RadarBanyuwangi.id – Lebih dari satu tahun Asnaya tinggal di tengah area tempat pembuangan sampah (TPS) di Lingkungan Wonosari, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi.
Selama tinggal di tempat kumuh itu, wanita berusia 60 tahun tersebut menampung puluhan kucing liar yang dibuang oleh pemiliknya.
”Kopi Susu, Unyil, Pipis,” seru Asnaya kepada kucing-kucing peliharaannya. Tak lama, tiga ekor kucing kecil disusul belasan kucing lainnya muncul dari dalam rumah papan di tengah tumpukan sampah.
Kucing-kucing itu dengan manja berlompatan di kaki Asnaya. Salah satu kucing berwarna oranye digendong, lalu diusap-usap bagian mulutnya. Kucing itu tampak pasrah meski tangan Asnaya mengusap dengan keras.
”Kucing ini dulu dibuang, wajahnya penuh koreng. Jelek sekali, lalu saya belikan balsem Hongkong di Sin She dicampur dengan belerang. Sekarang sudah sembuh,” ujar Asnaya.
Kucing yang diberi nama Pipis itu hanya satu dari puluhan kucing yang dirawat Asnaya. Rata-rata kucing yang dirawat adalah kucing liar yang dibuang pemiliknya.
Berkat ketelatenan Asnaya, kucing-kucing itu kembali sehat dan terlihat ceria. Bahkan, beberapa di antaranya tak lagi seperti kucing liar.
Asnaya merawat kucing-kucing tersebut karena iba. Dia tidak tega makhluk-makhluk kecil itu dibuang sembarangan.
Asnaya belum terlalu lama tinggal di kawasan tempat pembuangan sampah. Dulunya dia tinggal di dalam area Pantai Boom, tak jauh dari lokasi biliar di dekat pintu masuk Pantai Boom.
Setelah Pantai Boom direvitalisasi, Asnaya harus angkat kaki dari sana. Dia dapat ganti rugi berupa sepetak tanah di area Kelurahan Klatak.
Karena lokasinya terlalu jauh, Asnaya menjual tanah tersebut. Dia memilih tinggal berpindah-pindah tempat.
Sampai akhirnya pada awal 2023, Asnaya meminta izin untuk menempati tanah di tengah TPS Kelurahan Sobo.
Setelah itu, ibu dua anak itu membangun sebuah rumah papan di tengah TPS berbekal bahan-bahan buangan.
”Saya tinggal sendiri, dua anak saya merantau ikut suaminya,” kata Asnaya.
Saat tinggal di TPS itulah, Asnaya kerap menemukan sejumlah kucing dibuang pemiliknya.
Kondisinya bermacam-macam. Ada yang datang penuh luka, kena penyakit kulit, bahkan dalam kondisi sekarat.
”Saya tidak tega, kucing-kucing itu juga makhluk hidup. Jadi, saya rawat sebisanya,” kata Asnaya.
Berbekal insting, Asnaya merawat bermacam kucing yang dibuang di tempatnya. Entah itu kucing ras atau kucing kampung, tetap dirawat dengan sepenuh hati.
Dia bahkan berusaha untuk bisa memberi makan kucing-kucing dengan baik. Dalam sehari Asnaya menyiapkan 1 kilogram beras untuk makan kucing.
Setelah jadi nasi dicampur dengan kepala ayam yang dibeli dari salah seorang pedagang yang berjualan tak jauh dari tempatnya.
Karena tak punya pekerjaan yang jelas, Asnaya kerap berutang untuk membeli beras dan kepala ayam.
Asnaya kerap mengandalkan sedekah dari para dermawan yang tiba-tiba datang ke tempatnya.
”Kalau tidak punya uang, ya utang dulu. Yang penting kucingnya bisa makan. Kalau tidak saya, siapa lagi yang memberi makan,” ucapnya.
Pernah suatu ketika Asnaya menemukan kucing yang dibuang bersama dengan anak-anaknya.
Kucing itu dibuang malam hari saat dia tidur. Sayup-sayup dia mendengar ada suara kucing kecil. Ternyata ada lima anak kucing dan induknya yang dibuang.
”Sayangnya induknya meninggal, padahal masih nyusu semua. Saya coba kasih makan tetap meninggal,” kenang Asnaya.
Meski sudah menampung puluhan kucing, wanita asal Parusuan itu mengaku tak merasa kerepotan jika harus merawat banyak kucing.
”Kadang ada saja orang baik yang memberi sedekah. Tiba-tiba ada beras ditaruh di depan pintu, kadang ada yang memberi ikan. Saya anggap itu rezekinya kucing. Nabi saja sayang dengan kucing, kalau bisa jangan dibuang,” kata Asnaya sembari mengusapi kucing-kucingnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin