RADARBANYUWANGI.ID - Aktivitas di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi meningkat cukup signifikan pada musim balik Lebaran 2025 ini.
Tidak hanya mereka yang melakukan perjalanan kembali ke perantauan, para pedagang nasi bungkus seolah menjadi kepingan pelengkap puzzle di pelabuhan penyeberangan penghubung Jawa–Bali tersebut.
Beberapa pria berompi biru berjalan di tengah deretan kendaraan roda empat yang tengah menunggu antrean di Pelabuhan ASDP Ketapang.
Di bawah terik matahari, mereka menghampiri satu per satu kendaraan untuk menawarkan nasi bungkus kepada para calon penumpang kapal feri yang menyeberang ke Pulau Bali.
Pada arus balik Idul Fitri kali ini Pelabuhan Ketapang relatif ramai, namun tidak sepadat tahun-tahun sebelumnya. Hal ini berimbas pada pendapatan para pedagang nasi bungkus tersebut.
Tidak ada kemacetan dan antrean panjang di area pelabuhan membuat mereka harus berpindah-pindah dari satu deretan kendaraan ke deretan yang lain untuk menawarkan dagangan.
Ada penumpang yang membuka jendela mobil untuk membeli nasi bungkus yang mereka tawarkan. Tetapi jumlah penumpang yang menolak jauh lebih banyak.
Haris, 55, salah seorang pedagang nasi bungkus asal Srono mengatakan, jika terjadi kepadatan kendaraan atau kemacetan di area pelabuhan, pendapatannya justru meningkat.
Antrean lama membuat pengendara lapar dan akhirnya membeli nasi bungkus yang dia jual.
”Tahun lalu macetnya lumayan, jadi kami bisa jualan di titik kemacetan. Kalau sekarang antre cuma sebentar. Kendaraan langsung masuk kapal,” ujarnya.
Selama musim Lebaran tahun ini, Haris mengaku bisa mendapat keuntungan bersih antara Rp 80 ribu sampai Rp100 ribu per hari.
Jumlah ini menurun hampir separo dibandingkan tahun lalu. Pada musim balik Idul Fitri 2024 lalu, dia bisa meraup keuntungan Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu dalam sehari.
”Biasanya langganan kami sopir truk, tapi saat ini kan truk tidak semua bisa menyeberang. Jadi, kami mengandalkan roda empat dan roda dua saja,” kata pria yang mengaku berjualan nasi bungkus di Pelabuhan Ketapang sejak tahun 2003 itu.
Meski sepi, Haris mengatakan dirinya percaya rezeki sudah ada yang mengatur. Saat omzet pedagang nasi bungkus seperti dirinya menurun, ada usaha lain yang justru mendapat peningkatan omzet.
”Saya berjualan mulai di pelabuhan ini cuma ada dua kapal. Era Kapal Kintamani dan Blambangan. Sekarang sudah banyak kapal, semoga nanti bisa ramai lagi pembelinya,” harapnya.
Hal yang sama juga diutarakan Haryono, 56, pedagang nasi asal Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro. Bapak dua anak itu mengatakan, tahun lalu dirinya bisa menjual 150 sampai 200 bungkus nasi setiap hari.
Namun tahun ini, dirinya hanya bisa menjual antara 80 sampai 100 bungkus dalam sehari.
”Tidak seramai tahun lalu. Tapi Alhamdulillah masih bisa menjual sekitar 100 bungkus sehari,” kata dia sembari menawarkan dagangannya.
Pekerjaan berjualan nasi bungkus sudah dilakoni Haryono sejak 20 tahun silam. Sejak pagi dirinya menyiapkan ratusan bungkus nasi bersama istrinya.
Haryono menyebut, kalau tak membuat nasi sendiri, tidak akan bisa mendapatkan hasil yang cukup. Apalagi, saat ini pembeli nasi tak seramai sepuluh tahun lalu.
Begitu sampai di kawasan Pelabuhan Ketapang, Haryono langsung mencari titik antrean kendaraan yang ada di area parkir untuk menawarkan dagangannya.
Tak jarang dia harus berlari-lari menyesuaikan lokasi antrean kendaraan. Berpindah dari satu deretan kendaraan ke deretan lain.
”Kalau sepi di sini pindah ke titik lain, meskipun cuaca panas menyengat harus semangat. Anak saya yang kedua sedang kuliah, jadi harus semakin keras kerjanya,” tandasnya. (fre/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin