Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ratu Kendang Kempul Sumiati Tetap Eksis di Usia 55 Tahun, Tak Pernah Pasang Tarif, Awal Nyanyi Dibayar Rp 200

Ali Sodiqin • Sabtu, 21 Desember 2024 | 18:42 WIB
Sumiati menerima penghargaan dari Pemkab Banyuwangi yang diserahkan oleh Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Hafidz  pada puncak peringatan Harjaba ke-253 di Taman Blambangan (18/12).
Sumiati menerima penghargaan dari Pemkab Banyuwangi yang diserahkan oleh Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Hafidz pada puncak peringatan Harjaba ke-253 di Taman Blambangan (18/12).

RadarBanyuwangi.id – Ratu kendang kempul Banyuwangi, Sumiati, telah mengukir prestasi luar biasa. Namanya telah melambungkan Banyuwangi di level nasional.

Berkat olah vokalnya, Sumiati telah mengeluarkan 275 album lagu kendang kempul. Di usianya yang sudah menginjak 55 tahun, Sumiati masih tetap eksis menyanyi kendang kempul. 

 “Jangan pernah iri dengan rezeki teman, terus jaga hubungan baik dengan semua orang. Rezeki bisa datang dari mana saja, terutama kawan,” pesan Sumiati, penyanyi kendang kempul yang tinggal di Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.

Sumiati mulai bernyanyi di usia lima tahun. Di usianya  yang sudah memasuki 55 tahun, dia masih kerap mendapat undangan untuk manggung hingga ke luar daerah seperti Bali. Rezekinya dari bernyanyi satu panggung ke panggung lain, masih terus ada.

Bagi Sumiati, hubungan baik dengan temanlah yang membuatnya masih terus mendapat panggilan nyanyi. Meskipun tak seramai dulu,  job nyanyi di acara pernikahan satu dua kali dalam sebulan, dianggap sudah cukup bagi ibu empat anak ini. “Undangan untuk menyanyi ada terus,” katanya.

Kulitnya mungkin sudah tidak seperti dulu. Fisik dan kecantikannya juga berkurang dimakan usia. Tapi, semangat dan auranya masih sama seperti 20 hingga 30 tahun lalu saat merajai belantika musik Banyuwangi dan Indonesia. Ditemui di rumahnya di Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, perempuan kelahiran 17 Agustus 1969 itu rupanya tengah sakit. Tensi darahnya tinggi sejak Sabtu, (14/12) lalu.

Saat menerima  penghargaan dari Pemkab Banyuwangi di momen Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-253 Rabu lalu (18/12), kondisi kesehatannya kurang fit. Demi menghormati Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, dia tetap hadir di tengah meriahnya puncak peringatan Harjaba ke-253.

Saat didatangi Jawa Pos Radar Genteng kemarin (20/12), Sumiati bercerita panjang perjalanan karirnya. Awalnya dia minta tidak difoto. Karena masih sering pusing, Sumiati tampil seadanya. Pakai daster dibalut jaket dan rambut yang acak-acakan. “Tidak terasa tahun ini tahun ke-50 saya berkarir,” katanya.

Dia mulai berkarir di usia lima tahun. Saat itu, Sumiati  diminta ibunya, Usnia, untuk menghibur salah satu warga yang menggelar hajatan. “Saya mulai nyanyi usia empat tahun, tapi mulai serius tampil di panggung saat berumur lima tahun,” kenangnya.  

Sumiati sebenarnya tidak suka menyanyi. Dia menyanyi  untuk bertahan hidup dan menuruti ajakan ibunya. Lama-lama, profesi itu dicintai juga. “Dulu bayaran saya cuma Rp 200 sampai Rp 500 repes, rasanya itu dulu sudah banyak,” katanya.

Pelan-pelan, nama Sumiati terus melejit. Satu per satu lbum ia hasilkan. Sekarang, penyanyi kendang kempul yang nge-hits dengan lagu ”Ojo Jawil-Jawil”  ini mengoleksi 275 album. “Dulu sering dibuatkan show (konser). Orang rela beli tiket buat nonton saya,” cetusnya.

Penyanyi  yang layak disebut Living Legend ini semakin ngetop setelah bisa menembus TV nasional. Puncaknya, penghargaan dari TPI (sekarang MNCTV) pada 1998. “Saat itu saya dapat penghargaan dengan Doyok, sebagai penyanyi duo terbaik,” ungkapnya.

Sejak saat itu namanya terus melambung. Tawaran untuk tampil di panggung-panggung besar terus berdatangan. Nama-nama beken seperti Inul Daratista, Ira Swara,  hingga almarhum Didi Kempot, kerap jadi teman nyanyinya. “Di usia 30-an, saya sering tampil di Jakartal,” katanya seraya menunjukkan fotonya bersama artis nasional dan bukti cover albumnya di gawai miliknya.

Meski sering tampil di Jakarta, Sumiati mengaku tidak sampai menetap di Jakarta. Menurutnya, dunia gemerlap di ibu kota tak cocok bagi anak kampung sepertinya. Sumiati enggan meninggalkan Banyuwangi. “Saya tidak pernah menetap di sana. Sejak dulu di Banyuwangi, hanya saat ada undangan saja berangkat ke sana (Jakarta),” katanya.

Padahal kala itu, nyaris setiap hari Sumiati dapat job bernyanyi. Setelah penghargaan dari TPI itu, Sumiati bisa tampil di dua sampai empat panggung dalam sehari. “Sebulan itu penuh jadwalnya, rumah ini juga salah satu hasil dari menyanyi,” terangnya.

Kecintaannya terhadap Banyuwangi yang membuatnya dihormati. Saking larosnya  Sumiati tidak pernah mematok tarif  ketika tampil, selama itu masih di Banyuwangi. “Saya tidak pernah pasang tarif. Terserah sudah, wong masih sama-sama Banyuwangi saja, kalau di luar Banyuwangi ya pasang, kan perlu transport,” katanya.

Rasa cinta kepada Banyuwangi ini juga yang ingin ditularkan kepada generasi muda yang tengah menggeluti bidang yang sama dengan dirinya. “Pesan saya, mulai cintai Banyuwangi. Jangan dikit-dikit nyanyi lagu (bahasa) Jawa. Kalau bisa dahulukan lagu Banyuwangi, biar terus naik,” pesannya.

Ia juga berpesan agar generasi muda siap untuk bekerja keras. Untuk bisa menjaga api eksistensi, Sumiati jelas sudah teruji. Meroket karir Sumiati berkat kerja keras dan konsistensi. “Saya sejak kecil dididik keras sama ibu, tapi keras untuk kebaikan,” katanya.

Ia masih ingat, ibunya akan mengancam memukulnya kalau tidak mau bernyanyi. Tanpa diduga, rasa takutnya berujung kepada kesuksesan hingga saat ini. “Saya jadi tulang punggung sejak kecil, bapak saya (Sauri) sudah bercerai dengan ibu sejak saya masih di gendongan,” kata perempuan yang pernah ”gila” karena dikirim ajian Jaran Goyang oleh seseorang pada medio 90-an ini.

Tak hanya itu, Sumiati juga harus merelakan masa mudanya. Ia mengaku tak pernah punya waktu bermain layaknya anak kecil pada umumnya. “Saya tidak pernah main-main kayak yang lain. Sejak dulu fokus kerja. Makanya pesan saya, penyanyi terutama wanita harus kerja keras. Apalagi ini momennya menjelang hari ibu juga,” pungkasnya. (sas/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#harjaba #daerah #budaya #seni #etnik #musik #Sumiati #kendang kempul #penghargaan #banyuwangi