Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ini yang Paling Ditakuti Anak-Anak Logam di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi

Fredy Rizki Manunggal • Sabtu, 20 April 2024 | 21:39 WIB

KEJAR CUAN: Anak logam meloncat dari atas kapal di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi
KEJAR CUAN: Anak logam meloncat dari atas kapal di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi
 

RadarBanyuwangi.id – Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi selalu ramai tiap musim mudik dan balik Lebaran Idul Fitri.

Kondisi itu pun ikut mempengaruhi kehidupan sekitar Pelabuhan Ketapang, salah satunya para anak logam yang selama ini mencari rezeki dari ramainya penumpang kapal.

"Sawer, Mas. Sawer," teriak Dani di tengah terik matahari yang memanaskan hampir seluruh sudut Pelabuhan ASDP Ketapang siang itu.

Si pemilik suara adalah seorang anak berusia sekitar 15 tahun. Tubuhnya mengapung-apung tak jauh dari sela kapal dan dermaga MB3.

Kode itu diucapkan Dani berulang-ulang. Beberapa penumpang kapal yang sudah memarkirkan kendaraanya di geladak kapal menoleh ke arah bocah tersebut.

Beberapa dari mereka merogoh saku dan melemparkan uang kertas Rp 2000-an.

Begitu uang melayang-layang mendekati muka air laut, tiga anak-anak belasan tahun yang sebelumnya duduk di dekat dermaga mendadak ikut menceburkan diri ke lautan.

Dani dan belasan anak tersebut adalah anak-anak logam. Sebutan untuk mereka yang mencari kepingan logam yang sengaja dilemparkan oleh para penumpang kapal di Pelabuhan Ketapang.

Sejak pelabuhan mulai ramai, mereka kembali bermunculan di sekitar pelabuhan. Tak hanya anak-anak, beberapa orang dewasa juga tampak ikut "ngelogam" di sekitar area dermaga.

Sambil menghitung pendapatannya, Dani menceritakan jika ada cukup banyak anak logam yang beroperasi di sekitar Pelabuhan Ketapang.

Rata-rata, mereka adalah warga asli Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

Jumlah anak-anak logam cukup banyak. Jika sudah ramai, hampir semua dermaga akan terisi dengan anak logam.

Ada yang satu dermaga berisi empat orang, lima orang dan kadang sampai tujuh orang. Tak ada kelompok atau geng tertentu.

Karena rata-rata mereka semua saling kenal,  para anak logam akan langsung bergabung dengan teman-teman mereka yang sudah ada di dermaga.

"Siapa yang ada ya saya ikut, tidak mesti setiap hari dengan orang yang sama," kata Dani.

Sejak pandemi covid-19 mereda, siswa kelas X di salah satu SMK swasta di Banyuwangi itu mengatakan banyak anak-anak logam bermunculan.

Banyaknya penumpang kapal menjadi daya tarik bagi anak logam. Dengan lebih dari 400 trip per hari, anak-anak logam percaya mereka akan tetap kebagian rezeki dari para penumpang kapal.

"Kalau musim puasa sampai lebaran selesai semakin banyak," imbuhnya.

Aldo, 17, salah satu kawan Dani yang ikut melogam siang itu menceritakan jika sebagian dari mereka yang mencari uang seperti dirinya memang sedari kecil sudah "ngelogam".

Tapi ada juga beberapa yang ikut-ikutan saja. Anak logam yang sudah piawai biasanya lebih berani. Mereka kerap nekat mengejar kapal meskipun sudah jauh dari pelabuhan.

Sedangkan anak-anak yang baru biasanya memilih berenang di dekat-dekat dermaga.

Mereka juga tak berani berenang lebih dalam untuk mengejar uang-uang logam yang dilemparkan penumpang kapal.

"Kalau yang sudah biasa ya dikejar saja. Kecuali kalau sudah terlalu dalam. Kita pulang dulu mengambil peralatan nyelam untuk mengambil," kata bocah berperawakan cepak itu.

Pendapatan yang diperoleh anak-anak itu sendiri bisa dibilang cukup lumayan. Dengan waktu melogam sejak pagi hingga sore, Aldo mengatakan rata-rata setiap anak bisa membawa pulang uang Rp 50 ribu.

Tapi jika ramai seperti musim mudik lebaran atau setelah hari raya Nyepi, mereka bahkan bisa mengantongi uang sampai Rp 300 ribu sehari.

Saat melogam, mereka biasanya membagi wilayah dengan anak logam lainya. Jika sudah memilih satu dermaga, mereka tidak boleh berpindah ke dermaga lainnya.

Tak jarang, mereka diminta untuk pindah ke dermaga lain oleh para anak logam yang sudah dewasa.

"Kalau ramai seperti ini, orang-orang besar ikut ngelogam juga. Kita yang ngalah," tuturnya.

Uang-uang yang didapat para anak logam itu biasanya dikumpulkan terlebih dahulu.

Kemudian dibagi rata dengan satu kelompok yang saat itu sama-sama mencari uang di dermaga yang sama.

"Hasil sehari dikumpulkan jadi satu. Setelah itu dibagi rata. Jadi tidak ada yang rebutan waktu ngelogam," imbuh bungsu dari tiga bersaudara itu.

Hasil dari ngelogam biasanya akan disimpannya untuk membeli kebutuhan sekolah.

Jika masih ada sisa, Aldo akan menggunakanya untuk mengisi kuota ponsel atau bermain di rental play station.

"Ya untuk kebutuhan sekolah juga, buat sangu, bayar SPP. Kalau minta orang tua terus, kasihan," jelasnya.

Selama mencari rezeki di Pelabuhan Ketapang, risiko berbahaya tetap saja mengintai anak-anak tersebut.

Indra,16, anak logam lainya mengatakan, salah satu risiko yang paling ditakutinya dan anak logam lainnya adalah terseret baling-baling kapal.

Karena itu, mereka tetap harus berhati-hati dan menghitung posisi mereka saat mengejar uang yang dilempar penumpang kapal.

Karena risiko tersebut, tak jarang Indra dan teman-temannya dimarahi oleh Petugas Pelabuhan. Karena memang sebenarnya pelabuhan tidak mengizinkan aktivitas mereka.

"Yang paling sering memarahi Polisi sama Angkatan Laut. Ya kalau ada mereka kita lari, nanti kita cari waktu sepi. Baru ngelogam lagi," ucap Indra sembari tersenyum. (fre)

Editor : Ali Sodiqin
#lebaran #asdp #idul fitri #pelabuhan ketapang #rezeki #dermaga #penumpang #banyuwangi #anak logam #uang logam #mudik #air laut