesama manol, menciptakan sebuah komunitas yang sehat dan peduli. Saling membantu jika ada yang kena musibah contohnya,” ujar Supri.
Di balik kerasnya pekerjaan, ada harapan kecil yang mereka pupuk dalam hati. Beberapa manol berharap suatu hari bisa menyekolahkan anak hingga sarjana.
Bukan agar sang anak meneruskan profesinya, justru agar tak perlu menjadi manol lagi. Agar peluh itu berhenti di generasi mereka. Mereka tak menuntut banyak. Hanya ingin dihargai, diakui, dan kalau boleh didampingi.
”Kami bukan petani, bukan pemilik lahan. Tapi kami bagian dari panen itu. Kami berharap ada yang peduli, minimal jalan kami dibangun atau diperbaiki. Sehingga, memudahkan kami dan meminimalisasi kecelakaan,” harap Supri. (cw4/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin