Serka Yusra dibantu penuh sang istri dalam menjalankan usahanya tersebut. Usaha itu diakuinya memang meniru dari mertuanya yang menetap di Kabupaten Malang. Dia bertekad untuk menekuni usaha yang sama agar bisa menambah penghasilan setiap hari. ”Saya memulai bisnis ini sejak tahun 2007 hingga sekarang. Mulanya modal kecil sekarang sudah bisa pasang karyawan,” ungkap Serka Yusra kemarin (8/5).
Awal tahun merintis, Babinsa Kelurahan Dawuhan ini mampu memproduksi tiga hingga empat kuintal tempe. Sebab kala itu pengusaha tempe tidak sebanyak sekarang. Sehingga, produksinya selalu tinggi. ”Saya sempat ragu mau membuka usaha tempe. Tapi, begitu dijalani tidak sesuai dengan pemikiran saya, ternyata hasilnya juga lumayan besar,” tegasnya.
Setiap sepuluh hari, Yusra harus mengorder sebanyak satu ton bahan kedelai impor. Itu karena produksi tanaman kedelai lokal sudah lama berkurang. Selain itu, dia juga mencari penyedia bahan baku dari Situbondo yang mampu menyediakan kedelai dalam jumlah banyak. ”Dulu masih sulit cari kedelai, sekarang sudah ada MoU. Tiap hari kami tinggal order saja. Langsung disiapkan karena sudah menjadi pelanggan tetap,” tegasnya.
Yusra punya strategi tersendiri dalam memproduksi tempe sehingga awet dan tidak cepat berbulu atau cepat berjamur. ”Kami juga punya rahasia khusus dalam membuat tempe sehingga tidak kedaluwarsa meski tidak dimasukkan alat pendingin,” ungkapnya.
Yusra menyebut, tempe produksinya sudah menjadi langganan di sejumlah pasar Situbondo. Bahkan, dia juga sering menerima pesanan dari Madura yang dititipkan melalui perahu di Pelabuhan Kalbut. ”Setiap Minggu, kami juga kirim sebanyak satu kuintal tempe ke Madura, dan itu sudah berjalan sejak tiga tahun silam,” pungkasnya. (hum/pri/c1) Editor : Muhammad Khoirul Rizal