Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Anak Tukang Parkir Daftar Polisi, Tes Pertama Kena Tipu di Pantukhir, Kini Aipda Jarwadi Jadi Penyidik

Salis Ali Muhyidin • Selasa, 1 Agustus 2023 | 17:00 WIB
TUGAS: Aipda Jarwadi saat bertugas. Ia mengevakuasi bayi yang diduga dibuang orang tuanya di Desa Setail, Kecamatan Genteng, 30 Juni lalu.
TUGAS: Aipda Jarwadi saat bertugas. Ia mengevakuasi bayi yang diduga dibuang orang tuanya di Desa Setail, Kecamatan Genteng, 30 Juni lalu.

RADAR GENTENG – “Jangankan untuk bermimpi jadi polisi, untuk makan sehari-hari saja susah. Tapi harus percaya, rezeki tidak pernah tertukar,” kata Aipda Jarwadi, 39, bintara polisi yang bertugas di Polsek Genteng, sebagai penyidik Unit Reskrim.

Apa yang disampaikan Jarwadi yang tinggal di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, itu bukan isapan jempol belaka.

Keluarganya memang tergolong tidak mampu dan rasanya tak mungkin bisa menghantarkan pria yang kini biasa menginterogasi pelaku kriminal itu jadi polisi.

Ayahnya, Sarpani, 73, hanya seorang tukang parkir part time. Di bagian lain, Sarpani biasa menghabiskan waktunya di sawah sebagai buruh tani.

Tak beda, ibu Jarwadi, Tuyem, yang meninggal pada 2012 lalu di usia 56, juga turut membantu Sarpani di sawah.

Dengan gambaran pekerjaan dua orang tuanya, jelas membuat pria yang sudah jadi polisi sejak 20 tahun lalu itu, tak berani bermimpi terlalu jauh untuk jadi polisi.

Apalagi di zaman itu, kiranya tidak tabu menyebut instansi Polri syarat dengan masifnya polisi titipan dengan barteran senilai uang.

Meskipun begitu, Jarwadi mengisahkan jika sejak kecil ia selalu berujar ingin menjadi abdi negara ketika dewasa. Setiap ditanya kerabat atau tetangga, ia selalu menjawab ingin jadi tentara.

“Dulu ingin jadi tentara. Tiap ditanya, selalu jawab ‘ingin jadi tentara’,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Baca Juga: Ritual Adat Kebo-Keboan Alasmalang Berlangsung Meriah, Dihadiri Menpan-RB Abdullah Azwar Anas

Pria kelahiran 15 Desember 1983 tersebut mengisahkan jika masa kecilnya tak pernah mudah. Sejak muda ia diharuskan ikut bekerja untuk sekadar mendapatkan uang saku.

“Dulu untuk dapat uang saku, harus ikut kerja. Entah di sawah atau markir,” paparnya.

Malahan, ia biasa membagi waktu belajarnya dengan jadi tukang parkir di gedung bioskop yang ada di Kecamatan Gambiran.

Sepulang sekolah di SMAN 2 Genteng ia akan istirahat sejenak untuk kemudian keluar lagi. Bekerja. “Pulang sekolah jam 14.00. Istirahat. Nanti jam 18.00 berangkat markir. Pulang jam 23.00,” ujarnya.

Dalam semalam, saat itu Jarwadi bisa membawa pulang uang Rp 10.000 sampai Rp 13.000. “Uang itu dikumpulkan dan buat uang saku sehari-hari,” katanya saat menceritakan kisahnya di ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Genteng.

Bertahun-tahun menjalani kehidupan yang keras, anak kedua dari dua bersaudara itu kemudian memutuskan untuk berkuliah ketika lulus SMA.

Keinginannya itu pun disampaikan ke Sarpani. “Awalnya ingin kuliah, tapi bapak sudah tidak sanggup katanya. Tidak sanggup membiayai saya kalau untuk kuliah,” sebutnya.

Alhasil, mimpinya berkuliah pun langsung ia kubur dalam-dalam. Ia ganti merajut mimpinya yang lain, yakni menjadi polisi.

“Bapak waktu itu sudah banyak utang, karena sebelumnya biayai Mas saya kuliah. Makanya minta saya buat bekerja saja,” tandasnya.

Bermodal nekat, Jarwadi yang telanjur ingin menjadi polisi, lantas keliling ke polsek-polsek guna mencari informasi jadwal pendaftaran polisi.

“Januari 2003 mendaftar gelombang satu. Setelah mendapat informasi pendaftaran, berangkat ke Malang untuk tes,” katanya.

Jarwadi kurang beruntung pada tesnya yang perdana. Mulanya ia lolos di semua tes yang diikuti, mulai tes akademik hingga kesehatan.

Namun menjelang penilaian panitia penentu akhir (panthukir) ia berkenalan dengan seorang yang mengaku bisa membawanya lolos tes kepolisian terakhir itu.

