Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenang Tsunami Pancer Banyuwangi 30 Tahun Lalu; 33 Jenazah Terpaksa Dibiarkan Tak Dikubur Selama Dua Hari

Ali Sodiqin • Sabtu, 8 Juni 2024 | 18:57 WIB
Tangkapan layar peristiwa tsunami Pancer Banyuwangi.
Tangkapan layar peristiwa tsunami Pancer Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Bencana tsunami yang meluluhlantahkan kawasan pesisir selatan Banyuwangi pada 1994 menjadi pengalaman tidak terlupakan bagi mantan wakil Bupati Banyuwangi, Abdul Kadir.

Tsunami dahsyat itu terjadi di tahun keempat saat Abdul Kadir menjabat Kepala Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Saat itu, usianya masih belum genap 30 tahun.

Saat itu, Kadir mendapat informasi ada banjir di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran.

Kabar itu disampaikan Sujai, sopir mobil pikap saat akan mengambil manten. Namun, Abdul Kadir curiga dan tidak percaya. Sebab, kabar itu dianggap bertolak belakang dengan kondisi cuaca saat itu.

Gempa bumi bermagnetudo 7,2 SR terjadi pada tanggal 2 Juni 1994. Kadir mengenang, saat itu sedang musim kemarau. Dan rasanya, sangat mustahil ada banjir di tengah malam itu.

“Dia (Sujai) menggedor pintu rumah saya, sambil nangis bilang banjir, musim kemarau kok banjir. Dan bilang lagi banjir dari laut, laut kok banjir, ini tidak masuk akal,” kenang mantan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, itu.

Tidak mau mengambil resiko, Kadir tetap menindaklanjuti laporan tersebut. Ia keluar rumah sambil membawa senjata tajam (sajam) berupa celurit untuk menjaga kemungkinan buruk.

Dia meluncur bersama Kamituwo Gunoto (kini Kepala Desa Sarongan) mengendarai motor ke lokasi. “Saya curiga, saya ya bawa arit, jangan-jangan ini mau mencelakai saya,” terangnya.

Saat meluncur ke Pantai Rajegwesi, ternyata tidak mudah. Jalan banyak tertutup pohon yang terseret air.

Ia harus berjibaku untuk bisa menuju ke pantai. Saat motornya melaju di pantai, hampir saja maut menghadangnya.

Abdul Kadir menunjukkan foto saat masih menjadi Kepala Desa Sarongan bersama peneliti dari Jepang, sekitar sebulan setelah Tsunami Pancer 1994.
Abdul Kadir menunjukkan foto saat masih menjadi Kepala Desa Sarongan bersama peneliti dari Jepang, sekitar sebulan setelah Tsunami Pancer 1994.

Saat sorot senter yang diarahkan ke laut, terlihat gulungan ombak cukup besar. “Saya ajak pak Gunoto bergegas menuju arah masjid,” katanya.

Wakil Bupati Banyuwangi di era Alm. Ir H Samsul Hadi itu menyampaikan bila keputusan untuk lari itu terlambat satu menit saja, ia tidak bisa membayangkan yang terjadi pada dirinya.

“Baru sampai di lokasi (Pantai Rajegwesi), ombak datang lagi, kami ke masjid, ombak hanya sampai di pelataran masjid,” terangnya.

Begitu air mulai surut, suasana berubah menjadi jerit pilu dan kepanikan. Bangunan rumah yang sebelumnya tegak berdiri, semuanya habis, bangunan yang berada di bibir pantai hilang.

Padahal saat itu, baru memenangi lomba perumahan nelayan. Hilanganya tempat tinggal itu, disambut warga dengan jeritan tangis dan kebingungan.

Semua orang panik mencari sanak saudaranya. Suasana yang dirasakan benar-benar kacau. Bahkan, kehadirannya sebagai seorang kepala desa nyaris tidak dihiraukan.

“Setiap ketemu warga pertanyaannya hanya, pundi anak kulo, pundi bojo kulo,” jelasnya.

Kadir benar-benar mengingat betapa sulitnya yang harus dihadapi saat itu. Manajemen berkaitan bencana, belum ada seperti sekarang.

Sarana komunikasi dan trasnportasi, masih sangat minim. Apalagi, di pagi itu ada 33 warga ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

“Manajemen bencana saat itu belum bagus, saya tidak bisa membayangkan mengubur 33 orang, dan tidak ada orang yang membatu,” jelasnya.

Karena berbagai keterbatasan, jenazah para korban itu dibiarkan hingga hari kedua.

Pemakaman baru bisa dilakukan setelah bantuan tenaga dari luar dan ABRI (TNI dan Polri) tiba di lokasi. “Baru keesokan harinya, semua jenazah bisa dimakamkan,” terangnya.

Bantuan dan pencarian korban pun terus berlanjut, di hari ketiga bantuan dari Intai Para Amfibi Marinir TNI AL datang.

Mereka melakukan penyisiran di perairan untuk mencari korban yang hilang. Saat itu, ia turut serta di perahu.

Beberapa korban ditemukan di pantai Teluk Ijo dan Poncomoyo. “Tangan saya sampai berdarah mencari mayat dengan intai ampibi,” jelasnya. (sli/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#Tsunami Banyuwangi #30 tahun #Tsunami Pancer #gempa bumi #Mengenang #banyuwangi #tsunami #jenazah