Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Semangat Tanpa Batas Sutradara Gandrung Sewu 2023, Hamil Delapan Bulan Tetap Eksis Melatih Talent

Dedy Jumhardiyanto • Selasa, 12 September 2023 | 16:30 WIB
TOTALITAS: Miftahul Jannah mengarahkan penari gandrung sewu dalam sesi latihan gabungan di Stadion Diponegoro, Minggu malam (10/9).
TOTALITAS: Miftahul Jannah mengarahkan penari gandrung sewu dalam sesi latihan gabungan di Stadion Diponegoro, Minggu malam (10/9).

RadarBanyuwangi.id – Hamil tua dengan usia kandungan delapan bulan bukan menjadi penghalang bagi Miftahul Jannah untuk menularkan ilmu menari.

Perempuan berusia 28 yang tinggal di Jalan Sutawijaya, Kelurahan Sumberejo begitu bersemangat melatih talent-talent gandrung sewu hingga larut malam.

Perhelatan akbar gandrung sewu tidak lepas dari peran para seniman Banyuwangi. Salah satunya Miftahul Jannah, sang sutradara dan koreografer gandrung sewu.

Meski dengan kondisi hamil tua, perempuan berusia 28 tahun ini masih tetap semangat, tangkas dan trengginas memimpin latihan yang digelar di stadion Diponegoro Banyuwangi.

Kedua tanganya memegang microphone dan handy talkie (HT), ada juga buku catatan kecil. Sibuknya bukan main, dia perempuan yang paling sibuk melihat barisan ribuan penari gandrung dan mengarahkanya.

Suaranya parau nyaris habis, maklum dia bisa dibilang adalah dirigen yang mengomando para penari gandrung untuk bergerak dan bergeser sesuai formasinya.

Tidak hanya mengomando menggunakan mic, HT yang dipegangnya juga digunakan berkoordinasi dan berkomunikasi dengan para pelatih koreografer dan musisi lainya yang terlibat dalam latihan gabungan tersebut.

Di sela-sela istirahat latihan itu, dia juga menyempatkan untuk momong anak pertamanya Savarna As Salwa yang masih berusia 15 bulan.

“Saya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, justru kalau mager di rumah dan tidak melakukan aktivitas kreativitas saya jadi tumpul,” ungkapnya.

Sejak lulus tahun 2018 lalu di Sekolah Tinggi Wilwatikta (STKW) Surabaya, dia tetap berkecimpung dalam berbagai seni pagelaran di Surabaya di Jakarta.

Berbagai event besar pernah ditangani sebut saja event eksotika bromo dan event lainya di pandaan Wilawtikta juga pernah digawanginya.

“Saya baru dua tahun ini pulang ke Banyuwangi, sebelumnya di Surabaya sering membantu event seni tari pertunjukkan,” jelas istri Gilang Ramadhani ini.

Sejak pulang ke Banyuwangi, dia langsung bergabung dengan seniman muda Banyuwangi lainya dan bergabung dalam platform nyawiji.

Melalui komunitas ini, tak jarang menggelar event hari tari dunia di RTH Singojuruh, dan di rumah adat keboan Alasmalang.

Tak heran, jika tahun ini dia ditunjuk menytradaraio gandrung sweu bersama teman-teman seniman muda Banyuwangi.

“Ini tantangan baru bagi saya, sebelumnya di kehamilan pertama juga sudah pernah terlatih dengan situasi ini,” katanya.

Pagelaran gandrung sewu kali ini dengan tema ‘Omprog Seni Menuju Keagungan’ mencoba menawarkan seni yang berbeda. Jika pada gandrung sewu tahun sebelumnya lebih banyak menyajikan fragmen dan dialog.

Kali ini, dia bersama tim pelatih lainya mencoba mengemas dengan memberikan seni pertunjukkan berupa seni tari, music, teater dalam satu kesatuan yakni vocal monolog, vocal tembang dan gerak tari.

Proses latihan kali ini juga tidak sembarangan, butuh waktu sediktinya enam bulan untuk berlatih di masing-masing wilayah sebelum pada akhirnya digabungkan dalam latihan bersama yang sudah dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan ini.

“Tinggal sekali lagi latihan gladi bersih, mohon doanya semoga semuanya bisa berjalan lancar dan sesuai harapan,” pungkasnya. (ddy/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#gandrung sewu #melatih #sutradara #koreografer #hamil #Seniman #penari #Talent