“Saya kenalan dengan orang itu saat tes. Katanya bisa buat saya lolos tapi bayar Rp 12 juta,” ujarnya.

Lantaran kepolosannya, ia kemudian percaya. Meskipun ragu lantaran tak ingin membebani orang tuanya dengan nominal uang tersebut Jarwadi tetap menyampaikan hal tersebut ke Sarpani.

“Saya posisi di Malang, waktu itu telepon Pak Lik (Om), bilang kalau ada yang nawari bisa lolos dengan bayar uang segitu,” ujarnya.

Ingin anaknya lolos, Sarpani yang mendapat kabar tersebut nekat dengan menjual sepeda motor Suzuki Tornado miliknya.

Sang ayah juga menjual sepetak tanah peninggalan orang tuanya, dan utang, Sarpani bisa mengumpulkan uang Rp 12 juta tersebut untuk diantar ke Malang.

“Waktu itu saya juga bingung, bapak dapat uang dari mana,” ucapnya.

Tidak menunggu lama, Jarwadi kemudian menyerahkan segepok uang itu ke seseorang yang bekerja sebagai PNS di internal kepolisan itu.

“Awalnya ragu dan takut ditipu. Tapi tetap saya berikan, Rp 5 juta, lalu bertahap sampai Rp 12 juta,” sebutnya.

Bukannya lolos, Jarwadi justru menemui kenyataan pahit. Apa yang ia khawatirkan terjadi. Dia tidak lolos dan ditipu mentah-mentah.

“Saat itu pantukhir ditunda sebanyak enam kali. Saat pengumuman diambil 250 sari 350 anak, saya tidak lolos,” ujarnya.

Mendapat kenyataan itu, hatinya hancur. Tangisnya pecah membayangkan betapa luluh lantahnya harapan orang tuanya yang telanjur menggelontorkan banyak uang (setidaknya bagi keluarganya) demi cita-citanya.

“Orang tua nangis semua, uang dapat utang dan jual motor tidak jadi apa-apa,” katanya dengan air mata yang nyaris tumpah dari matanya.

Pulang ke rumah setelah pendaftaran gelombang pertama gagal, Jarwadi kembali melanjutkan hidupnya seperti biasa.

Tidak lagi jadi tukang parkir, ia berganti ikut bekerja seorang agen alat pel yang rumahnya tidak jauh darinya.

“Saya kerja ikut orang. Keliling nawarin alat pel. Saya tugasnya nyatat orang yang bayar angsuran,” jelasnya.

Sembari mencari uang dengan ikut tetangganya jualan alat pel itu, Jarwadi terus merawat cita-citanya sebagai polisi. Uang hasilnya bekerja ia kumpulkan, waktu luangnya ia pakai untuk belajar dan latihan fisik.

“Sempat ragu mau daftar lagi, tapi terpacu lagi setelah ada tetangga mencibir. Saya sempat diejek kalau anak tukang parkir tidak mungkin bisa jadi polisi,” ungkapnya.

Cibiran itu membuatnya semangat, saat ada pendaftaran gelombang kedua, ia langsung memasukkan berkas-berkasnya dan bersiap berangkat ke Malang.

“Yang kedua itu saya enggak mau gembar-gembor. Diam-diam, takut kalau gagal lagi akan dicibir lagi,” ungkapnya.

Ia juga tidak mau lagi mengeluarkan uang untuk memuluskan keinginannya. Ia yakin dengan kemampuan dan doa dari kedua orang tuanya.

“Saya enggak mau ditipu lagi, yang kedua daftar lagi pada April 2004. Alhamdulillah, Juli pengumuman dan lolos,” tandasnya.

Pengumuman lolosnya itu tentu membuatnya senang bukan main. Ia langsung mengabarkan hal itu ke keluarganya di Jajag.

“Semuanya senang, nangis tapi nangis haru karena senang. Sampai rumah langsung potong rambut dan gundul,” katanya.

Selesai menjalankan pendidikan pada 2004, ia kemudian bertugas di Polresta Banyuwangi sebagai anggota Sabhara.

Dua tahun di sana, ia kemudian ditarik ke Polsek Muncar untuk menjadi penyidik Unit Reskrim. Sembat berpindah-pindah tugas, pada 2018 lalu ia menetap di Polsek Genteng juga sebagai penyidik.

“Sejak saat itu saya tidak percaya kalau ada yang bisa masuk Polri dengan bayar. Yang ada dibohongi, mending uange dibuat les saja,” katanya.

Karena itu, ia kerap berpesan kepada anak-anak muda yang punya keinginan menjadi polisi untuk lebih menguatkan lagi niatnya.

“Kisah saya sering saya ceritakan ketika ada sosialisasi di sekolah. Agar memotivasi anak-anak,” pungkasnya. (sas/als)

Editor : Ali Sodiqin
#tentara #cita-cita #polisi #polri #polsek genteng #penyidik #tukang parkir #Pantukhir