RADARBANYUWANGI.ID - Nama Nusakambangan identik dengan pulau di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, yang menjadi lokasi penjara bagi narapidana ”kelas berat” di Indonesia.
Namun siapa sangka, di Banyuwangi terdapat kampung dengan nama serupa.
Singkirkan dulu jauh-jauh pikiran tentang lembaga pemasyarakatan (lapas) berkeamanan super ketat yang berlokasi di Pulau Nusakambangan.
Sebab, Nusakambangan yang baru saja dikunjungi wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi ini bukanlah Pulau Nusakambangan—pulau tempat lapas berkeamanan super ketat yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Nusakambangan van Sempu ini layaknya perkampungan warga pada umumnya. Lokasinya di kaki Gunung Raung, tepatnya di Dusun Panjen, Desa Jambewangi.
Lokasinya lumayan tersembunyi dan hanya dapat diakses dari satu jalur sempit yang melewati lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Dahulu, untuk memasuki permukiman ini hanya bisa dilakukan dengan menelusuri pematang sawah.
Seiring berkembangnya zaman dan pemerataan pembangunan oleh Pemkab Banyuwangi, akses menuju kampung Nusakambangan jauh lebih baik.
Jalan masuknya sudah terpasang paving stone. Cukup lebar. Bisa dilalui kendaraan roda empat.
Namun bagi sebagian orang, terutama mereka yang tidak pernah ke Desa Jambewangi, bukan perkara mudah menemukan jalan menuju kampung Nusakambangan tersebut.
Kepala Dusun Panjen Imam menjelaskan bahwa penamaan Nusakambangan bukan tanpa alasan.
Nama ini memang terinspirasi dari ”bumi” pemasyarakatan di wilayah Cilacap tersebut.
Imam bercerita, nama Nusakambangan diambil karena dulu permukiman ini benar-benar terisolasi dan tertinggal.
Listrik tidak ada, dan hanya berupa bukit di tengah area persawahan.
”Dulu, tempat ini sangat sulit diakses, menyendiri, dan tidak seperti perkampungan pada umumnya. Karena itu, warga menamainya Nusakambangan,” ungkapnya.
Imam menuturkan, permukiman ini awalnya hanya dihuni oleh satu keluarga.
Awalnya, bukit tersebut merupakan tanah warisan. Suatu ketika, salah satu warga berniat membangun rumah.
Karena keterbatasan ekonomi, pembangunan akhirnya dilakukan di tanah tersebut.
”Kalau mau bangun rumah kan pasti beli tanah dulu. Akhirnya memutuskan membangun tanah keluarga di bukit itu, di Nusakambangan,” kata dia.
Setelah rumah itu terbangun, untuk beberapa waktu lamanya tidak ada jaringan listrik yang masuk. Penghuni pertama kala itu terpaksa memanfaatkan penerangan primitif.
Namun, seiring waktu beberapa rumah lain mulai dibangun di bukit itu.
Bahkan hingga triwulan pertama 2025 ini tercatat sebanyak 14 kepala keluarga (KK) telah menetap di kampung Nusakambangan tersebut
Permukiman ini terbilang cukup sejuk. Pohon-pohon rindang masih mengakar kuat di tanah. Polusi kendaraan juga minim.
Ditambah udara dapat berembus bebas dari arah Gunung Raung melintasi area persawahan yang menghampar luas.
Meski berada di lokasi yang lumayan sulit dijangkau, Nusakambangan van Sempu kini tak lagi benar-benar terisolasi.
Jaringan listrik telah menjangkau permukiman ini, begitu juga dengan sinyal komunikasi yang mulai stabil.
Misalnya untuk bermain game populer seperti Mobile Legend dan sejenisnya, sinyal internet dari berbagai provider cukup kencang.
”Pembangunan sudah masuk, termasuk jalan dan listrik. Info terakhir sudah ada penyelenggara wifi yang bersedia memasang jaringan,” katanya.
Namun untuk kebutuhan air, warga setempat masih mengandalkan sumur dan mata air alami. Di kawasan tersebut ada mbelik yang menjadi pusat tempat mandi.
Mbelik merupakan semacam sendang yang menyediakan air bersih dan tidak pernah kering meskipun kemarau ekstrem melanda selama berbulan-bulan.
”Tapi untuk air bersih, warga masih mengandalkan sumur. Volume airnya terbatas, tapi masih layak digunakan. Ada sumber air di mbelik yang bisa diakses umum,” tutur Imam.
Imam menyatakan, tak hanya Nusakambangan, Desa Jambewangi juga memiliki beberapa permukiman unik lain.
Di antaranya Kampung Limo yang hanya dihuni lima orang sejak bertahun-tahun lamanya. Selain itu ada pula Kampung Songo yang dihuni sembilan orang. (cw4/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin