RadarBanyuwangi.id – Sejumlah tempat di Banyuwangi kerap menjadi jujukan para peziarah.
Khususnya, bagi mereka yang memiliki hajat menjadi pemimpin politik di berbagai kota di Indonesia.
Salah satu tempat yang ramai dikunjungi saat musim pemilihan umum (pemilu) adalah Gua Istana di kawasan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP).
ADA banyak gua di dalam areal Taman Nasional Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Yang terdata sekitar 40 gua.
Namun, hanya lima gua yang paling sering dikunjungi dan dikenal masyarakat luas. Yaitu Gua Istana, Gua Padepokan, Gua Mayangkoro, Gua Mangleng, dan Gua Kucur.
Selain karena lokasinya yang mudah dijangkau, keempat gua ini diyakini memiliki nilai mistis.
Bahkan, mantan Presiden Soekarno, konon, pernah menjadikan gua ini sebagai tempat semedi.
Dibanding gua-gua lain, Gua Istana lebih mudah dijangkau. Letaknya sekitar 67 kilometer (km) dari arah Kota Banyuwangi.
Atau sekitar 1,5 km dari arah Pancur, Alas Purwo. Jalanan yang ditempuh pun relatif lebih bersahabat dibanding gua-gua lain.
Gua yang lebarnya tak lebih dari 8 meter dengan panjang 30 meter ini terbentuk karena naiknya karang.
Naiknya karang tersebut diduga akibat lempeng Eurasia terdesak oleh lempeng Indo-Australia.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan cangkang kerang dan bebatuan karang di sekitar gua.
Untuk menjangkau Gua Istana, pengunjung harus menempuh medan berat, yakni berjalan kaki sepanjang 2 km arah utara dari Pos Pancur, pos kedua setelah pintu gerbang utama kawasan Taman Nasional Alas Purwo.
Hanya saja di musim hujan seperti sekarang, medan yang ditempuh cukup sulit.
Hampir setiap hari, ruangan Gua Istana dipenuhi asap dupa yang dibakar para petapa untuk melengkapi ritualnya.
”Kalau di Gua Istana ini ada sumber air, jadi lebih enak kalau bermalam,” ungkap Joko Lelono, salah seorang petapa di alas Purwo.
Karena jarak yang tidak terlalu jauh dan mudah diakses, Gua Istana kerap didatangi para peziarah maupun orang lelaku spiritual.
Selain mereka yang akan mengasah kanuragan, Gua Istana ini kerap dikunjungi pada musim pemilu, mulai mereka yang mencalonkan diri sebagai kepala desa, DPR, hingga calon pemimpin lainnya.
”Bahkan, beberapa calon presiden juga datang ke sini (Alas Purwo), hanya mereka tidak diketahui kedatangannya atau tidak ramai-ramai,” kata Joko.
Mereka yang datang kemudian bermunajat di salah satu pojok lorong Gua Istana.
Tanpa penerangan apa pun kecuali nyala bara dari dupa yang dibakarnya.
Biasanya mereka yang datang akan menghuni Gua Istana untuk beberapa waktu.
”Sampai dapat wisik (petunjuk), biasanya para lelaku baru pergi meninggalkan Gua Istana,” tandas Joko. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin