Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Awalnya untuk Materi Kaus Etnik Banyuwangi, Samsudin Adlawi Dapat Penghargaan Pencipta Tagline the Sunrise of Java

Fredy Rizki Manunggal • Rabu, 8 Januari 2025 | 21:30 WIB
Bupati Ipuk Fiestiandani menyerahkan sertifikat penghargaan pencipta tagline Sunrise of Java kepada Samsudin Adlawi, 18 Desember lalu.
Bupati Ipuk Fiestiandani menyerahkan sertifikat penghargaan pencipta tagline Sunrise of Java kepada Samsudin Adlawi, 18 Desember lalu.

RadarBanyuwangi.id - Sunrise of Java. Tagline tersebut sudah digunakan Pemkab Banyuwangi sejak belasan tahun silam.

Tidak hanya sebagai sarana branding daerah, filosofi yang terkandung dalam slogan itu juga berhasil mengikis stigma yang bertahun-tahun melekat pada Banyuwangi.

Tagline sarat makna itu merupakan sumbangsih direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi.

Dari Taman Blambangan, Banyuwangi, pada 18 Desember 2024 lalu. Saya seolah diajak masuk ”lorong waktu”.

Kembali ke tahun 2012 akhir. Pada periode pertama masa kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas dan Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko.

Lorong waktu tersebut membawa saya ke masa muda. Masih lekat dalam ingatan, saya pernah memiliki satu kaus oblong produksi KaUsing.

Kaus itu bertulisan ”Sunrise of Java”. Jauh sebelum tagline ”Sunrise of Java” secara resmi diluncurkan oleh Bupati Anas di Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata RI pada November 2012.

Lalu, apa hubungannya dengan 18 Desember 2024?

Hari itu merupakan puncak peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-253. Di hari spesial tersebut, pemkab menggelar upacara di Taman Blambangan.

Dalam rangkaian upacara itu pula, Bupati Ipuk Fiestiandani memberikan penghargaan kepada 18 tokoh atas kontribusinya pada perkembangan Banyuwangi.

Salah satu tokoh penerima penghargaan adalah Samsudin Adlawi. Budawayan, kolumnis, sekaligus direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) tersebut mendapat penghargaan atas taglineSunrise of Java” yang dia ciptakan.

Sementara itu, setelah mengetahui Samsudin menerima penghargaan sebagai pencipta taglineSunrise of Java”, naluri jurnalistik saya pun tergerak.

Mencari-cari dokumen yang menunjukkan kapan tagline itu kali pertama dicetuskan oleh Samsudin. Sebagai kolmunis, Samsudin memang intens menulis catatan di JP-RaBa (dan di sejumlah media lain) sejak bertahun-tahun lalu.

Setelah beberapa hari membuka dokumen, akhirnya saya menemukan kapan tagline Sunrise of Java itu diproklamasikan oleh Samsudin sebagai slogan ciptaannya.

Tepatnya pada rubrik ”Catatan” (kini berganti nama menjadi rubrik Man Nahnu, Red) berjudul ”Gelisah Pulau Merah” yang dimuat di JP-RaBa edisi Senin, 24 Oktober 2011.

Dalam artikel itu, Samsudin membahas buku puisi karyanya yang dia beri judul Haiku Sanrise of Java. Haiku adalah bentuk pusi Jepang.

”Adapun Sunrise of Java adalah istilah buatan saya sendiri. Kali pertama istilah itu saya gunakan untuk materi kaus. Ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pencinta kaus etnik. Lalu, seperti yang Anda tahu, istilah itu dipopulerkan oleh Pemkab Banyuwangi. Baik dipasang di baliho maupun di media lain. Tentu saya senang melihat hal itu –meski sampai sekarang belum menerima royalti, ha ha ha...,” begitu isi paragraf kelima pada catatan Samsudin Adlawi berjudul ”Gelisah Pulau Merah” tersebut.

Dari kalimat itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa istilah Sunrise of Java sudah dicetuskan oleh Samsudin sejak sebelum 24 Oktober 2011.

Sedangkan soal kaus, saya pernah memiliki kaus oblong warna putih bertulisan ”I Love Banyuwangi (Sunrise of Java)”. Kaus merek KaUsing itu saya beli untuk menyambut launching gerakan I Love Banyuwangi pada Januari 2013.

