RadarBanyuwangi.id – Situs Lastono yang merupakan petilasan Syekh Siti Jenar.
Lokasi petilasan Syekh Siti Jenar ini berada di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
Situs Lastono ini juga menjadi salah satu lokasi yang ramai dikunjungi peziarah saat menjelang pemilihan umum (pemilu) seperti sekarang ini.
Di Situs Lastono terdapat satu pohon beringin berukuran besar dan tinggi yang merindangi areal petilasan seluas 30 meter persegi ini.
Lokasinya terletak di sebelah barat Bulog Lemahbang Kulon. Kawasan ini cukup rindang dan sejuk. Terdapat pula gazebo, toilet, dan musala.
Sementara di dalam pesarean terdapat dua makam yang lumayan panjang dibanding makam pada umumnya.
Tak jauh dari makam tersebut, juga terdapat batu yang mirip kursi.
Di sebelah kanan dan kiri pesarean juga terdapat makam-makam kuno yang sudah ada sejak lama.
Makam-makam tersebut diduga adalah makam-makam bangsawan zaman dulu.
Karena banyak makam-makam kuno, kawasan tersebut disebut sebagai settana atau astana yang artinya kuburan.
Sesepuh adat setempat, Turin menuturkan, petilasan Syekh Siti Jenar di Bumi Blambangan ditemukan sekitar tahun 1468 Masehi.
”Syekh Siti Jenar berasal dari Cirebon. Setiap tempat yang pernah disinggahi diberi nama lemah (tanah) abang, yang di sini, sekarang disebut Lemahbang Kulon,” ungkap lelaki yang pernah menjadi juru Kunci Lastono ini.
Menurut Turin, peziarah atau pengunjung kebanyakan datang saat menjelang petang.
Biasanya mereka, mempunyai tujuan dan hajat sendiri-sendiri. Ada yang sekadar ingin tahu, silaturahmi dengan teman, ziarah, dan selamatan.
”Kalau pas musim pemilu begini ramai peziarah dari berbagai daerah,” katanya.
Bagi warga setempat, Lastono masih dianggap sakral dan keramat.
Setiap ada warga yang memiliki hajat pernikahan maupun khitanan, warga setempat menggelar selamatan di tempat tersebut.
Harapannya agar hajatannya diberikan keselamatan dan kelancaran.
Tidak hanya tempat ziarah, lokasi petilasan Lastono ini juga beberapa kali dijadikan tempat studi penelitian.
Ada mahasiswa dari UGM, Airlangga Surabaya, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Jember, Untag Banyuwangi, dan IAI Ibrahimy, yang berkunjung untuk melakukan penelitian sejarah.
Selain dari beberapa wilayah di Banyuwangi, pengunjung juga banyak datang dari Surabaya, Jogja, Sumatera, Jakarta, Bali, Malang, Kediri, Blitar, Jember dan dari berbagai kota lain di Indonesia.
Setiap tamu yang datang juga wajib mengisi buku tamu.
Dari cerita turun-temurun, lanjut Turin, kedatangan Syekh Siti Jenar di Bumi Blambangan, untuk menenangkan diri, semedi, dan bukan untuk menyebarkan agama Islam.
Juru kunci yang kesebelas itu menyebut, hingga sejauh ini tidak ada ritual secara khusus yang dialamatkan untuk Syekh Siti Jenar.
Hanya, setahun sekali dilakukan selamatan bersih dusun. Warga setempat yang meyakini masih kerap menggelar doa bersama dan selamatan sebagai bentuk hormat terhadap leluhur dan nenek moyangnya.
Situs Lastono yang juga petilasan Syekh Siti Jenar di Desa Lemahbang Kulon ini bebas dikunjungi siapa pun.
Pengunjung boleh dari agama apa pun dan penganut aliran kepercayaan. Tidak ada syarat khusus bagi seseorang.
”Yang penting menjaga adab sopan, santun, berperilaku baik, dan tidak menimbulkan keributan serta kerusuhan,” tandas Turin. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin