RadarBanyuwangi.id – Covid 19 memaksa Hardiyanto Kurniawan, 43, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, berhenti bekerja sebagai pelaut di kapal pesiar.
Usaha bertani yang dirintisnya bangkrut, namun kini bangkit dengan membuka usaha kuliner Mie Ayam Purwo.
Bekerja di kapal pesiar sejak 2004 dengan gaji mencapai Rp 60 juta per bulan pernah dirasakan Hardiyanto Kurniawan, 43, warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Purwoharjo.
Saat itu, hiudpnya serba kecukupan. Pandemi Covid 19, telah merubah jalan hidupnya.
Sejak ada Covid 19 pada 2019, para pekerja Indonesia di kapal pesiar dipulangkan perusahaan kapal pesiar, termasuk Hardiyanto Kurniawan.
Itu dampak penghentian global kegiatan kapal pesiar. Bapak empat anak ini harus pulang ke kampung halamannya pada Februari 2020.
Sejak itu, harus memutar otak untuk bertahan hidup. Maklum, selama 16 tahun bekerja di Kapal Pesiar Holland America Line, dan lima tahun terakhir posisinya sebagai manager restoran.
“Industri kapal pesiar tutup, saya kembali ke kampung halaman untuk mulai berpikir bertahan hidup,” ungkap Hardiyanto Kurniawan.
Sejak pulang kampung itu, hampir setahun Hardiyanto menganggur. Hidupnya hanya mengandalkan uang hasil tabungan dari bekerja di kapal pesiar.
Lama-lama, uang simpanannya juga menipis dan nyaris habis. Asetnya juga sudah banyak yang dijual. Saat itu, yang tersisa satu unit mobil Honda Jazz yang akhirnya harus dijual juga dan laku Rp 210 juta.
“Uang hasil jual mobil ini yang saya buat untuk usaha tanam cabai dan jeruk selama Covid-19,” ujarnya.
Karena baru kali pertama bertani, usaha pertanian tanam cabai dan jeruk itupun bangkrut.
Maklum, selain masih belum berpengalaman bertani, harga cabai juga sedang murah akibat tidak bisa dijual akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
“Saat itu panen sih cabainya, cuma harganya murah, saat itu harganya hanya Rp 7.000 per kilogram,” cetusnya.
Uang hasil jual mobil telah terpakai untuk bertani, yang tersisa hanya Rp 15 juta. Karena sudah mentok, uang itu dibelikan satu ekor sapi yang disembelih saat Hari Raya Idul Adha.
“Saya sudah pasrah, karena tidak ada jalan lain kecuali sedekah,” katanya.
Tak berselang lama, usai sedekah satu ekor sapi yang disembelih saat Idul Adha, ada rezeki yang tak terduga.
Istrinya, Tinitah Putri Utami, 35, mendapat hadiah liburan ke Moskow, Rusia.
Karena sedang Covid-19, tidak bisa bepergian ke luar negeri dan diganti uang tunai sebesar Rp 75 juta.
“Uang hadiah liburan keluar negeri itu dibuat modal buka toko Sembako Pomo Grosir di Purwoharjo ini,” jelasnya.
Usai membuka usaha toko grosir sembako di dekat Pasar Purwoharjo itu, tak disangka aset tanah miliknya di Jalan Borobudur Purwoharjo yang dulu dibeli hanya Rp 60 juta, ternyata ditawar oleh seseorang dengan harga cukup fantastis, yakni Rp 500 juta.
“Uang jual tanah itu untuk tambahan modal buka usaha toko sembako yang saya berinama Pomo Grosir, itu mengambil nama ayah saya,” terangnya.
Usai menerima banyak nikmat yang tak terduga itulah, akhirnya pola pikirnya mulai diubah, yakni menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.
Salah satunya mengangkat enam anak yatim piatu untuk dijadikan karyawan di toko grosir miliknya. Mereka diajari dan dilatih.
“Anak yatim itu santri Pondok Pesantren Bahrul Huda di Dusun Purworejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, kebetulan saya kenal kiainya. Para santri itu kini telah pulang ke keluarganya,” tutur alumni SMAN 1 Genteng ini.
Karyawan toko grosir miliknya itu, juga memperkerjakan keluarga tak mampu.
Ada ibu dan dua orang putrinya yang kini bekerja juga tak memiliki pekerjaan akibat pandemi Covid 19. Mereka bekerja di Bali dan dirumahkan.
Baru pada Januari 2024, usahanya kian moncer dengan merintis kuliner Mie Ayam Purwo (MAP) yang berada di dekat toko grosir Pomo sembako miliknya di utara Pasar Purwoharjo. Jualan Mie Ayam Purwo ini bukan dianggap sembarangan.
“Saya berani membuka Mie Ayam Purwo dengan bekal pengalaman pernah mejadi manager restoran kapal pesir yang membawahi hampir 200 orang, saya menerapkan ilmu itu,” ungkapnya.
Berbagai menu masakan mie special dari berbagi negara, disajikan dengan tampilan yang berbeda. Ia berkeinginan mengenalkan menu kuliner Banyuwangi bisa go internasional.
“Sepanjang berkarier, belum pernah ada masakan Indonesia apalagi Banyuwangi dikenal wisatawan asing,” ujarnya.
Usaha kuliner Mie Ayam Purwo yang dirintis Hardiyanto Kurniawan, kini memiliki banyak pelanggan dan kesehariannya tidak pernah sepi.
Diantara pembeli, tidak sedikit yang memesan secara online. Malahan, tamu dari berbagai negara yang berkunjung ke Banyuwangi juga banyak yang mampir ke Mie Ayam Purwo di Desa/Kecamatan Purwoharjo.
“Mohon doanya, bulan ini kami akan buka cabang Mie Ayam Purwo di Genteng,” pungkasnya. (ddy/abi)
Editor : Ali Sodiqin