Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Inspiratif Pahlawan Masa Kini, Pasutri Penjahit di Banyuwangi Antarkan Lima Anak Jadi Pegawai Sukses

Gareta Yoga Eka Wardani • Kamis, 9 November 2023 | 15:00 WIB
BANGGA: Supiati dan Joni Suparman menunjukkan foto anak mereka di Kelurahan Kertosari, Banyuwangi.
BANGGA: Supiati dan Joni Suparman menunjukkan foto anak mereka di Kelurahan Kertosari, Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Hari Pahlawan 10 November adalah momentum untuk mengingat jasa dan kerja keras para pahlawan.

Namun, pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang di masa penjajahan. Tetapi bisa saja mereka yang berjuang untuk keluarga. Seperti yang dilalui oleh Supiati dan Joni Suparman.

Saat membuka pintu rumah Lotus Taylor, jurnalis Jawa Pos Radar Banyuwangi disambut oleh wanita paruh baya berbaju batik warna oranye.

Wanita itu dengan teliti dan sabar memotong benang baju yang kurang rapi. Menyadari kehadiran tamu, dia mulai meletakkan baju tersebut di atas meja.

Wanita bernama Supiati, namun karib dipanggil Uti itu menyunggingkan kedua ujung bibir. Dia menyapa sang jurnalis dengan ramah.

Di balik senyum yang indah itu, tersimpan cerita inspiratif dan sarat akan makna kehidupan. Terutama perjuangan orang tua dalam mensukseskan kehidupan anak-anaknya.

Ibu lima anak tersebut mulai membuka satu per satu pintu cerita perjuangannya dengan sang suami Joni Suparman. Mereka harus menghidupi kelima anak di masa yang penuh krisis.

Mulai dari sulitnya mendapatkan penghasilan, berjuang sendiri ketika sang suami merantau, membiayai anak sekolah, ditipu, hingga mendapatkan cacian dari keluarga.

Manis pahit kehidupan sudah dia rasakan dengan sang suami. Satu hal yang selalu dia pastikan, yakni kehidupan anak-anak mereka harus lebih baik dari dirinya dan sang suami.

”Memang sulit, tapi kami memastikan mereka memiliki masa depan yang cerah,” ungkapnya.

Cerita bermula saat anak pertama mereka yakni Mika Joni Agustin memasuki bangku perkuliahan di tahun 1994.

Waktu itu, Uti hanya sendiri di rumah bersama dengan kelima anaknya. Joni sang suami sedang merantau di Bali. Uti bercerita waktu itu suasana hatinya campur aduk.

”Mika pulang dari Malang dan bilang kalau masuk kuliah jalur ekstensi atau sekarang itu disebut mandiri,” ujar wanita berusia 67 tahun itu.

Dia bingung antara senang atau sedih. Dia bangga anaknya dapat lolos di salah satu kampus kesehatan di Malang. Tapi di lain sisi, dia bingung akan biaya yang harus dikeluarkan.

”Saya bersimpuh dan bingung ketika dikabari Mika. Bahkan, waktu itu anak saya yang paling kecil sampai sakit,” katanya.

Sejak saat itu, hidupnya seperti gambaran nyata dari judul lagu Rhoma Irama gali lobang tutup lobang.

Dia bersama sang suami mulai meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Sementara itu, Joni sebagai perantau asal Jember dan bekerja di Banyuwangi merasa terbiasa dengan kehidupan yang berat.

Dia mengaku, awal meniti karir sebagai penjahit karena putus asa ketika hijrah ke kota metropolitan tahun 1976.

”Di sana niat saya mencari kerja, tapi pada akhirnya saya lontang lantung. Alhamdulillah, saya sempat belajar menjahit di Jakarta,” ungkap Joni.

Mulai dari momen itu, dia menjadi buruh jahit di Bali kurang lebih 10 tahun di Bali. Tepatnya mulai tahun 1994 hingga 2004.

Lalu pada tahun 2005 sampai 2015 berani mengontrak toko untuk kelanjutan usaha jahitnya. Kurang lebih selama 21 tahun Joni dan Uti bekerja sebagai penjahit untuk menghidupi keluarga.

”Dulu sempat memiliki 14 karyawan jahit. Tapi karena harga kontrakan mulai naik, akhirnya pulang ke Jawa,” tutur pria berusia 70 tahun itu.

Joni mengaku tidak pernah membayangkan bisa melihat kelima anaknya sukses di jalannya masing-masing. Dia merasa usaha dan kerja kerasnya bersama sang istri membawa keberkahan.

Seperti yang diketahui, Uti dan Joni memiliki lima anak. Sekadar diketahui, anak pertama menjadi perawat di Rumah Sakit Jember Klinik.

Anak kedua adalah pengusaha, yakni menjalankan usaha tambah udang di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Anak ketiga menjabat sebagai Kepala Bagian (Kabag) Alat Kesehatan di Rumah Sakit Ponorogo. Anak keempat menjadi pengawas pengeboran minyak di Cikarang.

Dan anak bungsu mereka bekerja sebagai desainer lampu tenaga surya di Kabupaten Pasuruan. (rei)

Editor : Ali Sodiqin
#10 November #Penjahit #banyuwangi #sukses #Pahlawan #keluarga