RadarBanyuwangi.id – Enam belas tahun bekerja di Taiwan menjadikan Nirul sebagai pekerja tangguh. Perempuan berusia 46 tahun itu kini membuka usaha kuliner di kampung halamannya di Bangorejo. Asal ada tekad yang kuat, bekerja di negeri sendiri bisa lebih sejahtera.
”Saya masuk Taiwan tahun 2001. Di sana bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan menjaga kakek di rumah sakit jompo Veteran di Sinchu,” ungkap Nirul menceritakan masa lalunya.
Kali pertama bekerja sebagai TKI, dia mendapatkan kontrak selama tiga tahun. Baru dua tahun bekerja, sang akong yang dijaganya meninggal dunia.
Nirul kemudian beralih ke rumah sakit jompo. Sehari-harinya dia menjaga seorang nenek jompo sambil membantu di restoran milik majikanya.
Tiga tahun berlalu, kontrak kerjanya habis dan harus pulang ke Indonesia. Selama tiga tahun bekerja di Taiwan, Nirul belum memiliki tabungan untuk masa depan. Penghasilan yang dia dapat untuk membantu biaya kuliah adik perempuanya di jurusan kebidanan.
Tahun 2004 Nirul memutuskan balik ke Taiwan dengan menggunakan visa kunjungan yang dibantu oleh teman akrabnya yang sudah menikah dengan orang Taiwan. Majikan lamanya masih bersedia menerima dia meski menggunakan visa kunjungan.
Dia merasa terbantu oleh teman karibnya yang membantu untuk kembali berangkat ke Taiwan meski dengan menggunakan visa kunjungan wisata.
Ketika sampai di Taiwan bak disambar petir di siang bolong. Di luar dugaan temannya meminta uang tambahan untuk proses keberangkatan menggunakan visa kunjungan.
”Kalau ditotal untuk biaya keberangkatan ke Taiwan tahun 2004, saya menghabiskan 130.000Nt atau setara Rp 29 juta,’’ cetusnya.
Masih tahun yang sama, Nirul kembali ke majikan lamanya di Shincu. Di sana dia menjaga nenek lumpuh yang setiap malam tidak pernah tidur.
“Saya harus bolak-balik dari rumah ke restoran merawat nenek jompo dan nyambi ke restoran sampai tengah malam, begitu seterusnya selama hampir tiga bulan,” katanya.
Vsa kunjungan wisata yang dimiliki Nuril hanya berlaku tiga bulan. Jika tidak mengurus perpanjangan visa, statusnya di Taiwan menjadi ilegal. Bahkan, majikanya mulai khawatir dan akan menelepon agency lamanya.
Karena kalut, Nirul memutuskan kabur dari rumah majikanya dengan meninggalkan sepucuk surat permohonan maaf bahwa dia tidak bisa lagi bekerja dan mencari pengganti.
“Saya akhirnya pergi ke Taipei City mengadu nasib. Selama berada di Taipei, pengalaman nano-nano saya alami. Saya akhirnya pulang ke Indonesia tahun 2017,” jelas ibu satu anak ini.
Begitu tiba di kampung halaman, Nirul memutuskan tidak kembali lagi sebagai pejuang devisa. Tahun 2018, dia mulai membina rumah tangga dan dikarunia satu buah hati yang kini duduk di taman kanak-kanak.
Keterampilanya memasak berbagai menu kuliner ala Taiwan mulai dia terapkan di kampung halaman. Perlahan namun pasti, Nirul mencoba membuka sebuah restoran yang diberi nama warung Pooky Tien Taiwan Food Halal.
Rumah makan itu berada di simpang empat pasar subuh Bangorejo. “Bahan bakunya banyak tersedia di Indonesia,” tuturnya.
Awal berangkat ke Taiwan, dia sama sekali tidak tmemiliki keterampilan memasak. Namun, selama 16 tahun berada di Taiwan dia mengenal aneka masakan favorit Taiwan. Apalagi majikannya punya resto besar yang mempekerjakan 8 chef.
Kala itu Nirul diizinkan masuk ke dapur resto. Sembari menjaga anak-anak majikanya, diam-diam Nuril menanyakan satu per satu menu yang dimasak para chef.
“Mungkin dikira saya hanya seorang pembantu dan tidak bisa masak. Saya diam-diam mempelajari satu per satu resep masakan Chinese Food dan yang mencicipi masakan saya adalah anak-anak majikan. Mereka bilang rasanya Hao Hao Zhe berarti sudah enak dan saya terus berlatih masak menu lainya,” cerita Nirul.
Berkat keterampilannya memasak, rumah makan Nirul di Bangorejo ramai pembeli. Menu kuliner di warungnya menjadi pembeda dengan resto-resto lainnya.
Tak jarang, sejumlah mantan pekerja migran Taiwan yang pulang kampung ke Banyuwangi banyak yang mampir ke warungnya.
“Alhamdulillah, meski kecil-kecilan bisa untuk menyambung hidup bersama suami dan anak tercinta. Apapun hasilnya harus tetap disyukuri. Daripada hujan emas di negeri orang, mending hujan batu tapi di negeri sendiri. Yang penting hidup bahagia dan sejahtera,” tandasnya. (ddy/aif)
Editor : Ali Sodiqin