Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah M. Riski Hamdan, Anak Punk Asal Karawang Jawa Barat yang Memilih Jadi Jukir untuk Biaya Sekolah Sang Adik

Humaidi. • Minggu, 4 Februari 2024 | 13:00 WIB
ATUR PENGEMUDI: Moh Riski Hamdan Mubarok, warga Karawang, Jawa Barat, menjaga lahan parkir di depan toko Jl. PB Sudirman, Lingkungan Karangasem, Situbondo, Kamis (1/2).
ATUR PENGEMUDI: Moh Riski Hamdan Mubarok, warga Karawang, Jawa Barat, menjaga lahan parkir di depan toko Jl. PB Sudirman, Lingkungan Karangasem, Situbondo, Kamis (1/2).

RadarBanyuwangi.id – Acuk adalah panggilan akrab Moh Riski Hamdan Mubarok, warga Karawang, Jawa Barat.

Salah satu anak punk ini memilih menjadi juru parkir (jukir) di depan salah satu toko di Lingkungan Karangasem, Kecamatan/Kota Situbondo.

Hasil menjadi juru parkir, dia kirim ke ibunya di Karawang untuk membiayai sekolah sang adik di bangku SMK.

Acuk tetap pada penampilannya sebagai anak punk. Bedanya hanya memakai rompi sebagaimana yang digunakan tukang parkir.

Untuk anting, baju dan sepatu khas anak punk tetap melekat di badannya. Namun, anak punk ini nampak berbeda dengan sejumlah teman-temannya yang biasanya berkelompok dan ngamen di simpang empat atau di tempat keramaian.

Acuk tampak lebih sopan dan bergerak cepat mengawal pengendara yang akan masuk atau keluar toko.

Begitu tidak ada orang yang keluar dari lahan parkir maupun orang yang baru masuk, dia menyibukkan diri dengan memilih sampah yang ada di area parkir.

 Jika tidak ada sampah, dia hanya berbicara dengan orang yang berada di dekatnya.

“Saya tidak punya ponsel, jadi kalau tidak ada orang yang parkir saya duduk saja. Kalau ada lawan bicara ya saya bicara,” kata Acuk.

Acuk mengaku, menjadi jukir di halaman toko tersebut sudah tujuh bulan. Sehingga dia bisa mengirimkan uang pada ibunya di Karawang.

Kebetulan ibunya hanya tinggal bersama adiknya yang saat ini masih sekolah kelas 1 SMK.

“Ibu saya sudah sakit-sakitan, jadi saya punya beban untuk membiayai kehidupan ibu dan biaya sekolah adik saya,” kata Acuk.

Dikatakan, menjadi anak pertama dari dua bersaudara cukup menjadi beban baginya. Sehingga, dirinya harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Meski pun ayahnya masih hidup, saat ini sudah meninggalkan ibunya dan jarang memberikan uang pada ibunya untuk kebutuhan adiknya.

“Saya kurang dianggap sama bapak, gara-gara jadi punk. Ah, gak usah cerita lah, ini privasi keluarga,” kata Acuk.

Acuk mengaku penghasilan selama menjadi jukir lumayan. Setidaknya dia bisa bertahan hidup di perantauan dan bisa berbagi dengan orang tuanya.

“Alhamdulillah, meskipun penampilan begini saya masih bisa berbakti pada orang tua. Jadi jangan dianggap semua anak punk tidak usaha untuk keluarga. Biasanya orang nganggap anak punk ya kerjanya males, tidak juga,” kata Acuk.

Acuk mengaku, menjadi jukir dan pengamen, penghasilannya lebih banyak pengamen. Namun, dia lebih memilih berhenti menjadi pengamen untuk mencari rejeki dengan jeri payahnya sendiri.

“Ngamen itu banyak hasilnya. Saya kalau ngirim ke ibu dari hasil ngamen tidak sedikit. Kalau jaga parkir ya untung-untungan. Kalau lagi untung ya banyak, kadang dalam sehari hanya cukup dimakan sendiri,” tegas Acuk.

Kata acuk, penghasilan tambahan menjadi jukir diberi oleh pemilik toko. Sebab dia juga merangkap sebagai tukang bersih-bersih halaman toko.

“Saya sering diberi uang sama pemilik toko, bukan gaji, mungkin rasa terima kasih saja karena saya sudah bersihkan halamannya. Padahal niat saya membersihkan hanya bentuk terima kasih saya kerena diberi lahan parkir,” pungkas Acuk. (hum/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#jawa barat #jukir #situbondo #sang adik #karawang diancam bom #biaya sekolah #anak punk