Beberapa orang masih sibuk memasak kue basah seperti kucur dan pisang goreng. Suasananya mirip pesta sunatan atau pernikahan. Bokiyanto dan istrinya memang baru saja menggelar hajatan. Dua hari sebelumnya, pasutri tersebut baru saja menggelar acara khitan (kebiri) untuk kucing kesayangannya, yaitu Cipak, Cipung, dan Ciko.
Acara itu diramaikan dengan tontonan seperti jaranan dan hiburan musik elekton disertai deretan penyanyi. Undangan yang datang para tetangga satu kampung. Suasananya mirip hajatan pada umumnya. ”Para tetangga ada yang bilang acara ini sangat unik. Ada yang seperti meledek, kucing kok ditanggapkan jaranan,” kata Bokiyanto.
Meski tampak aneh, Bokiyanto dan istrinya tetap menggelar hajatan bagi tiga kucing kesayangannya. Setelah ketiga kucingnya dikhitan, Bokiyanto dan Indrawati mengundang kesenian jaranan untuk tampil di rumahnya. Sejak pagi, puluhan orang berdatangan menonton jaranan.
Mereka penasaran dengan hajatan yang digelar untuk memperingati khitanan kucing tersebut. Sampai siang hari, tak terhitung berapa jumlah tamu yang datang. Mulai pencinta kucing hingga warga yang penasaran dengan acara khitan kucing. ”Tiga kucing yang dikhitan saya taruh di depan, banyak yang penasaran. Ada yang ngasih amplop, tapi saya tolak. Hajatan ini untuk kucing saya yang dikhitan,” ujar Bokiyanto.
Kecintaan pasutri tersebut kepada kucing sudah cukup lama. Yang paling cinta dengan kucing adalah istrinya. Pada Oktober 2022, pasutri tersebut menemukan tiga ekor kucing yang kemudian diberi nama Cipak, Cipung, dan Ciko. Kucing tersebut dibuang di depan rumah. Awalnya sempat dikira anak tikus karena wujudnya masih bayi merah. Setelah diamati, ternyata anak kucing.
Bokiyanto sempat marah karena ada orang yang tega membuang bayi kucing. Namun, istrinya justru senang. Akhirnya ketiga kucing tersebut diberi susu, bubur, dan dirawat hingga besar. ”Istri saya yang telaten merawat. Saya sempat tidak yakin bakal hidup karena masih bayi merah,” jelasnya.
Sebelum ada Cipak, Cipung, dan Ciko, pautri tersebut pernah memiliki kucing ras yang diberi nama Lupus. Suatu hari, Lupus pergi karena mengejar kucing betina. Beberapa minggu berlalu, Lupus pulang dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya terluka akibat gigitan ular.
Lupus sempat mendapat perawatan. Sayang, seminggu kemudian Lupus mati. ”Lupus sempat opname selama tujuh hari, tapi nyawanya tidak bisa diselamatkan. Kami gelar selamatan sampai 100 harinya. Istri saya kepikiran terus,” terang pria asal Desa Pakel itu.
Setelah menemukan Cipak, Cipung, dan Ciko istrinya sempat bernazar. Jika nantinya tumbuh sehat sampai dewasa, ketiga kucing tersebut akan dikhitan disertai hajatan. ”Tujuannya supaya kucing-kucing itu tidak seperti Lupus. Biar tinggal di rumah saja, supaya tidak mengejar kucing betina,” kata Bokiyanto.
Wujud cinta Indrawati kepada tiga ekor kucingnya tidak main-main. Setiap bulan, ibu satu anak itu membeli pakaian untuk tiga kucing kesayangannya. Setiap malam, Cipak, Cipung, dan Ciko juga tidur bersamanya. Indrawati menganggap ketiga kucing itu adalah anak kedua, ketiga, dan keempatnya. Dari perkawinan dengan Bokiyanto, Indrawati dikaruniai satu anak bernama Kharisma,13.
Bagi Indrawati, hajatan untuk ketiga kucingnya menjadi sebuah kewajiban, layaknya orang mengkhitankan anak. Sebelum dikhitan pada hari Jumat, dokter hewan di Puskeswan Licin menyarankan agar ketiga kucing tersebut berpuasa. Indrawati memilih menginapkan ketiga kucingnya di puskeswan dengan biaya Rp 25 ribu per malam. ”Sejak punya janji mengkhitankan kucing, saya nabung pelan-pelan. Sampai akhirnya bisa nanggap jaranan dan mengundang penyanyi elekton,” tandasnya. (aif/c1)
Editor : Gerda Sukarno Prayudha