RADAR GENTENG – Industri kerajinan tas dengan bahan dari kulit ular kualitas ekspor asal Banyuwangi, Jawa Timur, kini sedang lesu.
Sejak dilanda Covid-19, pengiriman kerajinan ke luar negeri merosot tajam.
Salah seorang pengusaha fashion berbahan kulit ular, Muhamad Rofiq asal Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi mengatakan, usaha kerajinan tas kulit reptil kini sedang lesu.
Usaha yang dirintis sejak tinggal di Bali pada 2009, kini tidak seramai dulu.
“Awalnya kerajinan tas dari kulit lembu, domba, dan kambing. Baru pada 2010, mencoba menggunakan kulit ular,” katanya.
Saat memulai menggunakan bahan baku kulit ular, Rofiq kembali ke kampung halamannya. Di rumahnya ini, melanjutkan usahanya.
“Usaha terus berkembang dengan angka permintaan yang semakin bertambah setiap tahunnya. Tas kulit ular masuk pasar Korea Selatan hingga Rusia,” ujarnya.
Menurut Rofiq, kulit ular memiliki nilai estetis dan ekonomis. Bila dikembangkan menjadi aksesori mewah seperti tas dan dompet.
Menggunakan kulit ular memberikan kesan lebih eksklusif. “Pasarnya jelas, kelas menengah ke atas,” ujarnya.
Rofiq mengaku selama ini mendapat pasokan kulit ular mentah dari pengepul asal Sumatera dan Kalimantan yang telah mengantongi izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
“Kita ambil kulitnya itu dari tempat yang legal. Pengepul kami sudah mengantongi Surat Tangkap Dalam Negeri,” jelas Rofiq.
Untuk kerajinan tasnya, Rofiq khusus menggunakan bahan baku dari kulit ular jenis Phyton repticula dan Phyton dismay dari hutan di Sumatra dan Kalimantan.
Selain motif kulitnya cantik, dua jenis ular ini bisa tumbuh sangat besar hingga panjangnya mencapai tujuh meter.
“Penggunaan kulit ular sebagai bahan baku pembuatan tas ini memiliki nilai jual tinggi,” terangnya.
Untuk tas dengan bahan kulit ular ini, jelas dia, dibanderol mulai Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.
Sejumlah kolektor, banyak yang terkejut saat membeli produknya di Singapura dan beberapa negara lain dengan harga yang cukup tinggi.
“Tamu saya baru tahu jika itu produk buatan Indonesia dan berasal dari Banyuwangi, di luar negeri harganya jadi mahal sekali,” jelasnya.
Tidak heran jika pembeli produk fashion buatan Rofiq, berasal dari kalangan menengah ke atas. Beberapa di antaranya kolektor fashion.
“Kami hanya produksi bahan baku saja, masih belum produksi barang jadi, karena terkendala pengiriman ke negara tujuan dampak dari pandemi ini,” tandasnya. (ddy/abi)
Editor : Ali Sodiqin