Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lasiyem, Dukun Beranak dari Lereng Gunung Raung Banyuwangi. Usia 130 Tahun, Pantang Makan Jantung Pisang dan Kelor

Agung Sedana • Jumat, 28 Maret 2025 | 10:30 WIB
PANJANG UMUR: Lasiyem alias Mbok Ndun, dukun beranak asal Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, yang masih eksis hingga tahun 2025 ini.
PANJANG UMUR: Lasiyem alias Mbok Ndun, dukun beranak asal Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, yang masih eksis hingga tahun 2025 ini.

RADAR BANYUWANGI - Lasiyem adalah seorang dukun beranak di Banyuwangi yang berusia seabad lebih yang sampai sekarang masih tetap eksis.

Kendati tak lagi bersedia membantu proses melahirkan, perempuan yang tinggal di Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, ini masih dipercaya masyarakat lereng Gunung Raung untuk memelihara batur atau sekadar memijat bayi.

Sebelum memasuki tahun 2000, profesi dukun beranak di Banyuwangi masih berjaya. Kala itu dukun bayi masih menjadi prioritas pilihan ibu-ibu hamil.

Khususnya, bagi masyarakat pedesaan yang tinggal di tepian hutan lereng Gunung Raung.

Sebenarnya pada tahun 1990 sudah lumayan banyak profesi bidan di Banyuwangi.

Namun, jasa bidan masih dianggap sebuah kemewahan untuk membantu proses melahirkan.

Karena alasan ekonomi, masyarakat memilih, bahkan lebih percaya terhadap figur dukun beranak ketimbang medis.

Tak jarang pula, kepercayaan tersebut membuat ibu-ibu hamil di kawasan desa menjadi fanatik.

Lasiyem alias Mbok Ndun merupakan satu dari segelintir dukun beranak yang masih hidup hingga saat ini.

Lasiyem memiliki 12 anak, 13 cucu, dan 3 cicit. Secara administratif, lansia ini berusia 85 tahun.

Lahir di Banyuwangi pada 7 Februari 1940. Namun, tidak demikian menurut hemat anak-anak Mbok Ndun.

Prapto, 47, anak kedelapan Mbok Ndun dari 12 bersaudara itu mengungkapkan, ibunya lahir kisaran tahun 1916.

Pada 2025 ini ibunya sudah berusia 109 tahun. Klaim ini mungkin terjadi mengingat Mbok Ndun sempat berganti-ganti KTP.

Setiap pembaruan KTP, metode penetapan usia dan tanggal lahir berdasarkan rumus ”kira-kira”.

Menurut Prapto, klaim ini berdasar atas ingatan masa lalu Mbok Ndun.

Di mana ia masih mengingat kejadian-kejadian dan momen bersejarah yang terjadi saat masa penjajahan. Ibunya lahir sejak era kolonial Belanda menjajah nusantara.

”Mbok itu ceritanya jelas, diulang dan tetap sama ceritanya. Dia mengaku sudah menikah sebelum Indonesia merdeka. Sementara di KTP, menjelang proklamasi dia baru lahir,” kata Prapto.

Sementara, menurut klaim pribadi Mbok Ndun, usianya saat ini sudah mencapai 130 tahun. Klaim ini mungkin saja benar adanya.

Mengingat Mbok Ndun bahkan bisa bercerita situasi di era kolonial di masa kecilnya.  Secara kasat mata, perempuan tua ini tampak lebih muda dari sebayanya.

Dia masih mampu berbicara dan berdebat, bahkan bernyanyi tembang wajib era Belanda dan Jepang.

Mbok Ndun juga bisa berjalan dan beraktivitas serta mengingat kejadian-kejadian di masa kecilnya. Hanya saja kepekaan pendengaran sudah berkurang.

”Saya dua bersaudara, adik saya lahir tepat pada awal era Nippon. Dia lahir, saya sudah punya tiga anak,” kenang Mbok Ndun.

Selain itu, Mbok Ndun juga bercerita soal pendirian partai politik pertama berbasis masa, Sarekat Islam, pada tahun 1911.

Di mana saat itu ibunya Mbok Ndun bekerja kepada pengusaha Tionghoa yang mendominasi ekonomi lokal.

Kala itu, dia mengingat dirinya sudah berusia anak-anak. Namun, belum menikah.

