Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dwi Putri Ramadani; Generasi Penari Seblang Olehsari Ke-30 Itu Ternyata Atlet Lari

Syaifuddin Mahmud • Senin, 29 Mei 2023 | 21:00 WIB
ATLET LARI: Dwi Putri Ramadani menunjukkan medali yang dia raih dalam cabor lari estafet. (kiri). Dwi Putri menari Seblang Olehsari dengan hiasan rumbai-rumbai daun pisang pada H plus tiga Lebaran (25/4) lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
ATLET LARI: Dwi Putri Ramadani menunjukkan medali yang dia raih dalam cabor lari estafet. (kiri). Dwi Putri menari Seblang Olehsari dengan hiasan rumbai-rumbai daun pisang pada H plus tiga Lebaran (25/4) lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Paras penari Seblang Olehsari yang tampil pada H plus tiga Lebaran lalu cukup menyita perhatian penonton. Selain berparas cantik, sang penari seblang ke-30 tersebut ternyata pernah menjadi seorang atlet lari.

Dwi Putri Ramadani adalah anak dari seblang Salwati yang pernah menari di Olehsari pada tahun 1987. Bungsu dari dua bersaudara tersebut sempat tidak diprediksi akan menjadi penari seblang selanjutnya.  Ibunya tak menginginkan dia melanjutkan sebagai penari seblang.

Bahkan, gadis berusia 19 tahun yang akrab disapa Puput itu tinggal di Desa Glagah sejak kecil. Orang tua berharap Puput tidak ”ketiban sampur” menjadi penari seblang.

Ternyata, leluhur seblang berkehendak lain. Puput yang memiliki garis keturunan dari Sayu Sarinah tetap menjalankan tugasnya. Dia akhirnya menari selama sepekan untuk tetap melanjutkan ritual Seblang Olehsari yang sudah berjalan dari generasi ke generasi itu.

”Saya tahu ibu adalah seorang penari seblang, nenek juga. Ibu pernah berucap jangan sampai anak cucunya menari seblang, saya tenang-tenang saja. Tidak pernah terpikir akan menari seblang,” ungkap Puput.

Sejak kecil, kehidupan Puput tak begitu dekat dengan kesenian seblang. Dia justru aktif menjadi atlet lompat jauh, sebelum kemudian menjadi atlet lari estafet. Dia juga pernah menjadi atlet berkuda.

Puput mengira tidak akan melanjutkan trah penari seblang karena tak begitu menyukai kesenian. Bahkan, selama ada ritual tarian seblang, Putri tak pernah menonton. Setiap Seblang Olehsari digelar, dia hanya lewat tanpa pernah menyaksikan. Putri yang mengaku kerap kesurupan saat masih duduk di bangku SD kemudian menjalani ritual untuk menuruti mata batinnya.

Sejak itu, Puput nyaris tak pernah lagi bersinggungan dengan dunia seblang. Pada tahun 2019 atau setahun sebelum pandemi Covid-19, alumnus SMKN 1 Banyuwangi itu kerap mendapat mimpi yang berulang-ulang. Dalam mimpinya dia bertemu dengan sosok yang diduga adalah leluhur orang-orang Olehsari. Sejak saat itu, Puput mengaku mulai tertarik dengan sejarah seblang.

Puput pun bercerita kepada neneknya yang mantan penari seblang, ibunya, dan saudara-saudaranya yang memiliki ikatan dengan Seblang Olehsari. Segala informasi seputar seblang dia tulis. Mulai prosesi ritual, nama-nama penari seblang, sampai makna ornamen dalam ritual seblang.

Baru pada tahun 2022, Puput akhirnya menonton seblang secara langsung. Saat itu seblang Susi Susanti menari untuk pertama kalinya setelah dua tahun ritual ditiadakan karena pandemi. Pada hari ketujuh pertunjukan seblang, Puput hadir. Tak sengaja, dia ”ketiban sampur” dan dapat giliran menari. Saat sampur melingkar di lehernya, Puput langsung tak sadarkan diri.

Rupanya, kejadian itu adalah pertanda jika Puput sudah ditunjuk oleh leluhur warga Desa Olehsari sebagai penari seblang selanjutnya. ”Awalnya saya tidak mau, tapi leluhur meminta saya. Sepuluh hari sebelum Lebaran, ada yang kesurupan di Olehsari. Saya dipanggil, ternyata leluhur minta saya. Keluarga diminta mengikhlaskan saya jadi penari seblang,” ceritanya.

Setelah dipilih menjadi penari seblang, banyak hal berubah dalam diri Puput, terutama sudut pandangnya dalam melihat kesenian seblang. Dia mengaku bangga kini bisa ”terpilih” sebagai penari seblang. Sebagai seorang penari, dia ingin mengubah persepsi negatif yang kerap dipikirkan orang tentang ritual Seblang Olehsari. ”Banyak yang melihat seblang itu setan. Padahal mereka tidak tahu yang sebenarnya,” ucapnya.

Tari seblang, menurut Puput, adalah media komunikasi yang dilakukan para leluhur yang tinggal di dimensi yang berbeda. Tarian itu menjadi simbol jika ada keselarasan dalam hidup berdampingan antara dua alam yang berbeda. ”Putaran yang dilakukan juga ada maknanya, seperti orang bertetangga. Jika kita saling menghormati, maka akan saling menjaga,” tuturnya

Ibu Putri, Salwati menambahkan, sebenarnya dirinya bukan tak menyetujui anaknya menjadi penari seblang seperti dirinya. Namun, menjadi penari seblang menurutnya tidak sesederhana yang orang saksikan. Seorang penari seblang harus siap mengemban tanggung jawab, minimal selama tiga tahun.

Salwati menceritakan, tujuh hari sebelum hari raya, Puput terus-terusan meminta minum kopi pahit. Leluhurnya sempat mendatanginya untuk meminta agar Puput diikhlaskan menjadi penari seblang. ”Alhamdulillah akhirnya bisa mengemban amanat leluhur sebagai seorang penari seblang,” tandas Salwati. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#olehsari #seni #Atletik #olahraga #Lari Estafet #seblang