RadarBanyuwangi.id – Demi menjaga kesehatan tubuh, banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan mengonsumsi jamu.
Bahkan, jamu dengan bahan aneh dan tak lazim, sering dibuat untuk dikonsumsi seseorang.
Salah satunya jamu rendaman Kidang Kencono yang terbuat dari janin hewan kijang. Meski harganya mahal, tapi banyak yang memburu.
Saat ini, jamu jenis ini banyak dicari masyarakat di pasaran. Kidang Kencono itu adalah janin kijang yang diambil langsung dari perut hewan yang sedang mengandung.
Janin itu kemudian diawetkan dengan cara disimpan ke dalam larutan minuman keras. Biasanya jenis arak.
“Janin kijang itu laku di pasaran,” terang Sarnom, 46, warga Dusun Sumberdadi, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Janin kijang atau yang dikenal Kidang Kencono itu dibuat jamu dengan cara dilarutkan dan direndam ke dalam minuman beralkohol.
Banyak orang berkeyakinan, dengan minum jamu ini bisa lari secepat kijang.
“Zaman dulu Kidang Kencono digunakan maling untuk mencuri agar bisa lari dengan cepat bila dikejar warga,” ujarnya.
Selain bisa lari cepat, orang juga banyak yang percaya air rendaman Kijang Kencono itu kalau diminum bisa meningkatkan stamina tubuh.
Semakin lama janin itu direndam, maka khasiatnya juga semakin tinggi. “Arak rendaman janin kijang itu juga tidak berbau,” terangnya.
Sarnom menyebut harga janin kijang itu sekitar Rp 2 juta hingga Rp 10 juta, tergantung ukuran dan bentuknya.
Untuk mendapatkan janin kijang, tentu tidak mudah. Perlu ketelitian dan kejelian saat menangkap indukannya.
“Sudah banyak yang tahu khasiat dan kegunaan Kidang Kencono itu,” terang Sarnom kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi beberapa waktu lalu.
Sarnom mengaku, kali pertama menemukan janin kijang itu tanpa disengaja.
Saat itu, Sarnom pergi ke kebun buah naga miliknya. Tiba-tiba dia melihat ada seekor kijang yang tergeletak di tengah kebun.
Saat itu, kijang berkelamin betina itu sudah lemas dan seperti tidak bertenaga lagi.
“Saya cek kijang itu masih bernapas, tapi tidak dapat bergerak,” cetus Sarnom.
Kijang liar itu lalu dibawa pulang dan disembelih. Dan, diketahui kijang itu ternyata sedang hamil muda.
Kemudian, perut kijang itu dibelah dan diambil janinnya. “Di dalam perut kijang ada satu janin,” jelasnya.
Tekstur daging kijang mirip dengan daging sapi. Tapi, daging kijang lebih alot dan warnanya lebih putih.
Warga biasanya mengolah daging kijang dengan cara dibakar. Masyarakat percaya dengan memakan daging kijang juga dapat menambah stamina.
“Kalau dibakar, aroma khas daging kijang jadi tidak terlalu berbau,” tutur Sarnom.
Bentuk janin itu seperti kijang pada umumnya. Memiliki empat kaki, tidak berbulu, berwarna putih pucat, dan panjang 15 centimeter.
Selanjutnya, janin tersebut dimasukkan ke dalam botol minuman berenergi lalu diisi arak.
“Sampai saat ini janin kijang itu masih saya simpan. Lengkap dengan ari-arinya,” tuturnya.
Kijang liar yang ditemukan di kebun buah naganya itu, diduga hewan dari hutan di sekitar Taman Nasional (TN) Merubetiri, perbatasan Banyuwangi-Jember.
Selama ini, warga sering menemukan hewan liar seperti kijang, babi hutan, ayam hutan, dan juga landak.
“Kebanyakan hewan yang ditemukan warga itu ditangkap dan dikonsumsi,” terangnya.
Sarnom mengaku baru pertama ini menemukan kijang yang nyasar ke kebunnya. Diduga, kijang itu nyasar di kebun miliknya akibat dikejar hewan buas.
Karena kelelahan, lalu bersembunyi di kebun. Dugaan itu diperkuat dari temuan beberapa bekas luka gigitan di kaki dan leher kijang yang ditemukan itu.
Janin kijang masih disimpan dengan baik. Jika ada orang yang berniat membeli janin kijang, akan dilepas dengan syarat harganya sesuai.
“Karena sulitnya mencari janin kijang, itu yang menjadi mahal,” katanya.
Beberapa orang di desanya, ingin membeli janin kijang tersebut. Tapi karena belum ada kecocokan harga, juga belum dilepas.
“Sudah ditawar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, tapi belum saya berikan,” cetusnya.
Ia tidak tahu kijang itu termasuk hewan dilindungi apa tidak. Karena selama ini, banyak kijang liar yang masuk ke kebun dan sawah warga.
“Sering sekali kijang liar yang keluar dari hutan, terutama saat musim kemarau,” ujarnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin