Naoki merupakan anak kedua dari Okawa Eli dan Sugita Yoshiko, pasutri asal Jepang. Sedangkan Aisyah anak kedua dari budayawan Banyuwangi almarhum Azhar Prasetya dan Rahastuti Ridartiwi.
Dalam pernikahan tersebut Naoki yang merupakan warga asli Jepang mempersunting wanita idamannya asal Banyuwangi dengan maskawin 100 ribu yen dan cincin berlian. Pria berusia 25 tahun tersebut melaksanakan akad nikah menggunakan bahasa Indonesia.
Sebagai istri seorang mualaf, Aisyah akan membimbing sang suami untuk menjalankan perintah Agama Islam.
"Orang Jepang itu tidak memiliki agama, makanya ketika awal bertemu, saya langsung mengajaknya masuk agama Islam," ujar Aisyah usai prosesi akad nikah.
Aisyah mengakui suaminya tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Sehari-seharinya keduanya menjalin komunikasi dengan Bahasa Jepang.
"Sama sekali tidak bisa bahasa lain kecuali Jepang, jadi harap maklum jika tidak bisa berkomunikasi dengan baik," kata Aisyah.
Aisyah menceritakan, jalainan cinta keduanya terukir saat sama-sama bekerja di Jepang. Saat itu, Aisyah bekerja di sebuah rumah makan di Jepang.
"Awal kenalan dan bertemu di tempat kerja, kami tidak lama berpacaran. Naoki minta ijab kabulnya dilaksanakan di Banyuwangi," katanya.
Setelah disepakati, keduanya terbang ke Indonesia. Begitu tiba di Bandara Banyuwangi, keduanya meluncur ke rumah Aisyah di Perumahan Sobo, Banyuwangi.
Hari itu juga Naoki melaporkan kadatangannya ke Intelkam Polresta Banyuwangi, lalu dilanjutnya mengurus administrasi pernikahan di KUA Banyuwangi.
Gerak cepat tersebut membuahkan hasil. Akhirnya prosesi akad nikah dipilih Masjid Besar KH Ahmad Dahlan Banyuwangi dengan ditandai ikrar pembacaan dua kalimat syahadat.
"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur suami bisa mualaf. Ini tantangan sangat berat ke depan," ujarnya.
Sebagai istri, Aisyah harus bisa membimbing suaminya menjalankan ibadah Agama Islam. Lazimnya justru para istri yang harus dibimbing oleh sang suami.
"Kemungkinan Naoki akan belajar agama Islam di Jepang. Setelah akad nikah, kami harus kembali ke Jepang. Di Jepang juga ada masjid untuk warga negara Indonesia (WNI) maupun WNA dalam menjalankan ibadah," jelasnya.
Aisyah akan selalu membantu sang suami, baik soal agama maupun urusan rumah tangga. "Kami sepakat membanguan rumah tangga tangga yang harmonis sampai langgeng," tegas Aisyah. (aif)
Editor : Niklaas Andries