RadarBanyuwangi.id – Sebagian besar jalan pantai utara Jawa punya pagar penghalang (barrier) alami. Namanya pohon asam jawa.
Bila kita melintasi Jalan Raya Kabat hingga Kecamatan Rogojampi, bahkan sampai Kecamatan Srono, Banyuwangi, pandangan mata masih kerap menemui deretan pohon besar asam jawa.
Pohon ini tekstur kulitnya kasar, rimbun, dan kekar. Pohon asam tertanam berjajar rapi dengan jarak yang sangat teratur di tepi jalan raya. Berada di bawahnya terasa sejuk dan asri.
Pohon asam jawa (Tamarindus indica) dengan lingkar pohon mencapai satu meter merupakan salah satu pohon warisan leluhur yang telah ditanam dengan waktu cukup lama.
”Kalau pohon asam bisa sebesar yang ada di tepi jalan raya itu usianya sudah puluhan, bahkan juga sudah ratusan tahun. Karena batangnya sangat besar,” ujar Wahid, sesepuh warga Rogojampi.
Sayangnya, saat pelebaran ruas jalan Kabat sampai Rogojampi, sejumlah batang pohon asam jawa terpaksa ditebang. Padahal, usia pohon tersebut sudah sangat tua.
”Sangat disayangkan, tapi karena kebutuhan perluasan jalan maka terpaksa ditebang. Tapi sebagian di Rogojampi masih ada” kata Wahid.
Pohon asam tersebut diduga berumur ratusan tahun. Karena menurut literatur sudah ditanam sejak Gubernur Daendels merintis pembuatan jalan jalur selatan di Jawa tahun 1808.
Pemandangan tersebut juga dapat dijumpai hampir di seluruh sepanjang jalan di pantai utara Jawa (pantura).
”Tidak tahu kenapa, ruas jalan yang dibangun era Gubernur Deandels sepanjang tepi jalan pasti ditemui pohon asam jawa,” katanya.
Pohon-pohon asam jawa (Tamarindus indica) tersebut merupakan warisan nenek moyang yang tiada tara, tak terkira nilainya.
Selain memiliki nilai eksotis, pohon tersebut juga merupakan produsen oksigen sepanjang tahun.
Kulit batang pohon asam berwarna cokelat keabu-abuan, kasar, dan beralur vertikal.
Jenis daunnya majemuk menyirip genap dengan panjang 5–13 cm.
Pohon yang satu ini selalu tampak hijau karena tidak mengalami masa gugur daun.
Buah asam atau juga disebut asam jawa berbentuk polong dan dapat berbiji hingga 10 butir.
Ketika masih muda, daging buahnya berwarna putih kehijauan.
Namun saat telah masak, warnanya berubah menjadi merah kecokelatan hingga hitam.
Pohon asam merupakan jenis tumbuhan tropis. Oleh karena itu, pohon ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian hingga 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) di atas tanah berpasir atau tanah liat.
Terutama di daerah yang memiliki musim kemarau cukup panjang.
Pohon asam dalam bahasa Jawa berasal dari kata nengsem yang artinya menyenangkan.
Daunnya yang lebar juga disebut sebagai sinom yang bermakna muda. Oleh karena itu, pohon asam identik dengan masa muda yang menyenangkan.
Bagi beberapa masyarakat, bagian hitam kayu terasnya yang disebut dengan galih asam dipercaya memiliki kekuatan untuk menolak bala dan memberikan keselamatan.
Inilah mengapa galih asam sering kali dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pusaka seperti sarung keris atau tongkat komando.
Pesan tersirat dari tumbuhan asam jawa ini mengingatkan kita untuk selalu menunjukkan perilaku yang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari, selalu melakukan kebaikan, dan menjauhi kebiasaan buruk. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin