RadarBanyuwangi.id – Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Ahmad Widan Zidane Nafi sudah bercita-cita menjadi seorang polisi. Impian tersebut terwujud Kamis (20/7).
Anak ketiga pasangan suami istri (pasutri) Mudoffar, 55, dan Ita Hardini, 52, yang tinggal di Kelurahan Panderejo tersebut dinyatakan lulus sebagai calon anggota bintara Polri.
Tidak gampang untuk meraih cita-cita menjadi seorang polisi. Zidan harus jungkir balik mewujudkan impian besar tersebut. Zidan harus menyisihkan ribuan pesaing.
Meski sempat gagal di tahun 2022, remaja berusia 20 tahun tersebut tetap bangkit demi mencapai cita-citanya.
Alumnus SMAN 1 Banyuwangi tersebut berhasil membuktikan dirinya mampu menjadi seorang anggota Polri. ”Alhamdulillah, saya tidak menyangka bisa lulus dan diterima sebagai bintara Polri,” ungkap Zidan dengan wajah berseri-seri.
Mengikuti pendaftaran bintara Polri bukan untuk pertama kalinya bagi Zidan. Tahun 2022 dia pernah mendaftarkan diri, namun gagal di tingkat pantukhir.
”Dua kali saya mendaftar bintara. Awal tahun 2021 mendaftar bintara AL, namun juga gagal di pantukhir,” katanya.
Kegagalan tersebut tidak membuatnya patah semangat. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, Zidan terus belajar dan meningkatkan kemampuan dirinya.
”Hampir setiap hari olahraga dan renang. Semua saya jalani demi menjaga daya tahan tubuh serta melatih fisik,” jelasnya.
Zidan juga lebih giat belajar dalam bidang akademik. Karena keterbatasan ekonomi keluarga, Zidan harus belajar secara mandiri.
”Saya sangat paham, ekonomi keluarga pas-pasan. Saya harus berusaha mandiri demi meringankan beban orang tua,” ungkapnya.
Keberhasilan Zidan tidak terlepas dari dorongan orang tua, termasuk sang ayah, Mudoffar. Sebagai orang tua, dia tak henti-hentinya memberikan semangat kepada anaknya. ”Sejak kecil Zidan rutin berlatih renang,” kata Mudoffar.
Sejak anaknya memutuskan mendaftarkan diri sebagai bintara Polri atau TNI AL, dirinya terus memberikan dorongan dan semangat. Mudoffar tidak pernah melarang anaknya mendaftar apa pun.
”Zidan saya bebaskan memilih jalur hidupnya. Saya hanya mendorong saja karena kondisi ekonomi terbilang tidak stabil. Saya selalu berpesan, jalani kehidupan mengalir apa adanya. Jika menjadi polisi, jadilah polisi yang baik,” pesan pria yang sehari-harinya sebagai bekerja sebagai buruh serabutan tersebut kepada anaknya. (rio/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin