Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Doroteus Bryan Agung, Putra Daerah Asal Banyuwangi Jadi Romo Termuda

Gerda Sukarno Prayudha • Rabu, 10 Mei 2023 | 14:28 WIB
SEMANGAT MELAYANI: Pastor Doroteus Bryan Agung usai dilantik di Katedral Ijen Malang, Kamis (27/5). (Antonius untuk RadarBanyuwnagi.id)
SEMANGAT MELAYANI: Pastor Doroteus Bryan Agung usai dilantik di Katedral Ijen Malang, Kamis (27/5). (Antonius untuk RadarBanyuwnagi.id)
BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Dilantiknya Doroteus Bryan Agung sebagai pastor wilayah keuskupan Malang menjadi hal yang membanggakan. Tidak hanya untuk umat Katolik Banyuwangi, tetapi juga hingga wilayah Malang Raya.

Setelah sebelumnya, yakni sekitar 22 tahun tidak ada pastor yang menerima tahbisan. Tepatnya, sejak tahun 2001. Kini pria 29 tahun asal Banyuwangi tersebut menjadi pastor termuda di wilayah keuskupan Malang.

Bryan, putra daerah asli Banyuwangi yang telah dilantik di Katedral Ijen, Malang, Kamis (27/5), telah melewati berbagai macam situasi dan perjalanan rohani. Hingga akhirnya dia siap menyerahkan diri dan melayani seluruh jemaat yang membutuhkan kehadirannya.

Sebelum menjadi pastor, banyak sekali proses yang Bryan dilewati. Setidaknya dia telah menghabiskan waktu kurang lebih 14 tahun untuk menimba ilmu, mulai di Malang hingga ke Vatikan, Roma, Italia.

Cerita bermula ketika Bryan masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Sebagai pelajar yang bersekolah di salah satu SMP negeri di Banyuwangi, Bryan kerap berkumpul dengan teman yang berbeda agama. Suatu ketika, salah satu teman Bryan bertanya mengenai pendalamannya tentang agama Katolik.

Di situlah, hati dan pikiran Bryan mulai bimbang karena merasa sulit dan bingung untuk menjelaskan apa yang dia ketahui tentang agamanya. ”Dari situ muncullah keinginan untuk lebih mendalami agama saya sendiri. Pendidikan awal menjadi seorang pastor dimulai dengan pendidikan di institusi pendidikan dasar bagi para calon pastor bernama Seminari,” ujarnya.

Anak kedua dari tiga bersaudara itu menjelaskan, pendidikan Seminari yang dia tempuh berjalan dalam waktu 4 tahun. Pendidikan itu dimulai ketika dia memasuki usia setara kelas 3 SMP dan lulus pada 3 SMA. ”Lulus dari Seminari, barulah saya yang ingin menjadi pastor dapat melanjutkan pendidikan lebih tinggi yaitu menjadi seorang frater atau calon pastor,” jelasnya.

Salah satu keistimewaan lain, proses pendidikan menjadi seorang pastor ia tempuh di Kota Vatikan. Padahal biasanya, yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri tersebut ialah seseorang yang sudah menjadi pastor yang sudah ditahbiskan, bukan calon pastor.

”Setelah Seminari, saya mendapat perutusan untuk berkuliah ke Vatikan dan menyelesaikannya dalam 3 tahun. Sebenarnya saya tidak tinggal di Kota Vatikan murni. Namun di wilayah zona ekstrateritorial, di Universitas Urbaniana,” ujarnya.

Sarjana Teologi Ilmu Katolik itu mengaku, meski telah menjadi pastor di usia yang tergolong cukup muda dari umumnya seorang imam, yakni minimal 30 tahun, dia tetap berusaha untuk terus bisa masuk di seluruh kalangan jemaatnya. Karena menurutnya, usia bukan lagi halangan untuk memahami berbagai lapisan masyarakat demi mewartakan kebaikan agama.

”Saya mencoba membaur sesuai zaman yang ada. Yang pasti setiap kita membawa kebaikan dan menyebarluaskannya pasti akan lebih banyak kebahagiaan dan keberuntungan yang kita dapat,” kata Bryan.

Saat ini, putra pasangan dari (Alm) FX. Suranta dan Hedwigis Suhestiningsih tersebut telah mendapatkan surat tugas resmi sebagai pastor yaitu di Gereja Maria Damai Lumajang. ”Seorang pastor tidak akan melayani jemaat di kotanya sendiri karena tidak lain agar melepas keberpihakan. Kita sudah bukan lagi hanya milik keluarga, tapi milik seluruh jemaat yang membutuhkan setiap saat,” tuturnya.

Sambil guyon, Bryan mengungkapkan rasa bersyukurnya karena kini telah dipilih Tuhan menjadi seorang pastor. Menurutnya, jika dia memilih untuk menikah dan membangun sebuah keluarga, maka kemungkinan acara syukur hanya akan digelar sekali bersama keluarga besar dan kerabat.

Namun saat ini, ketika dia menjadi seorang imam, seluruh umat Katolik di mana pun dia berada selalu bersyukur dan menyambut suka cita kehadirannya. Hal tersebut juga menambah semangatnya untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. ”Jika saya menikah, mungkin saya hanya akan menjadi milik orang tua dan keluarga kecil saya sendiri. Tapi saat ini, saya milik seluruh jemaat ,” katanya.

Bryan berpesan kepada seluruh generasi muda agar lebih fokus memperbaiki diri dan agama sejak dini. Tidak sibuk memikirkan agama mana yang baik dan mana yang buruk. Karena menurutnya, seluruh agama selalu mengajarkan kebaikan dan membawa kedamaian. ”Tidak ada agama yang membawa umatnya ke jalan yang buruk dan tidak bahagia. Besar harapan untuk generasi sekarang lebih baik fokus membangun diri dan menjadikan agama sebagai rahmat bagi semesta, daripada saling menyalahkan atau ribut satu sama lain,” tandasnya. (sgt/c1)

  Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#paroki #romo #Uskup #gereja #khatolik #maria ratu damai