Di antara para santri yang memilih bertahan di pesantren, dan tidak pulang saat liburan itu, ada yang ingin memaksimalkan hapalan Alquar. “Mau nerusin hapalan, sekarang masih di juz 10,” ujar salah satu santri putri, Indah Kurniawati, 17.
Selain alasan itu, santri asal Desa Mekar Jaya, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, itu juga ingin merasakan sensasi Lebaran di pesantren. “Saya mondok sudah lima tahun, ini pertama kali tidak pulang saat liburan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Ditemui saat mengaji di makam pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari KH Mukhtar Syafaat Abdul Gofur, Indah juga menyebut alasan jarak yang jauh ke rumahnya menjadi alasan. Apalagi ini sudah kelas dua dan tinggal meneruskan sekolahnya setahun lagi. “Meski bisa naik pesawat, tapi rasanya capek di jalan,” ungkapnya seraya menyebut akan pulang ketika sudah lulus.
Santri lainnya, Nada Cantika, 16, mengaku tidak mudik saat liburan karena ingin memaksimalkan pembelajarannya di pesantren selama liburan ini. “Kalau di rumah pasti lupa belajar, karena keasyikan dengan teman-teman, makanya saya izin ke Mama tidak pulang tahun ini,” kata gadis asal Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, ini.
Saat izin tidak pulang, terang dia, sempat ditolak oleh orang tuanya. Tapi karena tekadnya sudah bulat, ia tetap memilih tidak mudik. “Ya sempat dimarahin, karena Mama kangen, tapi saya tetap tidak pulang,” ujarnya.
Lurah Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Ansor mengungkapkan, ada sekitar 55 santri yang memilih tidak mudik tahun ini. Dari 55 santri itu, 20 santri perempuan, dan 35 santri laki-laki. “Peraturannya tetap sama meski liburan, bedanya para santri bisa membawa handphone (HP),” katanya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi