RadarBanyuwangi.id – Bumi Blambangan Banyuwangi memiliki sejumlah lokasi untuk berziarah. Salah satunya adalah makam Buyut Sayu Atika.
Kompleks makam Sayu Atika ini berlokasi di Lingkungan Krajan, Kelurahan/Kecamatan Giri, Banyuwangi.
Meski pada hari biasa masih ada peziarah yang datang ke makam Ibunda Sunan Giri ini.
Namun, terdapat momen-momen tertentu peziarah ramai mengunjungi makam Buyut Sayu Atika.
Seperti saat peringatan hari kematian Buyut Sayu Atika, sebelum Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan momen menjelang pemilihan umum (pemilu) seperti saat ini.
Para peziarah yang berkunjung akan duduk di sekitar makam untuk membaca ayat suci Alquran.
Tidak heran, saat para peziarah datang, lantunan ayat Alquran bergema di makam tersebut.
Juru kunci makam Buyut Sayu Atika, Jumali mengatakan, meski banyak peziarah datang ke makam tersebut, mayoritas peziarah belum terlalu paham siapa sosok Buyut Sayu Atika yang makamnya mereka datangi.
”Buyut Atika dikenal sebagai ibunda Sunan Giri. Makam ini yang ditemukan pertama kali pada tahun 1920. Riwayat Buyut Atika baru diketahui sekitar tahun 1990-an lewat penelitian para budayawan,” ujarnya.
Dijelaskan olehnya, Buyut Atika merupakan cucu dari Raja Blambangan, Prabu Menak Sembuyu.
Atika memiliki nama asli Putri Sekardadu, yang dinikahkan dengan Maulana Ishaq atau Syekh Wali Lanang setelah berhasil menyembuhkan sang putri dari penyakit.
”Maulana Ishaq datang ke Blambangan (cikal bakal Banyuwangi) karena diutus Sunan Ampel untuk mengislamkan Blambangan,” imbuh Jumali.
Namun, dikisahkan Maulana Ishaq hanya diperbolehkan menyebarkan Islam di luar istana.
Tetapi menurut cerita yang beredar, Maulana Ishaq menyebarkan Islam di kalangan pejabat istana yang menjadi larangan.
”Maulana Ishaq akhirnya diusir dan anak yang dikandung Sekardadu harus dilarung ke laut. Bayi yang dilarung itu ditemukan seorang nakhoda kapal bernama Abu Huroiroh, yang kemudian diserahkan kepada saudagar perempuan bernama Nyai Ageng Pinatih asal Gresik,” jelas lelaki yang akrab disapa Ali itu.
Bayi inilah yang ketika dewasa dikenal sebagai Sunan Giri. Oleh karena itu, wilayah tempat makam tersebut dikenal dengan nama Giri.
”Makam tersebut dipercaya sebagai makam Islam tertua di Banyuwangi, yang dibangun pada abad ke-15,” lanjut Ali.
Ali menambahkan, makam Buyut Sayu Atika mengalami renovasi sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 1993, tahun 2004, dan tahun 2007.
”Warga meyakini setiap ada hajatan atau acara di kampung Giri, mereka wajib menggelar tasyakuran di makam tersebut. Warga meminta doa untuk kelancaran dan kesuksesan acara. Kepercayaan tersebut terus berjalan hingga sampai sekarang,” pungkasnya. (rei/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin