Siang itu di Dusun Gunungsari, Desa/Kecamatan Bangorejo, cuaca cukup panas dan menyengat. Matahari seolah tepat berada di atas kepala. Cuaca yang tidak bersahabat itu, wartawan koran ini beristirahat dengan berteduh di salah satu rumah tua milik warga.
Rumah yang sederhana itu, dari luar tampak asri. Di bagian depan, ada pohon Dewandaru yang rindang dengan buah berwarna merah. Rumah tua itu milik Musringah, 90. “Ayo masuk sini,” cetus nenek Musringah yang biasa disapa Mbah Mus.
Setelah kenalan dan ngobrol panjang, nenek yang sudah lama ditinggal meninggal oleh suaminya itu menyampaikan di rumahnya ada rumah semut dengan ukuran besar. “Ada pundung (rumah semut) besar,” katanya sambil menunjuk ke ruangan kecil di ujung depan rumah.
Karena penasaran, wartawan Jawa Pos Radar Genteng masuk ke ruangan berukuran 1,5 meter kali 1,5 meter itu. Benar saja, di pojok ruangan kecil itu ada gundukan tanah yang ternyata rumah semut berdiameter satu meter dan tinggi sekitar 90 centimeter. “Itu sudah ada sejak tahun 1990,” ujar Mbah Mus.
Sambil membetulkan duduknya, Mbah Mus menceritakan kemunculan rumah semut yang mulanya gundukan tanah berukuran kecil. Tapi, lama-lama rumah semut seperti gundukan tanah itu terus membesar dan tinggi. “Yang aneh itu, tidak ada semutnya, tapi terus membesar,” katanya sambil tertawa.
Menurut cerita Mbah Mus, sebelum ada rumah semut itu, mendiang suaminya, Kasiman saat tidur bermimpi. Dalam mimpinya, didatangi perempuan berpakaian adat Jawa zaman kuno yang katanya mau bersemayam di rumahnya. Karena dianggap bunga tidur, mimpi itu tidak diindahkan. “Sama Mbah Kasiman dibiarkan, tapi tidak lama muncul pundung yang semakin membesar itu,” terang Mbah Mus.
Sejak ada rumah semut itu, sering muncul sesuatu yang tidak masuk akal. Di dekatnya sering muncul pusaka-pusaka yang entah datangnya dari mana. “Dulu, waktu masih sering ditabur bunga, ada pusaka berwujud keris muncul,” katanya.
Pusaka yang muncul tiba-tiba itu, hanya dibiarkan hingga hilang lagi. Mbah Mus dan Mbah Katiman tidak pernah mengambilnya. Tapi, juga pernah menyerahkan pada orang yang ingin merawatnya. “Tidak pernah diambil, untuk orang lain saja,” katanya.
Selain pusaka, hal aneh lainnya juga terjadi pada pohon Dewandaru yang tumbuh sekitar satu meter dari rumah semut itu. “Saat pohon itu ukurannya masih kecil, tingginya sekitar 50 centimeter, oleh Mbah Katiman pernah dipindah ke belakang rumah,” tuturnya.
Pohon itu sengaja dipindah di belakang rumah, agar bisa dibuat untuk peneduh. Anehnya, sehari setelah pohon itu dipindah, ternyata kembali sendiri di dekat rumah semut. “Kata orang dulu, pohon itu teman dari pundung, jadi tidak mau dipindah,” ungkapnya. (gas/abi) Editor : Agus Baihaqi