RadarBanyuwangi.id – Usaha rumahan telur asin di Dusun Jambean, Desa Jambesari, Giri, Banyuwangi, berkembang cukup pesat dalam lima belas tahun terakhir.
Tak hanya itu, usaha kecil tersebut kini bisa menampung pekerja lokal yang rata-rata diisi para lansia.
Deretan baskom berisi air bersih berjajar di depan rumah Sai Bunawan, 55, warga Dusun Jambean, Desa Jambesari, pagi itu.
Di sebelahnya beberapa orang lansia pria dan wanita duduk di sebelah deretan baskom.
Tak lama, ada yang menaruh tumpukan telur bebek dari krat karton yang masih tampak kotor. Para lansia itu lalu mengambil satu per satu telur dan mencucinya hingga bersih.
Cangkang telur bebek yang dipenuhi tanah digosok dengan sabut besi untuk menghilangkan endapan tanah yang menempel.
Setelah bersih, telur kemudian direndam ke dalam larutan air garam. Selanjutnya air rendaman ditimpa dengan kerikil sembari menunggu proses pengasinan telur berlangsung.
”Pembuatan telur asin ini saya mulai sejak tahun 2009. Sebelumnya saya bekerja jadi kuli batu. Terus coba-coba membuka usaha telur asin,” tutur Sai Bunawan, pemilik usaha telur asin.
Perlahan namun pasti, usaha yang digeluti Sai mulai membuahkan hasil. Awalnya, Sai hanya menjual telur asin di sekitar rumahnya saja.
Seiring berjalannya waktu, permintaan semakin banyak. Sai mulai berani menjual hingga ke Pasar Blambangan, Pasar Banyuwangi, Pasar Karangrejo, dan Pasar Tiga Berlian.
Sai menceritakan, tidak ada yang spesial dari telur asin produksinya. Namun, bapak tiga anak itu berupaya untuk membuat telur yang dibuatnya benar-benar bersih.
Tak heran jika setiap hari ada belasan orang yang bertugas hanya untuk membersihkan cangkang telur agar benar-benar bersih.
”Prosesnya sama saja, cuma saya usahakan bersih. Air garamnya saya gunakan garam kasar,” jelas Sai.
Untuk proses pengasinan, butuh waktu rata-rata tujuh hari sampai semua bagian telur terasa asin. Telur sengaja ditumpuk dengan kerikil supaya tidak mengambang dan bisa asin merata.
”Rata-rata prosesnya tujuh hari. Tapi kadang pasar butuh cepat, empat lima hari sudah diminta,” imbuh Sai.
Sekarang, Sai sudah bisa memproduksi sampai seribu butir telur per hari. Bahan bakunya didapat dari beberapa peternak bebek petelur di Banyuwangi. Seperti di Kecamatan Songgon dan Rogojampi.
Selain itu, Sai juga memiliki peternakan bebek petelur sendiri dengan kemampuan produksi 400 butir telur per hari.
”Saya punya peternakan sendiri, baru kalau kurang ambil dari luar. Setelah usaha ini berkembang, ya saya sudah tidak kerja kuli batu lagi,” jelasnya.
Dari usahanya, Sai mengaku mendapat omzet kotor sekitar Rp 3 juta per hari. Dia juga bisa mempekerjakan belasan lansia yang sudah tidak produktif di sekitar tempat tinggalnya.
Mereka dibayar untuk membersihkan telur bebek dengan upah Rp 100 per butir.
”Selain memasok pasar-pasar di Banyuwangi, kadang saya mengirim ke Bali. Pekerja lansia yang rutin bekerja di sini ada 15-an orang. Tapi kalau mereka ada pekerjaan lain ya boleh libur. Yang penting bisa saling bantu,” kata Sai. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin