Riyadi mengaku, rumahnya pernah ditinggali bersama istrinya. Tapi setelah bercerai dengan istrinya, rumahnya ditempati sendirian. “Pada 1980-an pernah menikah, saya tinggal bersama istri,” ungkapnya, Minggu (23/4).
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Riyadi mengaku sering membantu atau menjadi buruh tani di sawah. Karena kondisi ekonominya itu, ia tinggal di rumah gedheg yang kondisinya memprihatinkan. Hampir semua dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu, dan sekarang mulai lapuk dan usang. Bahkan, pintu kayunya sudah tak layak karena usia. “Yang penting (rumahnya) masih bisa digunakan,” ujarnya.
Di dalam rumah berukuran hampir 40 meter persegi itu, Riyadi hanya memiliki satu perabotan yang menurutnya berharga. Selebihnya, rumah itu hanya berisi alat bertani. “Amben (kursi panjang dari bambu) ini yang jadi perabotan berharga, selain itu, tidak ada lagi,” katanya.
Di amben yang ditaruh di sebelah becak yang sudah rusak itulah, Riyadi beristirahat untuk melepas lelah setelah seharian bekerja. “Ada kursi dan meja juga, tapi sudah rusak dan tidak bisa dipakai,” tuturnya.
Untuk penerangan, di rumah Riyadi itu hanya ada satu lampu yang dipasang di bagian tengah rumah. “Saya tidak pasang listrik sendiri, untuk penerangan rumah menumpang dari tetangga dekat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Kondisi memprihatinkan Riyadi itu, mengundang keprihatinan. Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra (Kasi PMK) Kecamatan Cluring, Najamudin Arif mengatakan telah memberikan bantuan kepada Riyadi. “Kamis malam (20/4), setelah tahu informasi itu, kami langsung memberikan bantuan,” katanya.
Bantuan yang diberikan itu, hanya untuk membantu mencukupi keperluan keseharian Riyadi. “Selanjutnya, pihak kecamatan akan segera memberikan bantuan dan melakukan pendataan warga kurang mampu kepada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB),” terangnya.
Menurut Arif, Riyadi itu warga asli Desa Tampo. Tapi sampai saat ini belum memiliki e-KTP. “Sejak rekapitulasi e-KTP, Riyadi telah berusaha mendaftar pembuatan e-KTP dengan dibantu kepala dusun di tempatnya,” ungkapnya.
Karena ada masalah data, Riyadi hingga sekarang masih belum berhasil memperoleh e-KTP. “Soal e-KTP, kami akan segera membantunya agar Riyadi bisa kami ajukan datanya ke Dinsos,” katanya.(gas/abi) Editor : Agus Baihaqi