Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Usia Baru 26 Tahun, Putri Sopir dan Pembantu di Banyuwangi Ini Raih Gelar Doktor Termuda

Agung Sedana • Rabu, 26 Februari 2025 | 11:35 WIB
ZERO TO HERO: Dewi Agustiningsih bersama kedua orang tuanya, Suyanto dan Surahmah, saat menjalani wisuda Program Studi Kimia di UGM.
ZERO TO HERO: Dewi Agustiningsih bersama kedua orang tuanya, Suyanto dan Surahmah, saat menjalani wisuda Program Studi Kimia di UGM.

RADAR BANYUWANGI - Perjalanan hidup Dewi Agustiningsih menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Lahir dan besar dalam keterbatasan ekonomi, perempuan kelahiran 27 Agustus 1998 ini berhasil mengukir prestasi gemilang hingga meraih gelar doktor di usia muda.

Kini, ia berkarir sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dewi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang dibesarkan di Kelurahan Tukangkayu, Banyuwangi. Ayahnya, Suyanto, seorang sopir tidak tetap dengan pendidikan terakhir SMP.

Sementara ibunya, Surahmah, hanya mengenyam pendidikan hingga SD. Surahmah bekerja sebagai asisten rumah tangga sebelum akhirnya menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.

”Kondisi ekonomi keluarga kami sangat terbatas. Kami harus mengatur keuangan dengan sangat hati-hati,” kata Dewi. 

Saat saudara tertuanya masih sekolah, ayahnya masih bekerja. Namun, saat ia memasuki bangku kelas 2 SMP, ayahnya pensiun. Sejak saat itu Dewi mengaku berat dalam berjuang terutama dalam hal pendidikan.

Meski hidup dalam keterbatasan, Dewi memiliki semangat belajar yang tinggi. Sejak kecil, ia gemar bertanya tentang fenomena alam dan memiliki ketertarikan mendalam pada sains, terutama kimia.

Dewi sadar bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengubah kehidupannya dan membanggakan orang tuanya.

Perjalanan akademik Dewi tak selalu mudah. Salah satu titik balik dalam hidupnya terjadi ketika ia mendengar seseorang meremehkan kemampuannya untuk menempuh pendidikan tinggi hanya karena latar belakang ekonominya.

Orang itu mengatakan bahwa sebagai anak seorang sopir dan mantan asisten rumah tangga, Dewi tidak akan mampu melanjutkan kuliah.

”Saya ingat bagaimana bapak dan ibu menangis mendengar ucapan itu. Mereka merasa tidak mampu memberikan banyak hal untuk pendidikan saya. Tapi justru di saat itulah saya bertekad untuk membuktikan bahwa kondisi ekonomi bukanlah penghalang untuk sukses,” ungkapnya.

Setelah lulus dari SMAN 1 Glagah pada 2016, Dewi melanjutkan pendidikan ke Program Studi Kimia, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan beasiswa Bidikmisi.

Namun, beasiswa tersebut hanya mencakup biaya hidup sebesar Rp 600 ribu per bulan, sangat terbatas untuk bertahan hidup di Yogyakarta.

”Pada tahun pertama, saya membagi uang itu sehemat mungkin, Rp 350 ribu untuk kos, Rp 50 ribu untuk transportasi, dan sisanya Rp 200 ribu untuk makan selama sebulan. Saya harus bertahan dengan sekitar 5 ribu rupiah per hari untuk lauk. Pernah, uang saya hanya tersisa Rp 2 ribu dan saya harus memilih antara makan atau mencetak tugas,” kisahnya.

Dewi tidak menyerah. Pada tahun kedua hingga keempat, ia mulai bekerja paro waktu sebagai asisten dosen, asisten praktikum di laboratorium kimia, serta mengajar privat.

Dengan pendapatan tambahan ini, kondisi ekonominya mulai membaik.

Perjalanan Meraih Gelar Doktor

Berkat prestasi akademiknya, Dewi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program PMDSU (Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul), yang memungkinkan ia langsung menempuh studi S-2 dan S-3 tanpa seleksi terpisah.

Penelitiannya berfokus pada pembuatan material katalis untuk penanggulangan polutan lingkungan serta sintesis material obat.

Selama menempuh program doktoralnya, Dewi mendapat kesempatan emas untuk melakukan riset selama satu tahun di Hokkaido University, Jepang.

”Saya belajar banyak tentang teknik eksperimental yang lebih canggih dan bagaimana kolaborasi internasional bisa menghasilkan inovasi besar,” ujarnya.

Akhirnya, setelah melewati berbagai tantangan, Dewi berhasil menyelesaikan program S-3 pada tahun 2025, menjadikannya salah satu doktor muda berbakat di bidangnya.

Setelah meraih gelar doktor, Dewi memutuskan untuk bergabung sebagai dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB. Ia ingin terus meneliti dan membagikan ilmu kepada generasi mendatang.

”Saya selalu bercita-cita menjadi ilmuwan dan pendidik. ITB adalah institusi terbaik di Indonesia yang memiliki lingkungan akademik yang kuat dan kompetitif. Saya ingin berada di tempat yang bisa mendorong saya untuk terus berkembang dan menghasilkan penelitian berkualitas tinggi,” ungkap Dewi. (aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#sman 1 glagah #pembantu #institut teknologi bandung #sopir #asisten rumah tangga #Doktor #itb #Beasiswa Bidikmisi