RadarBanyuwangi.id – Andrew sempat putus asa karena tak pernah menang lomba matematika. Namun, berkat motivasi keluarganya, hingga kini puluhan prestasi sudah dia sabet.
Bahkan pada gelaran ASMOPSS beberapa waktu lalu, siswa kelas 9 SMP Katolik Santo Yusup Banyuwangi keluar dengan kalungan medali emas.
Puluhan piala berjejer rapi memenuhi ruang tamu kediaman Andrew Carnegie Tan di Kelurahan Sobo, Banyuwangi.
Dia adalah peraih medali emas dalam gelaran Asian Science & Mathematics Olympiad for Primary & Secondary Schools (ASMOPSS) ke-14 di Banyuwangi. Dalam olimpiade tingkat Asia tersebut, dia berhasil menyabet medali emas kategori Matematika SMP.
Menjadi pemenang perlombaan pada berbagai tingkatan memang sudah seperti hobinya. Sejak Taman Kanak-kanak (TK), Andrew, begitu dia akrab disapa, memang gemar mengikuti berbagai perlombaan matematika. Kegemaran tersebut sempat redup pada permulaan kelas 1 SD.
Penyebabnya, beberapa kali mengikuti perlombaan pada kurun waktu tersebut, Andrew selalu gagal. Bahkan, dia sempat seperti trauma ketika berhadapan dengan angka.
Namun, pada pertengahan akhir kelas 1 alias semester 2, Andrew bangkit lagi. Kemenangan di sebuah lomba tingkat provinsi seperti menjadi titik balik baginya. Sampai kelas 9 ini, sudah puluhan perlombaan matematika, mulai tingkat kabupaten hingga internasional, dijuarainya.
Bahkan ketika Jawa Pos Radar Banyuwangi mendatangi rumahnya pada Kamis (21/11), dia sedang bersiap berangkat ke Malang untuk mengikuti sebuah perlombaan matematika tingkat nasional.
”Waktu itu tiba-tiba nggak mau ikut lomba lagi, begitu. Sebab waktu awal-awal kelas 1 SD itu dia sering ikut lomba, tapi tidak menang. Jadi kayak trauma. Tapi waktu itu saya berikan motivasi lagi. Jadi kemudian semangat sampai sekarang ini,” ujar Inggrid Yuliani, ibu Andrew.
Menurut Inggrid, Andrew memang memiliki ketertarikan terhadap matematika sejak kecil. Selain itu, Andrew juga memiliki rasa penasaran yang tinggi. Misalnya saja, Inggrid bercerita, ketika putra sulungnya ini sering kali ikut-ikutan sepupunya untuk les. Padahal, dia pada saat itu belum waktunya mengikuti les karena masih terlalu kecil.
Dalam hal parenting, Andrew juga tidak terlalu dikekang. Menurut Inggrid, dia membebaskan buah hatinya ini untuk memilih bidang apa yang akan ditekuni. Dia hanya memberikan wawasan dasar saja.
”Jadi nggak menuntut. Apa yang saya bisa, saya ajarkan dulu. Nanti perkara hasilnya kan lihat nanti,” ungkap ibu tiga anak ini.
Bahkan, menurut Inggrid, Andrew juga diberikan kebebasan dalam mengatur waktu kegiatannya sendiri. Sejak kelas 2 SD, Andrew sudah dilepas untuk belajar sendiri ketika di rumah, tanpa dia dampingi. Tujuannya, agar Andrew bisa mandiri dan tidak bergantung.
”Semua anak memiliki potensi di bidangnya masing-masing. Nggak perlu kita terlalu memaksa anak untuk menekuni satu bidang atau iri kepada orang lain karena anaknya berprestasi di suatu bidang. Masing-masing anak punya potensinya sendiri. Bebaskan mereka mengembangkannya dan fasilitasi semaksimal mungkin. Yang penting passion-nya anak dapat terus terasah dan berkembang,” tutur Inggrid.
Sementara itu, Andrew mengaku merasa senang keluar sebagai peraih medali emas olimpiade matematika tingkat Asia tersebut. Menurutnya, dia memang menggemari matematika sejak kecil.
”Matematika itu asyik. Ngerjain soal itu menyenangkan. Entah. Ngerasa seru aja mengerjakan sesuatu yang kita sendiri suka,” ungkap siswa kelas 9 SMP Katolik Santo Yusup Banyuwangi tersebut.
Dari beberapa cabang dalam matematika, Andrew mengaku paling menyukai geometri. Menurutnya, mempelajari geometri menyenangkan.
Sebab, berisi gambar-gambar dan dia sekaligus dapat membayangkan bentuk yang sedang dikerjakan dan dihitung.
Karena menggemari matematika, proses belajarnya pun dia nikmati. Bukan hanya ketika ada ujian atau akan menghadapi lomba, waktu luang pun dia gunakan untuk mengerjakan soal-soal matematika.
”Sering tuh ada soal di FYP Instagram (IG). Lumayan asyik. Kalau nganggur, buka IG, lewat soal di FYP, terus aku kerjakan, minta kertas ke mama,” terang Andrew.
Selain menggemari matematika, siswa berusia 14 tahun ini juga menggemari mata pelajaran lain. Di antaranya informatika, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan mapel yang sering membutuhkan praktik seperti seni dan budaya. Andrew juga memiliki hobi bermain musik keyboard dan gitar.
”Musik dimainkan waktu gabut aja sih. Kadang kalau lagi bosan gitu terus megang gitar di kamar, tergantung mood juga soalnya,” ujar putra sulung pasangan Inggrid Yuliani dan Handi Siswanto itu.
Andrew mengaku tidak memiliki trik khusus agar dapat berprestasi. Yang jelas, dia menikmati proses belajarnya selama ini.
Oleh karena itu, dia memberikan motivasi untuk para siswa lain agar menikmati setiap proses pembelajaran, salah satunya matematika. ”Matematika itu asyik dan menyenangkan. Semangat!” pungkasnya. (Rizqi Hasan/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin