Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Konseptor Gandrung Sewu Wafat Genap 1000 Hari, Bupati, Budayawan, hingga Ketua PCNU Banyuwangi Ikut Mendoakan

Dedy Jumhardiyanto • Rabu, 20 September 2023 | 01:00 WIB
TURUT MENDOAKAN: Bupati Ipuk Fiestiandani (dua dari kiri) didampingi Kepala Dinas Damkarmat Husnul Chotimah turut hadir dalam peringatan seribu hari meninggalnya drh Budianto, Minggu malam (17/9).
TURUT MENDOAKAN: Bupati Ipuk Fiestiandani (dua dari kiri) didampingi Kepala Dinas Damkarmat Husnul Chotimah turut hadir dalam peringatan seribu hari meninggalnya drh Budianto, Minggu malam (17/9).

RadarBanyuwangi.id – 1000 hari meninggalnya budayawan Banyuwangi, drh Budianto, diperingati cukup sederhana di kediaman almarhum di Perumahan Kebalenan Indah Blok A-9, Kelurahan Sobo, Banyuwangi, Minggu malam (17/9).

Kolega, kerabat, budayawan, dan teman dekat hadir dalam acara tersebut, termasuk Bupati Ipuk Fiestiandani. Peringatan seribu hari tersebut nyaris bersamaan dengan selesainya pergelaran Gandrung Sewu.

Konseptor dan penggagas Gandrung Sewu drh Budianto telah berpulang. Namun, namanya hingga kini masih tetap dikenang.

1000 hari meninggalnya Budianto, pihak keluarga menggelar pembacaan tahlil dan doa bersama.

Acara tersebut berlangsung di Perumahan Kebalenan Indah A-9 Kelurahan Sobo, Banyuwangi, Minggu malam (17/9).

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani hadir secara langsung dengan didampingi sejumlah pejabat Pemkab Banyuwangi.

Mereka antara lain Asisten Administrasi Umum Choirul Ustadi Yudawanto, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Husnul Chotimah, Camat Banyuwangi Hartono, Kadisbudpar Yanuarto Bramuda, dan sejumlah pejabat lainnya.

Sejumlah budayawan dan seniman Banyuwangi juga hadir. Di antaranya Ketua Dewan Pengarah DKB Samsudin Adlawi, Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, serta seniman lainnya seperti KRT Ilham Triadinagoro, Suko Prayitno, dan Aekanu Hariyono.

Mantan Sekkab Banyuwangi Masduki Suud juga hadir. Dari kalangan akademisi ada Hary Priyanto dan M. Yasin Soepardi dari Brindo School.

drh Budianto semasa hidup.
drh Budianto semasa hidup.

Usai pembacaan tahlil, Ketua PCNU Banyuwangi Mohammad Ali Makki Zaini diberi kesempatan memberikan sambutan.

”Kami merasa sangat kehilangan, beliau ini orang baik yang selalu membantu jika ada orang lain kesusahan,” ujar Gus Makki, panggilan akrabnya.

Semasa hidup, almarhum Budianto dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dengan siapa pun.

Selama menjadi Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, sosok Budianto dikenal sebagai orang yang selalu mengambil peran.

”Satu-satunya orang yang berani menegur dan mengingatkan kiai, termasuk menegur saya jika salah, ya beliau ini. Ciri khasnya almarhum ceplas-ceplos,” terang Gus Makki.

Budianto meninggal dunia akibat terpapar Covid-19 pada Selasa,12 Desember 2020 pukul 15.30 WIB.

Budianto wafat setelah 10 hari menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD Blambangan. 

Mantan pejabat senior di Pemkab Banyuwangi tersebut juga merupakan sosok budayawan yang getol mengangkat derajat tari gandrung.

Budianto merupakan budayawan yang mampu menaikkan level gandrung menjadi atraksi yang menarik. Sehingga tari gandrung dikenal di nusantara hingga dunia.

Berkat perjuangan Budianto, tari gandrung mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

”Saya ingat beliau ini memberikan kontribusi banyak dengan tari gandrung. Beliau konseptor tari massal di Banyuwangi,” ungkap Cornelis Mangisi, budayawan Banyuwangi.

Istri almarhum, Riyanti Ananta Purnama Ningsih Kusuma Dewi menganggap suaminya sebagai teman hidup terkasih selama tiga puluh tahun.

Bagi Riyanti, mengenang almarhum tak ubahnya mengulang segala kenangan manis yang membekas selama lebih dari tiga puluh tahun.

”Saya mengenal sosoknya bukan hanya sebagai seorang imam, melainkan ia muncul sebagai manusia tersabar di muka bumi yang siap menerima segala ocehan dan amukan yang kerap saya lontarkan sebagai pasangan,” kenang Riyanti yang mantan Camat Giri itu.

Putra sulung almarhum, Abiseka Anoraga menuturkan, tumbuh menjadi si sulung tentu membuatnya menjadi kuat di setiap saat. Sebab, biar bagaimanapun Abiseka harus siap di segala kondisi dan situasi.

”Karena ada dua perempuan yang harus saya lindungi, seperti almarhum yang benar-benar menyiapkan punggungnya sebagai tempat berlindung dari peliknya dunia,” ucap Abiseka.

Dua kondisi ”hebat” yang terjadi pada keluarga Abiseka, membuatnya harus menjadi garda terdepan, yakni saat almarhum harus masuk ke lembaga pemasyarakatan di tahun 2009 dan saat berpulang ke pangkuan-Nya di tahun 2020.

”Situasi-situasi tersebut ternyata menjadi proses yang dapat kami lewati dengan baik, sebab kami berupaya mengamalkan keikhlasan seperti yang selalu Bapak bicarakan dalam setiap kesempatan,” kata Abiseka yang kini bekerja di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Jakarta.

Selain tari gandrung, Budianto berperan dalam pengembangan seni budaya Banyuwangi.

Kiprahnya dalam dunia seni memberikan warna tersendiri bagi kesenian tradisional Banyuwangi. Budianto banyak berperan dalam pengembangan seni dan budaya Banyuwangi.

Kepergian Budianto tentu menjadi duka bagi seniman Banyuwangi. Pria yang juga dulu pernah menjabat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu, telah memberikan banyak kontribusi terhadap seni dan budaya Banyuwangi.

”Meski beliau bukan asli Banyuwangi, tapi memberikan warna bagi seni dan budaya. Kecintaan beliau terhadap budaya dan seni Banyuwangi mendarah daging. Sampai mengalahkan warga asli Banyuwangi sendiri,” ujar Suko Prayitno, Ketua Paguyuban Pelatih Tari Banyuwangi (Patih Senawangi).

Budianto merupakan salah satu tokoh penting di Bumi Blambangan. Maklum, sejumlah jabatan penting pernah diembannya.

Budianto pernah menjabat Asisten Administrasi Pemkab Banyuwangi, Kabag Umum, Kadis Peternakan, Kepala Bappekab, Kadisbudpar, dan staf ahli bupati bidang SDM.

Budianto juga salah satu pengurus Kwarcab Pramuka serta Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. (ddy/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#gandrung sewu #pemkab banyuwangi #Doa Bersama #budayawan #Seniman #pcnu #1000 hari #Ipuk Fiestiandani #tahlil