RadarBanyuwangi.id - Penemuan jenazah DC di kebun sengon Kalibaru, Banyuwangi, ternyata cukup dramatis.
Setelah dilakukan pencarian, bocah berusia 7 tahun itu akhirnya ditemukan dengan kondisi sudah tak bernyawa.
Pencarian melibatkan orang tua korban, guru, dan kepala sekolah Heru Prayitno. Seluruh tempat dicari, termasuk jalan pulang korban sehari-harinya.
”Begitu ada kabar DC hilang, saat itu kami mencari bersama-sama,” ujar Heru Prayitno, 42, kepala madrasah ibtidaiyah (MI) tempat korban sekolah, Kamis (14/11).
Pencarian akhirnya membuahkan hasil. Tubuh bocah malang itu ditemukan tergeletak di kebun sengon yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya.
”Saat kami menemukan DC, posisinya terlentang, rok yang dikenakan sudah terlepas,” kata Heru.
Menurut Heru, sesuai jadwal para siswa kelas 1 pulang pada pukul 10.00. DC harusnya sudah sampai di rumah sekitar pukul 10.10.
”Korban ini biasanya dijemput oleh ibunya, tapi sejak Senin tidak dijemput,” katanya saat ditemui di rumah duka.
Karena tak kunjung pulang hingga pukul 10.15, Heru mengatakan bahwa ibu korban sempat menghubungi wali kelas DC, Nurul Holifah, 30, via WhatsApp (WA).
”Ibu korban bilang kalau anaknya belum pulang. Kami diminta mencari di sekitar sekolah, mungkin masih main,” ucapnya.
Di waktu yang bersamaan, sekitar pukul 10.30, ibu korban mencari DC di rumah teman-teman sekolahnya, namun tidak ketemu.
”Sekitar 20 menit kemudian, kami tujuh orang dari sekolah kembali dan tidak menemukan, ibu korban mengabari kalau (DC) masih belum pulang,” terangnya.
Heru menyebut, pada pukul 11.00, ibu korban ke sekolah dan mengajak untuk kembali mencari putrinya di jalan sepi yang biasa dibuat korban berangkat dan pulang sekolah secara bersama-sama.
”Yang ikut mencari delapan orang dari sekolah, perangkat desa, dan ibu korban. Kami menyisir sungai juga,” ucapnya.
Belum lama menyisir sungai, sekitar pukul 11.20 ibu korban berhasil menemukan sepeda kayuh anak keduanya itu. Ibu korban terlihat panik dan meminta semua orang yang mencari untuk menyebar.
”Berjarak 20 meter dari sepeda, kami menemukan korban dengan kondisi yang memprihatinkan itu,” tuturnya.
Saat itu ibu korban langsung meneriakkan nama putrinya dan merangkul DC yang sudah lemas. Tak lama kemudian, ibu itu pingsan di lokasi tersebut.
”Ibu korban pingsan, tubuh DC saya gendong dan dibawa ke Klinik NU,” ungkap Heru.
Pada pukul 11.30, DC dilarikan ke klinik. Sedangkan Heru datang ke Polsek Kalibaru untuk melapor dengan baju yang masih berlumuran darah korban.
”DC dinyatakan meninggal, kemudian dibawa ke RSUD Genteng dengan menggunakan ambulans,” tandasnya.
Sementara itu, pada Rabu (13/11) malam, kepolisian mendatangkan dokter spesialis forensik dari Jember dr Muhammad Afiful Jauhani untuk menguak tabir penyebab kematian korban.
”Kami cuma memfasilitasi tempat saja, untuk hasilnya diserahkan ke kepolisian. Jenazah korban diserahkan ke keluarga pukul 03.00 (kemarin),” kata Direktur RSUD Genteng dr Hj Asiyah Anggraeni.
Jenazah DC selanjutnya oleh keluarganya dimakamkan sekitar pukul 04.00 di tempat pemakaman umum (TPU) yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah korban.
”Ada 30-an orang yang ikut memakamkan, kalau di sini (TPU) cuma tetangga yang datang. Keluarga ada di rumah duka karena masih histeris,” kata salah satu tetangga korban, Suyati, 57. (sas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin