RadarBanyuwangi.id – Pelukis kenamaan Indonesia sekaligus pelukis senior Banyuwangi, S. Yadi K. berpulang, Kamis pagi (12/9).
Yadi mengembuskan napas terakhir pada usia 66 tahun di RSUD Blambangan akibat sakit yang diderita.
Kondisi kesehatan pria yang memiliki nama asli Supriyadi Kusnan ini sudah cukup lama menurun.
Namun, dalam kondisi kurang sehat, perupa yang tinggal di Jalan Widuri, Kelurahan Banjarsari, tersebut masih saja menyempatkan waktu untuk melukis.
Menggoreskan imajinasi di atas kanvas adalah bagian dari hidup pria kelahiran 6 Agustus 1958 tersebut.
Nama S. Yadi K. sangat familier di kalangan seniman Banyuwangi.
Dia juga aktif di Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dan menjadi tempat konsultasi para pelukis dari beragam aliran seni rupa.
Yadi nyaris tak pernah melewatkan undangan untuk hadir di acara-acara seni.
Kehadiranya menunjukkan bagaimana kecintaannya pada dunia seni yang cukup tinggi. Namun sejak Kamis (12/9) pagi, sosok Yadi tak akan lagi terlihat pada kegiatan seni-seni di Banyuwangi.
Pelukis yang karyanya banyak dipasang di Istana Negara telah berpulang.
Bapak empat anak itu harus menyerah dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang dideritanya selama setahun terakhir.
Suami dari Hotimah Syam itu mengembuskan napas terakhirnya di ruang ICU RSUD Blambangan. Kepergiannya pun disambut duka mendalam dari para seniman di Bumi Blambangan.
Apalagi, pria yang dikenal sebagai pencinta kopi itu masih punya banyak rencana untuk dunia seni di Banyuwangi.
Putri sulung Yadi, Eka Septi Wahyupeni, 38, menceritakan, ayahnya meninggal dunia sekitar pukul 08.39 pagi.
Sejak semalam sebelumnya, kondisi kesehatan ayahnya terus memburuk akibat penyakit paru yang dideritanya.
Tidak ada yang menyangka Yadi akan berpulang keesokan harinya.
Apalagi pada malam harinya, kakek tujuh cucu itu masih berbincang dengan anak-anaknya.
Termasuk membicarakan tentang rencana untuk menerbitkan buku biografinya.
”Sebelum meninggal bapak sempat bilang ke adik ipar supaya jangan merokok, mungkin karena merasakan penyakitnya,” kata Septi.
Perempuan yang akrab disapa Echi itu menambahkan, ayahnya sempat memiliki rencana untuk berfoto keluarga.
Tapi rencana itu tak kunjung terwujud karena ada saja anggota keluarga yang belum bisa berkumpul.
Yang terakhir, dia bersama keluarga sudah mengagendakan waktu untuk berfoto bersama pada pertengahan September ini.
Termasuk sudah menghubungi fotografer yang akan mengambil potret keluarga.
Tapi sebelum rencana itu terwujud, kondisi kesehatan Yadi mendadak memburuk.
Sampai akhirnya keluarga memutuskan jika nanti kondisi kesehatan Yadi membaik, fotografer akan diundang ke rumah untuk bisa memfoto keluarga besarnya.
”Saya sudah mengatur jadwal karena kemarin menunggu suami saya dan adik datang. Tapi bapak lebih dulu masuk rumah sakit, jadi sudah tidak kepikiran lagi,” kenang Echi.
Foto keluarga itu rupanya akan digunakan Yadi untuk menyempurnakan buku biografi tentang dirinya.
Buku yang juga ditulis kurator nasional Agus Darmawan T. tersebut sebenarnya sudah jadi.
Tinggal menunggu foto terakhir, yakni foto keluarga Yadi sebagai pelengkap buku tersebut.
”Bapak selalu ingin berkontribusi untuk dunia seni. Termasuk rencana penerbitan buku biografi dirinya,” ucap Echi.
Yadi dikenal sebagai salah seorang pelukis kenamaan Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional.
Sebagian karyanya juga mewarnai Istana Negara. Pameran tunggalnya pernah dihelat di Edwin Gallery dan Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Salah satu karyanya berjudul ”Paju Gandrung” bahkan menjadi salah satu koleksi Istana Negara. Nama Yadi cukup terkenal di Bali.
Pria yang ikonik dengan rambut yang selalu dikuncung ke belakang itu memiliki galeri lukisan di Ubud Bali.
Putra Bungsu Yadi, Firman Aji Krisna Prasojo, mengatakan, aktivitas ayahnya di dunia lukis sempat berkurang sejak tahun 2016 silam.
Karena kondisi kesehatannya, pria yang hobi memancing itu sudah tak lagi menggelar pameran tunggal.
Pun dalam aktivitas melukisnya, Yadi juga tak melukis sebanyak biasanya. Dia lebih banyak membantu mereparasi lukisan-lukisan lama dan hanya sesekali melukis jika ada yang dingin dilukisnya.
”Bapak sudah jarang melukis, terakhir ya lukisan tentang ikan. Tapi bapak masih semangat sekali dengan dunia lukisan,” imbuhnya.
Terkait pesan terakhir ayahnya, Aji ingin menuntaskan penerbitan buku biografi.
Apalagi, dari keempat anaknya, hanya Aji yang melanjutkan bakat seni dari Yadi di dunia seni lukis.
”Bukunya sudah tinggal menerbitkan saja. Sebenarnya bapak ingin ada foto keluarga di belakangnya, tapi tidak kesampaian,” kata Aji. (aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin