Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Penulis Andal Banyuwangi Moh Husen Luncurkan Buku Kelima Berjudul Jejak Kritik, Esai-esainya Siratkan Kritik, di Desa Hewan Saja Dihormati

Syaifuddin Mahmud • Senin, 18 November 2024 | 20:11 WIB
(Dari kanan) Samsudin Adlawi, Moh. Husen, Fatah Yasin Noor, dan Aekanu Haryono pada sebuah diskusi kecil di kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi pada Rabu (13/11) sore.
(Dari kanan) Samsudin Adlawi, Moh. Husen, Fatah Yasin Noor, dan Aekanu Haryono pada sebuah diskusi kecil di kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi pada Rabu (13/11) sore.

RadarBanyuwangi.id - Jejak Kritik adalah karya kelima Moh. Husen. Menggunakan bahasa santai namun berisi, antologi esai ini layak untuk dibaca.

Bahkan, beberapa tokoh Banyuwangi mengapresiasi buku yang juga diberi pengantar oleh Samsudin Adlawi ini.

Kritik itu penting. Sebab, kritik adalah instrumen kunci perubahan. Gagasan tersebut yang ingin disampaikan oleh Moh. Husen dalam buku terbarunya yang berjudul Jejak Kritik. Buku tersebut merupakan karya kelima dari jurnalis asli Banyuwangi ini.

Buku ini berisi 23 esai terbaik yang dia tulis sepanjang tahun 2023. Jejak Kritik dapat dibaca tanpa perlu mengerutkan dahi.

Berbagai tema disajikan dengan empuk dan berisi. Husen memang gemar menulis sejak SMA. Gairah menulisnya bangkit waktu dia membaca Markesot-nya Emha Ainun Najib alias Cak Nun.

Di mata Husen, budayawan kondang itu dapat mengemas berbagai topik dengan santai, tapi serius. Terlebih, Cak Nun cukup produktif menghasilkan banyak karya.

”Semenjak membaca karya Cak Nun, keinginan untuk menulis tidak bisa ditunda. Bahkan, kepala terasa pusing jika tidak dituangkan dalam tulisan,” ujar pria yang juga menjadi anggota Lesbumi Banyuwangi ini.

Hal yang paling Husen ilhami dari Cak Nun adalah produktivitas menulis dengan bahasa yang cair. Sehingga tak ayal, lima buku yang Husen tulis sejak 2019 juga tidak jauh berbeda dari tipikal karya Cak Nun—santai tapi berbobot.

Buku Jejak Kritik ini salah satunya. Sebagaimana judulnya, setiap esai yang dimuat dalam buku ini menyiratkan kritik.

Namun, judul-judulnya tidak terasa pedas atau menyolok mata. Misalnya saja esai berjudul ”Di Desa, Hewan Saja Dihormati”, yang menurut Husen adalah favoritnya.

Esai tersebut, kata Husen, terilhami dari ritual Keboan di Aliyan. Husen mengajak pembacanya untuk belajar dari tradisi warga dalam rangka penghormatan terhadap kerbau karena telah membantu membajak sawah mereka.

”Kagum saja dengan orang zaman dulu, hewan saja dihormati, apalagi manusia. Lha, orang zaman sekarang? Menghormati manusia saja sulitnya minta ampun, apalagi menghormati hewan,” kata pria yang berdomisili di Desa/Kecamatan Rogojampi tersebut.

Nada tulisan dan gagasan yang dimiliki Husen dalam buku kelima ini mendapat apresiasi dari Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi. Pengasuh kolom mingguan Man Nahnu tersebut mengagumi buku ini bahkan sejak dari judulnya.

”Seolah dia (Husen) menyalakan lampu peringatan bahwa kritik itu penting. Bagian penting dari sebuah perubahan, bahkan peradaban,” tulisnya dalam pengantar buku yang diterbitkan oleh Putra Surya Santosa ini.

Samsudin juga mengapresiasi stilistika Husen dalam menulis. Menurutnya, kritik memang harus disampaikan dengan nilai-nilai keadaban.

Sebab, setajam apa pun kritik, jika dibungkus dengan penyampaian yang memesona, akan menjadi pelecut perbaikan diri bagi yang dikritik.

”Disajikan dengan bahasa ringan, tapi renyah. Sangat nikmat dijadikan teman dalam perjalanan mengarungi kehidupan,” tutur Samsudin.

Budayawan Banyuwangi Aekanu Haryono juga menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, Husen selalu menghadirkan isu-isu terkini dalam tulisannya.

Apalagi, alur pembahasan Husen mudah diikuti. Tidak perlu mengerutkan dahi untuk dapat mengikuti alur tulisannya. ”Dan yang lebih saya kagumi dari Husen ini, dia pinter, tapi tidak pernah keminter,” tutur Aekanu.

Tak berhenti di sana, penyair gaek Banyuwangi Fatah Yasin Noor juga turut mengapresiasi Husen. Bahkan, dia juga mengajak masyarakat untuk membaca dan mengapresiasi buku Jejak Kritik.

”Saya kenal betul dengan Husen. Dia beberapa kali meminta bimbingan kepada saya. Jadi, saya bisa menjamin bahwa buku ini wajib dibaca dan layak untuk diapresiasi!” tandasnya dalam sebuah diskusi kecil bersama Moh. Husen, Samsudin Adlawi, dan Aekanu Haryono pada Rabu (13/11) di kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi. (aif/c1)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Jejak Kritik #penulis #buku #hewan #Moh Husen #desa #esai #banyuwangi