”Saya menikah itu kira-kira usia 12 tahun. Kemudian 7 tahun setelahnya baru punya anak pertama. Dari suami pertama. Saya menikah dua kali,” ujar Mbok Ndun.

Ada yang unik dari kehidupan Mbok Ndun saat ini. Kepada wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, dia mengaku punya pantangan untuk makanan.

Ada sejumlah makanan yang hingga saat ini tidak tahu bagaimana rasanya.

Makanan tersebut berupa jantung pisang, talas beserta daunnya, daun kelor, dan ketan hitam. Sejak kecil, Mbok Ndun dilarang memakan daftar tersebut oleh ibunya.

Pantangan itu terus dia patuhi hingga kini. Bahkan, dia tidak sudi memakan nasi jika tidak dimasak secara manual menggunakan tungku bakar.

Demikian halnya dengan asupan air. Mbok Ndun menolak meminum air kemasan atau mineral

Ninen-ninen itu dulu pernah wasiat, besok akan ada suara tidak ada rupa, jalan mulus lampu terang. Dia nyuruh saya untuk tetap hidup sampai melihat semua itu terjadi,” katanya.

Sejak masih muda, Mbok Ndun sudah menjadi asisten dukun beranak dari almarhum ibunya. Profesi ini telah diturunkan oleh leluhurnya.

Turun ke ibunya dan berakhir hingga pada dirinya saat ini. Proses penurunan diakui memiliki metode dan standar wadah yang harus tepat. Tidak asal-asalan.

Mbok Ndun mengaku terakhir kali menangani proses melahirkan di tahun 2003.

Saat itu, ada seorang ibu yang tidak memiliki biaya untuk bersalin di bidan. Apalagi, di rumah sakit. BPJS pun si ibu hamil tersebut tidak memilikinya.

”Rumahnya dekat hutan. Saya hanya membantu, mau itu dikasih uang atau tidak, monggo. Kalau memang tidak punya mengapa harus maksa,” katanya.

Mbok Ndun mengakui sejak era bidan mulai umum digunakan untuk persalinan, ditambah kesadaran medis masyarakat meningkat, dukun-dukun beranak di Banyuwangi tidak lagi menjadi prioritas.

Tepatnya setelah tahun 1998, profesi dukun beranak perlahan mulai menemui kepunahan.

Mbok Ndun mengaku pernah mendapatkan sertifikat dan kerap mengikuti program pelatihan yang digelar pemerintah.

Kegiatan itu bahkan rutin dia ikuti hingga saat ini. Mbok Ndun pernah diberi sertifikat sebagai dukun beranak secara resmi oleh salah satu dokter.

Sayangnya, dokter tersebut sudah wafat. Sertifikatnya juga sudah hancur dimakan usia.

”Ada sertifikat dari dokter Basuki namanya, tapi sudah hancur dimakan rayap,” ungkapnya.

Dulu masih di tahun 1980-an, uang jasa melahirkan yang diterima Mbok Ndun bervariasi. Mulai dari Rp 300 hingga Rp 2.000.

Kadang juga tidak dibayar karena yang bersangkutan tidak memiliki uang untuk membayar.

Jauh hari sebelum Indonesia Merdeka, Mbok Ndun bahkan menerima pembayaran dalam bentuk koin perak dengan berbagai jenis pecahannya.

Pada masa kolonial Belanda, Mbok Ndun mengaku sudah mengalami berbagai kondisi saat membantu proses melahirkan.

Mulai dari kehujanan, keracunan, hingga diacungi senapan oleh sejumlah penjajah. Dia mengaku pernah diseret dan dipenjara oleh tentara Jepang akibat mencuri kopi.

Hingga saat ini Mbok Ndun masih eksis. Bukan sebagai dukun beranak melainkan sebagai dukun batur dan dukun pijat bayi.

Dia masih dipercaya warga setempat sebagai orang yang mampu menangani persoalan anak rewel.

Ngubur ari-ari bayi atau batur, kalau nggak ya benerin perut wanita. Tapi sekarang sudah tua dan tenaga terbatas,” katanya. (cw4/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#bidan #pijat bayi #ibu melahirkan #ibu hamil #lereng gunung #dukun beranak #Kelor #130 Tahun #gunung raung #Nippon #sarekat islam #Jantung pisang #profesi