Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Riyadi, Hidup Sebatang Kara di Rumah Gedhek, Belum Punya e-KTP

Agus Baihaqi • Selasa, 25 April 2023 | 21:02 WIB
SEBATANG KARA: Riyadi di rumahnya dari anyaman bambu di Dusun Krajan, Desa Tampo, Kecamatan Cluring. (Najamudin Arif untuk Radar Genteng)
SEBATANG KARA: Riyadi di rumahnya dari anyaman bambu di Dusun Krajan, Desa Tampo, Kecamatan Cluring. (Najamudin Arif untuk Radar Genteng)
CLURING, Jawa Pos Radar Genteng – Hidup sebatang kara dan dalam kondisi yang memprihatinkan, dialami oleh Riyadi, 65, yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Pria itu selama ini tinggal sendirian di rumah yang terbuat dari anyaman bambu (gedhek) sejak tahun 1980-an.

Riyadi mengaku, rumahnya pernah ditinggali bersama istrinya. Tapi setelah bercerai dengan istrinya, rumahnya ditempati sendirian. “Pada 1980-an pernah menikah, saya tinggal bersama istri,” ungkapnya, Minggu (23/4).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Riyadi mengaku sering membantu atau menjadi buruh tani di sawah. Karena kondisi ekonominya itu, ia tinggal di rumah gedheg yang kondisinya memprihatinkan. Hampir semua dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu, dan sekarang mulai lapuk dan usang. Bahkan, pintu kayunya sudah tak layak karena usia. “Yang penting (rumahnya) masih bisa digunakan,” ujarnya.

Di dalam rumah berukuran hampir 40 meter persegi itu, Riyadi hanya memiliki satu perabotan yang menurutnya berharga. Selebihnya, rumah itu hanya berisi alat bertani. “Amben (kursi panjang dari bambu) ini yang jadi perabotan berharga, selain itu, tidak ada lagi,” katanya.

Di amben yang ditaruh di sebelah becak yang sudah rusak itulah, Riyadi beristirahat untuk melepas lelah setelah seharian bekerja. “Ada kursi dan meja juga, tapi sudah rusak dan tidak bisa dipakai,” tuturnya.

Untuk penerangan, di rumah Riyadi itu hanya ada satu lampu yang dipasang di bagian tengah rumah. “Saya tidak pasang listrik sendiri, untuk penerangan rumah menumpang dari tetangga dekat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Kondisi memprihatinkan Riyadi itu, mengundang keprihatinan. Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra (Kasi PMK) Kecamatan Cluring, Najamudin Arif mengatakan telah memberikan bantuan kepada Riyadi. “Kamis malam (20/4), setelah tahu informasi itu, kami langsung memberikan bantuan,” katanya.

Bantuan yang diberikan itu, hanya untuk membantu mencukupi keperluan keseharian Riyadi. “Selanjutnya, pihak kecamatan akan segera memberikan bantuan dan melakukan pendataan warga kurang mampu kepada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB),” terangnya.

Menurut Arif, Riyadi itu warga asli Desa Tampo. Tapi sampai saat ini belum memiliki e-KTP. “Sejak rekapitulasi e-KTP, Riyadi telah berusaha mendaftar pembuatan e-KTP dengan dibantu kepala dusun di tempatnya,” ungkapnya.

Karena ada masalah data, Riyadi hingga sekarang masih belum berhasil memperoleh e-KTP. “Soal e-KTP, kami akan segera membantunya agar Riyadi bisa kami ajukan datanya ke Dinsos,” katanya.(gas/abi) Editor : Agus Baihaqi
#sebatang kara #anyaman bambu #kisah hidup #buruh tani