Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ada Sarung BHS hingga Miniatur Rumah di Museum Budaya Oseng Kemiren

Syaifuddin Mahmud • Rabu, 8 Februari 2023 | 21:21 WIB
ANTIK: Barang-barang bersejarah masyarakat Suku Osing di Museum Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.   (Gareta Wardani/Radar Banyuwangi)
ANTIK: Barang-barang bersejarah masyarakat Suku Osing di Museum Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.   (Gareta Wardani/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Bumi Blambangan kaya akan warisan budaya. Demi menjaga peninggalan sejarah, dibutuhkan upaya untuk mengamankan warisan leluhur. Seperti museum kebudayaan di Desa Kemiren yang menyimpan benda-benda bersejarah asli desa setempat.

Museum tersebut berlokasi di Jalan Jambesari, Gang Nurung Cilik, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Hanya berjarak 5 kilometer dari arah kota Banyuwangi dengan waktu tempuh sekitar 9 menit. Museum tersebut tergolong mini dengan luas bangunan 7 x 10 meter.

Museum dengan nuansa adat Oseng yang begitu kental itu menyajikan berbagai barang yang berusia puluhan tahun asli daerah setempat. Layaknya bangunan suku Oseng lainnya, bagian depan museum dihiasi dengan ornamen kayu dan taman yang dilengkapi kolam ikan.

Memasuki museum, tampak deretan benda-benda lawas yang disimpan dengan rapi. Barang-barang kuno tersebut dimasukkan dalam etalase kaca serta disediakan barcode berisi informasi setiap benda. Ada sarung BHS, Lontar Yusuf, keris, kain tenun, batik, rumah adat Oseng, dan miniatur barong.

Pengelola museum Desa Kemiren, Dedy Wahyu Hernanda menceritakan, sejarah dibangunnya museum tersebut berawal dari pandemi Covid-19. Bangunan yang dulunya homestay itu mulai diubah oleh masyarakat sekitar untuk menyimpan benda bernilai sejarah. ”Karena ada pandemi, bangunan kami ubah konsepnya menjadi museum mini untuk menyediakan wisata edukasi budaya Oseng di Banyuwangi,” ujarnya.

Jangan membayangkan benda yang ada di museum berasal dari hasil pembelian lelang. Seperti sarung BHS yang terkenal dengan harganya yang mencapai jutaan rupiah. Namun, bukan permasalahan harga yang membuat sarung tersebut tersimpan rapi di etalase kaca. Melainkan, cerita dan riwayat sarung berwarna ungu dan cokelat tersebut.

”Sarung yang ada di sini merupakan cetakan kedua dari pabriknya tahun 1970-an. Bahkan dengan sarung itu, orang zaman dulu dapat menukarnya dengan sawah,” imbuh pria berusia 29 tahun itu.

Selain sarung, terdapat beberapa benda lain yang ada di museum tersebut. Antara lain Lontar Yusuf, peralatan kinangan dari kuningan, keris, kain tenun, kain batik, miniatur rumah adat Oseng, miniatur barong, dan lainnya. Semua benda yang ada di museum memiliki makna yang mendalam.

Misalnya, kain batik yang tersimpan di museum tidak hanya produksi Banyuwangi. Ada juga batik keraton dari Jogjakarta (batik parang), batik zaman Belanda yang bermotif flora dan fauna, dan batik zaman Jepang yang terkenal dengan batik siang malam. Juga batik dengan gambar dewa-dewa mitologi masyarakat Tiongkok hingga batik gajah oling. Seluruh batik tersebut menggambarkan perkembangan persebaran batik dari masa ke masa di Indonesia.

Sedangkan peralatan kinangan, keris, dan miniatur rumah memiliki makna tersirat bagi suku Oseng. Ketua Adat Desa Kemiren Suhaimi menjelaskan, bagi masyarakat Kemiren, dalam sebuah pernikahan pria digambarkan sebagai keris dan miniatur rumah memiliki makna sebagai pelindung bagi keluarganya. Sedangkan di dalam rumah terdapat berbagai peralatan seperti kinangan. ”Perempuan perlu untuk dilindungi karena rapuh seperti benda tersebut,” jelas Suhaimi.

Terakhir adalah tiga miniatur rumah Oseng. Jenisnya cerocogan, tikel balung, dan baresan. Rumah bertipe cerocogan memiliki dua atap yang mengandung makna dua orang yang akan menikah harus memiliki kecocokan satu sama lain. ”Sedangkan tikel balung memiliki empat atap berarti adanya kesepakatan dan hubungan antara kedua orang tua dari masing-masing sejoli tersebut,” ungkap Suhaimi.

Rumah baresan yang memiliki tiga atap mengisyaratkan dalam pernikahan dibutuhkan tiga komponen. Yakni, mempelai pria dan wanita, serta wali. ”Sampai saat ini budaya rumah Oseng masih terjaga sehingga kerukunan tetap terjaga,” tandas Suhaimi. (rei/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#museum #budaya oseng #kemiren #banyuwangi