RadarBanyuwangi.id – 30 Tahun lalu, Banyuwangi pernah dilanda tsunami. Itu terjadi pada tanggal 2 Juni 1994, beberapa jam pasca gempa dahsyat.
Bencana alam yang dipicu gempa bumi tektonik ini menewaskan ratusan warga Kota Gandrung.
Tsunami di masa Presiden Soeharto itu terjadi di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Tsunami di Banyuwangi tercatat paling besar kedua setelah tsunami yang melanda Pulau Flores pada 12 Desember 1992 pasca gempa berkekuatan magnitudo 7,2 SR.
Di Banyuwangi, gempa bumi tektonik berpusat di Samudera Hindia dengan magnitudo 7,2 SR.
Efek gempa yang disertai tsunami dirasakan hampir di semua pantai di Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, hingga Pacitan.
Dari catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 250 orang meninggal dunia saat itu.
Sebanyak 127 orang dinyatakan hilang, dan 423 luka-luka. Selain itu, 1.500 rumah dan bangunan lain rusak parah, serta 278 perahu rusak dan hilang.
Tepat 30 tahun setelah tragedi tsunami pancer, saat ini beredar video suasana paska gempa dan tsunami saat itu.
Video tersebut diunggah akun Instagram @Bwi.Info. Banyak warganet yang ikut terkenang peristiwa tragis tersebut.
Akun Instagram @yosomulyopurwanto mengomentari video tsunami pancer;
“Saya bagian dari relawan yang turun membangun rumah rumah warga bernama TNI dan polri serta para anggota Pramuka bergabung sama relawan lainnya.
Tidur di area tambak dan masak dengan kayu seadanya.
Termasuk kadang juga kayu patok atau Maesan dari pemakaman yang pinggiran pantai,” tulis @yosomulyopurwanto
Akun IG @aybige49 juga menanggapi: “Ingat betul waktu peristiwa ini,org"pada rombongan k'sna naik truk buat ngelihat...eeh ada satu tetanggaku sdh lansia mlah trtinggal di sna,sadar"sdh di rmh bahwa tuh nenek"ngk ikut k'angkut pulng,” tulisnya.
“Saksi hidup ganasnya tsunami pancer sekarang adalah ibu mertua saya,” tulis @zhandhiirawan di kolom komentar
Bahkan, pemilik akun IG @al__karomi menceritakan peristiwa tersebut secara detail:
“Waktu ke sana, ada jenazah orang China yg belum d makamkan udah d kafani masih menunggu sodaranya. Konon keluarga masih ilang tapi keluarga yg d Surabaya yg mau ambil. Ada juga anjing pelacak yg muntah2 setelah mengendus tumpukan kayu kayu rumah korban, d bongkar lah tumpukan itu dan d temukan jenazah. Ada rapot anak SD yg masih ada foto nya, nilainya pun tak luntur tapi pemilik nya entah d mana. Ada bayi yg ditemukan nyangkut d atas pohon lengkap dg kasur nya. Tapi orang tuanya tidak ada,” tulisnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin