Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Kakek Tukang Kunci Difabel di Banyuwangi, Umur 3 Tahun Divonis Polio, Dulu Hanya Ingin Disukai Perempuan

Salis Ali Muhyidin • Minggu, 17 September 2023 | 14:30 WIB
MENGGUNAKAN TONGKAT: Mat Sirat saat membuat kunci duplikat pada salah satu pelanggan di rumahnya Dusun Krajan, Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru, Jumat (15/9).
MENGGUNAKAN TONGKAT: Mat Sirat saat membuat kunci duplikat pada salah satu pelanggan di rumahnya Dusun Krajan, Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru, Jumat (15/9).

RADAR GENTENG – “Meskipun sejak kecil saya cacat, saya tidak mau dianggap remeh,” ujar Mat Sirat, warga Dusun Krajan, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

“Setiap berdoa, saya selalu minta diberi kemudahan mendapat rezeki,” imbuh kakek berumur 73 tahun tersebut.

Ya, dengan mata berkaca-kaca, Mat Sirat mengisahkan perjalanan hidupnya yang tidak mudah dan penuh dengan tantangan.

Divonis terkena polio sejak umur tiga tahun, membuat pria kelahiran 27 Juli 1951 itu harus berjuang keras untuk menapaki kehidupan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang kunci itu, mengaku sejak kecil harus hidup susah karena kondisi fisiknya yang kurang sempurna itu.

“Kaki kanan cacat karena polio. Sejak umur tiga tahun itu saya tidak bisa jalan dengan normal,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Meski kurang sempurna, pria kelahiran Desa Kebonrejo, Kecamatan Kalibaru yang mengaku hanya lulusan SD itu, tak mau menyerah dengan keadaan.

“Dulu sempat putus asa, takut kalau besar tidak bisa kerja dan hanya menyusahkan, tapi ternyata Allah kasih jalan lain,” ungkapnya.

Mat Sirat mengaku selalu berdoa, agar diberi kemudahan untuk mendapatkan rezeki seperti apapun kondisinya.

“Saya dulu cuma minta dua hal, bisa dapat rezeki dan satu lagi disukai sama perempuan,” paparnya seraya tersenyum.

Doanya itu ternyata terkabul, sejak lulus SD mulai menunjukkan ada kemudahan dalam bekerja.

Dari beragam model pekerjaan yang dicoba, kemudian mantap untuk memilih menjadi tukang kunci.

“Saya dulu punya bengkel mulai stel peleng sampai ini (tukang kunci),” tandasnya.

Pekerjaan sebagai tukang kunci, dilakoni Mat Sirat sejak 1970. Awalnya, membeli sebongkah lubang kunci baru untuk dipakai belajar.

“Belajarnya otodidak, beli kunci lalu diotak-atik sampai bisa,” tandasnya.

Merasa sudah mahir, Mat Sirat akhirnya memberanikan diri membuka jasa perbaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan pintu dan kunci.

“Sejak saat itu sampai sekarang, saya masih eksis. Saya sudah terkenal di mana-mana. Cari saja Istana Kunci semua tahu,” katanya seraya tertawa.

Apa yang dikatakan Mat Sirat rasanya bukan hanya gumpalan abab yang keluar dari mulutnya.

Di wilayah Kalibaru, Glenmore, hingga Jember, pria ini memang bak pahlawan bagi orang yang sedang apes karena kunci kendaraannya hilang atau tertinggal di dalam mobil.

“Saya biasanya panggilan, kadang sampai ke Gumitir juga,” terangnya.

Menurutnya banyak orang yang membutuhkan jasanya untuk membukakan kunci, atau membuatkan kunci duplikat kendaraannya.

“Kadang dipanggil ke Sumberwadung (Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng). Dan seringnya ke Jember, itu yang paling jauh,” tandasnya.

Dengan kondisinya itu, para pelanggan biasanya menjemput ke rumahnya.

“Saya tidak bisa naik motor, orang yang manggil buat betulin kunci atau ngambil kunci di dalam mobil itu ya harus jemput saya dulu,” terangnya.

Untuk pendapatan, pria yang sesuai doanya mengaku sudah menikah sebanyak sembilan kali itu, mengungkap merasa tercukupi dengan usahanya ini.

“Sejak dulu selalu menjanjikan. Kalau tidak, tidak mungkin bisa bertahan sampai saat ini,” paparnya.

Dalam sehari, Sirat mengaku pernah mendapat pemasukan hingga Rp 900 ribu. Ia membanderol untuk jasa mengambil kunci di dalam mobil Rp 150 ribu.

“Untuk membuat kunci duplikat bervariasi, mulai Rp 45 ribu hingga lebih,” ujarnya.

Tapi kalau lagi apes, Mat Sirat mengaku tidak mendapat pemasukan sama sekali dalam sehari.

Bila itu sampai terjadi, tak jarang dia harus membongkar tabungan untuk bisa bertahan hidup.

“Namanya rezeki, kadang banyak, kadang enggak. Kadang sehari tidak ada sama sekali,” tandas kakek dengan tiga anak dan delapan cucu tersebut.

Mat Sirat yang cacat sejak kecil, mengaku belum pernah terjamah bantuan sosial (bansos) sama sekali dari Pemerintah Desa Kalibaru Wetan.

“Yang saya tahu, orang cacat itu ditanggung pemerintah. Tapi sampai sekarang, saya tidak pernah dapat. Mungkin bisa ditanyakan ke tetangga kalau tidak percaya,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengaku tidak pernah mempermasalahkan. Dengan kondisi ini, ia teringat kata-kata anaknya kalau tidak bisa minta bantuan ke pemerintah, minta ke Allah.

“Kata-kata anak itu yang selalu saya ingat,” pungkasnya. (sas/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#Kehidupan #polio #rezeki #perempuan #tukang kunci #lulusan sd #allah