Ubah Stigma Banyuwangi

Kembali ke penghargaan dari Pemkab Banyuwangi. Sesaat setelah menerima penghargaan di Taman Blambangan, Samsudin mengatakan bahwa tagline Sunrise of Java sudah digunakan sejak era Bupati Abdullah Azwar Anas.

Awalnya tagline tersebut muncul untuk mengubah stigma negatif yang selama ini melekat di Banyuwangi.

”Saya sampaikan ke Bupati Anas saat itu. Jika kita ingin berubah, harus melakukan sesuatu yang besar. Salah satunya membuat tagline yang digunakan di Banyuwangi,” kenangnya.

Hasilnya, tagline Sunrise of Java benar-benar mengubah wajah Banyuwangi hampir secara keseluruhan. Filosofi matahari yang menyinari Pulau Jawa diawali Banyuwangi, akhirnya berdampak positif.

Banyuwangi menjadi inspirasi bagi daerah lain. ”Berkahnya saat ini hampir seluruh kabupaten dan kota studi banding ke sini (Banyuwangi),” kata Samsudin.

Samsudin menambahkan, sekitar akhir tahun 2011 dirinya berdiskusi dengan Bupati Abdullah Azwar Anas membahas tagline baru Banyuwangi.

Yakni tagline yang tidak hanya menggugah semangat warga Bumi Blambangan, melainkan juga menginspirasi warga di seluruh Indonesia, bahkan dunia.

”Setelah merenung beberapa hari saya menemukan tagline the Sunrise of Java (SoJ). Tagline itu mulai saya kenalkan lewat tulisan dan berita di Radar Banyuwangi. Juga lewat kaus yang saya produksi sendiri,” kenangnya.

Singkat cerita, dari hari ke hari tagline Sunrise of Java itu kian dikenal masyarakat. Mereka mulai memakai tagline baru itu untuk berbagai kepentingan. Hingga akhirnya Bupati Anas me-launching tagline SoJ itu di kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta pada 2012.

Secara harfiah, imbuh Samsudin, makna SoJ terkait dengan letak geografis Banyuwangi yang berada di ujung paling timur Jawa Timur. Dengan begitu, masyarakat Banyuwangi-lah yang pertama menikmati matahari di Pulau Jawa.

”Andai orang Banyuwangi tidak menikmati matahari pagi, maka orang se-Jawa, bahkan se-Indonesia bagian barat tidak akan menikmatinya juga” jelasnya.

Secara filosofis, dengan posisi yang strategis itu, Banyuwangi harus maju, masyarakat dan pemerintahnya harus lebih kreatif dan cerdas.

Hanya dengan modal seperti itulah suatu daerah atau negara akan maju.

Benar, akhirnya Banyuwangi sangat maju. Mengalahkan daerah lain di Indonesia. Kemajuannya diakui secara luas lewat penghargaan regional, nasional, bahkan global. Di segala bidang.

”Hampir seluruh daerah, kabupaten dan kota, provinsi, bahkan kementerian datang ke Banyuwangi. Belajar tentang keberhasilan Banyuwangi. Untuk ditiru,” kata Samsudin.

Samsudin mengaku kemajuan pesat Banyuwangi itu sudah dia duga saat menciptakan tagline the Sunrise of Java. ”Saya meyakini sebuah tagline adalah doa, seperti halnya nama orang,” ujarnya.

Usut punya usut, selain the Sunrise of Java, Samsudin juga menciptakan tagline untuk Kota Mojokerto, yakni ”the Spirit of Majapahit”.

”Setelah saya buatkan tagline the Spirit of Majapahit sejak lima tahun lalu, Kota Mojokerto berkembang pesat,” kata dia.

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, para tokoh yang mendapat penghargaan adalah sebagian dari masyarakat Banyuwangi yang sudah memberikan kontribusi untuk mengembangkan Banyuwangi hingga maju seperti sat ini.

”Ini apresiasi untuk mereka yang sudah berperan postifif untuk pengembangan Banyuwangi. Meski belum seluruhnya, tapi mereka sudah cukup mewakili,” pungkasnya. (sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#tagline #Sunrise of Java #banyuwangi #samsudin adlawi