RadarBanyuwangi.id - Tsunami yang menerjang Pantai Selatan pada Kamis, 2 Juni 1994 sekitar pukul 02.00 dini hari, tidak hanya memporak-porandakan perkampungan nelayan di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, pagelaran wayang kulit di rumah Iriyanto, 60, juga berantakan.
Pagelaran wayang kulit semalam suntuk di rumah Iriyanto alias Bagong, 60, yang ada di timur tambak, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, berlangsung seru.
Ratusan penonton, juga asyik menikmati alur cerita Bangun Bale Pengerawet yang dimainkan dalang Ki Subari.
Memasuki pukul 02.00, alur cerita mulai hangat. Dalang Ki Subari dari Desa Buluagung, Kecamatan Siliragung, memulai babak goro-goro dengan mengeluarkan joke-joke segar.
Dan babak ini, memang banyak ditunggu oleh ratusan pasang mata karena bisa mengusir rasa kantuk. “Nonton wayang itu paling senang saat goro-goro,” terang Iriyanto.
Malam goro-goro pada babak cerita wayang kulit itu, ternyata menjadi huru-hara. Bersamaan dengan itu, muncul luapan air dari Laut Selatan yang cukup besar menerjang tarub dan pentas wayang kulit hingga smeua porak-poranda.
Perkakas wayang berserakan. Dalang dan para wiyogo semburat menyelamatkan diri. Bagaimana dengan para penonton? Mereka panik dan lari tunggang langgang mencari tempat yang lebih tinggi.
“Jelas morat maret, ketinggian air satu meter, dan gelombang besar datang tiga kali,” kenangnya.
Dimana Iriyanto saat ada tsunami itu? Dengan senyum pria paro baya itu mengaku pada malam kejadian itu bersama istrinya Sumiyatin, sedang menghitung uang becekan (sumbangan) dari para tamu yang datang di acara khitanan.
“Saya menghitung becekan, di luar seperti ada yang gegeran, ternyata ada air meluap dan lampu mendadak mati, semua jadi tidak karuan,” ungkapnya.
Pada malam itu, semua menjadi tidak menentu. Warga mencari tempat aman. Dalang dan beberapa orang, naik ke pohon kelapa yang ada di depan rumahnya.
Dan itu berlangsung hingga pagi. Saat suasana mulai tenang, pagi itu juga semua keluarganya diungsikan ke rumah saudara yang ada di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo.
“Uang becekan morat-marit, tapi banyak yang berhasil saya amankan,” terangnya.
Rumah Iriyanto dan para tetangga aman dari amukan tsunami. Kebetulan, lokasi rumah ini berjarak sekitar 250 meter dari bibir pantai.
Selain itu, juga banyak pepohonan dan bangunan. Warga yang ada di sekitar rumahnya dan para penonton wayang kulit, semuanya selamat.
“Rumah saya banyak tamengnya, jadi semua selamat,” terangnya.
Meski saat tsunami itu cukup mecekam, banyak orang yang kemudian bersyukur. Hajatan dengan hiburan wayang kulit itu, dianggap telah menyelematkan banyak orang.
“Banyak orang yang menyampaikan terimakasih pada saya,” ujarnya.
Tidak sedikit para nelayan atau warga yang tinggal di perkampungan nelayan Dusun Pancer, Desa Sumberagung, akhirnya selamat.
Tapi, tidak sedikit dari keluarganya yang sedang tidur di rumah, menjadi korban keganasan tsunami itu.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin