Keyakinan akan makam Prabu Tawang Alun itu, diuraikan melalui kisah singkat yang disampaikan salah satu tokoh warga sekitar, Suyanto, 60. Menurutnya, keberadaan makam Tawang Alun itu dari cerita turun-temurun lintas generasi dan melekat hingga sekarang. “Ini kan cerita dari generasi ke generasi. Awalnya, Mbah Martoredjo (salah satu sesepuh) dari Yogyakarta mimpi saat membabat Alas Kedawung (Dusun Sukodadi),” katanya.
Di mimpinya itu, Mbah Martoredjo yang kerap berpindah lokasi untuk membuka alas belantara itu diminta berhenti di sebuah tempat. Di tempat itu, ada aliran sungai yang di dekatnya ada makam dan diyakini makam Prabu Tawang Alun. “Saat Mbah Martoredjo datang, kedua makam ini sudah ada. Makam itu berada dekat sungai dan itu sesuai dengan mimpinya,” ujarnya.
Saat ini makam yang diyakini pesarean Prabu Tawang Alun itu, oleh warga dirawat dengan baik. Bahkan, makam itu baru selesai dibangun. “Baru dilakukan pemugaran dan dibangun lebih baik,” cetus Irawan Suyanto, 46, ketua pengurus makam Prabu Tawang Alun.
Untuk menyatakan eksistensi makam Prabu Tawang Alun, di kampung itu setiap tahun dilakukan kirab budaya tumpengan dan takir sewu. Tradisi itu, sudah dilakukan sejak lama. “Ada sejarah dibalik pelaksanaan event akbar itu,” jelasnya.
Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi datang ke tempatnya untuk mencari makam Prabu Tawang Alun. “Lalu ditunjukkan ke makam Prabu Tawang Alun di pemakaman umum Kedawung,” katanya.
Perwakilan Disbudpar itu mengadakan ritual itu dengan membawa takir. Selanjutnya, diletakkan bunga dalam takir dan disulut api. “Muncul api setinggi dua meter yang membara layaknya api unggun,” imbuhnya.
Ritual itu dilakukan berdasarkan petunjuk dari kontingen yang kesurupan saat mengikuti event budaya di tingkat Provinsi Jawa Timur. Kontingen itu, membawakan cerita kolosal berjudul Langit Mendung di Atas Kedawung yang lakon utamanya Prabu Tawang Alun. “Karena ada suara (kontingen kesurupan) yang menyatakan makam Prabu Tawang Alun di Kedawung, mereka (Perwakilan Disbudpar) datang ke sini,” terangnya.
Dari peristiwa itulah, keyakinan masyarakat Sukodadi, Desa Sraten makin menguat, dan akhirnya menggelar event untuk mengenalkan makam Prabu Tawang Alun. “Akhirnyadigelar kirab budaya tumpengan dan takir sewu,” katanya.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disbudpar Banyuwangi, Dewa Alit Siswanto menyatakan tim cagar budaya telah melakukan tinjauan ke makam yang diyakini warga Dusun Sukodadi, Desa Sraten sebagai makam Prabu Tawang Alun. “Dari hasil kajian tim cagar budaya menyimpulkan Prabu Tawang Alun hidup di masa kerajaan Hindu-Buddha. Pada masa itu, orang yang meninggal dilakukan pengabenan. Tim sepakat bahwa jasad (Prabu Tawang Alun) dikremasi sehingga tidak ada makam,” ujarnya.
Tempat di Kedawung yang diyakini makamnya Prabu Tawang Alun itu, dimungkinkan sebuah petilasan. Namun, tim arkeolog yang dikirim tidak menemukan situs ataupun bebatuan kuno yang di tempat itu. “Bebatuan yang digunakan sebagai makam tidak menunjukkan kekunoannya. Sehingga, tim menyimpulkan itu bukan makam Prabu Tawang Alun,” katanya.
Meski disimpulkan bukan Makam Prabu Tawang Alun, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan kajian ulang oleh tim ahli cagar budaya bentukan pemerintah kabupaten. “Jika ada temuan ataupun benda baru yang menandakan korelasi dengan Prabu Tawang Alun di lokasi tersebut,” pungkasnya.(abi) Editor : Gerda Sukarno Prayudha