Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenal Sosok Gunadi, Anak Tukang Sol Sepatu di Banyuwangi yang Sukses jadi Profesor di UGM

Gareta Yoga Eka Wardani • Sabtu, 16 September 2023 | 18:30 WIB
Gunadi dan keluarganya usai pengukuhan guru besar kedokteran bedah anak di FK UGM, Kamis lalu (14/9).
Gunadi dan keluarganya usai pengukuhan guru besar kedokteran bedah anak di FK UGM, Kamis lalu (14/9).

RadarBanyuwangi.id – Masa kecil hingga remajanya dihabiskan di Banyuwangi, kampung halamannya.

Prof dr Gunadi PhD SpBA SubspDA (K) dikukuhkan sebagai guru besar dalam Bidang Ilmu Bedah Anak FK-KMK Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta, Kamis (14/9).

Profesor berusia 44 tahun tersebut mengharumkan nama Banyuwangi dan Indonesia di dunia kedokteran.

Pria kelahiran 19 November 1979 itu berasal dari Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi.

Sebagai putra daerah yang membanggakan tidak membuat Gunadi jemawa. Bapak empat anak ini dikenal sebagai pribadi yang lembut, baik, dan jenius.

Bagaimana tidak, sejak masih duduk di bangku sekolah, Gunadi sudah menunjukkan kecerdasannya kepada teman dan sekolah.

Saat menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Gunadi berhasil menjadi lulusan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) yang nyaris sempurna yaitu 3,95.

Saat menempuh pendidikan dokter pada tahun 2002 hingga 2004, Gunadi meraih IPK 3,88. Dengan prestasinya tersebut, dia berhasil menempuh pendidikan doktor di Jepang.

Alumnus SMAN 1 Giri ini dikenal rajin saat mengenyam dunia pendidikan. Tidak jarang Gunadi menjadi jujukan teman-temannya untuk meminjam catatan yang telah dibuat.

Gunadi tidak marah. Dengan senang hati dia berikan catatan tersebut kepada para temannya sebagai bahan belajar.

Seperti yang diungkapkan Dhany Eko Aprilin, salah satu teman Gunadi duduk di bangku SMP dan SMA.

Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai pegawai PUDAM Banyuwangi itu mengungkapkan, Gunadi sejak sekolah dikenal sangat jenius. Kecerdasannya selalu di atas rata-rata.

”Yang saya amati saat SMP dan SMA, Gunadi sangat bersahaja, tekun, dan taat beribadah. Saya sering meminjam catatan dia. Pokoknya setelah sekolah saya pasti pinjam catatan. Jarang ada laki-laki yang memiliki pribadi bagus, rapi, dan komplet seperti Profesor Gunadi,” ungkapnya.

Sebagai teman sejak kecil, Dhany tidak heran jika Gunadi selalu mendapatkan nilai ”bulat” pada setiap mata pelajaran.

Terlihat sejak di bangku sekolah, prestasi dari Gunadi sangat cemerlang di bidang eksakta. Bahkan, Gunadi pernah meraih nilai UN tertinggi se-Banyuwangi saat SMP.

”Sejak SMA nilai Gunadi mentok di angka 10. Nilainya selalu sempurna pada mata pelajaran eksakta. Ketika SMP ahli mata pelajaran matematika, saat SMA ahli Fisika. Mungkin beliau memang memiliki kecerdasan di bidang eksak,” imbuhnya.

Gunadi bukan berasal dari keluarga mampu. Sejak kecil, dia terbiasa hidup dalam keluarga yang sederhana.

Ayah dan ibunya adalah warga biasa, bahkan ayahnya yang bernama Usnan adalah tukang sol sepatu, sedangkan ibunya yaitu Hikmah adalah ibu rumah tangga pada umumnya.

”Saya bangga Gunadi telah mengharumkan nama Banyuwangi dan Indonesia di kancah dunia kedokteran. Sebagai seorang dokter kenamaan, dia lebih fokus mengajar dan penelitian. Tidak buka praktik di rumah,” ujar Hujaini, teman dekat Gunani semasa SMP dan SMA. 

Berkat kerja keras dan ketekunannya, mengantarkan Gunadi mencapai karir yang begitu cemerlang.

Ketika dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Bedah Anak FK-KMK UGM, Gunadi memaparkan tentang penyakit Hirschprung (HSCR).

Yaitu penyakit bawaan yang menjadi salah satu penyumbang signifikan angka kematian bayi baru lahir dan anak berusia di bawah lima tahun.

HSCR ini menyebabkan gangguan buang air besar pada bayi.

Gunadi telah menyusun berbagai penelitian yang tidak kalah membanggakan. Salah satu penghargaan yang diraih adalah sebagai peneliti muda terbaik dalam kompetisi Ristek Kalbe Science Award (RSKA) tahun 2014.

Kala itu usia Gunadi 34 tahun. Berbagai penghargaan kerap dipersembahkan Gunadi atas karyanya di bidang kedokteran.

Yang menarik, dalam pengukuhan guru besar di FK UGM, Gunadi tak lupa asalnya. Ibarat kacang tidak meninggalkan lanjaran.

Dia undang teman-teman dekatnya sewaktu duduk di bangku SMP dan SMA.

Guru-guru SMP dan SMA juga dia datangkan ke Jogjakarta dengan mengenakan baju batik seragam.

Pengukuhan tersebut juga dihadiri profesor dari Johns Hopkins University dan Kobe University, Japan. (rei/aif/c1)

 

 

Editor : Ali Sodiqin
#sol sepatu #guru besar #Bedah #sman 1 giri #jepang #PUDAM Banyuwangi #dokter #Anak #ugm #ipk #banyuwangi